Pandangilah Wajahnya, dibaliknya Ada Rahmat Allah !

Wajah orangtua kita boleh jadi tidak secantik dan semenarik artis Korea atau India. Tidak seputih dan sebersih wajah artis Eropa. Tidak pula se-glowing artis-artis papan atas Indonesia.

Namun ingatlah, di wajah mereka ada limpahan pahala. Di wajah mereka ada jalan surga yang dhadirkan oleh Rabb kita. Di wajah mereka pun ada aneka kebaikan yang bisa diambil sepuasnya oleh putra-putrinya.

Rasulullah saw. bersabda:

“Lima pandangan ini termasuk ibadah: memandangi musḥaf; memandangi Ka‘bah; memandangi (wajah) kedua orangtua; memandangi zamzam dan dia menghapus segala kesalahan, dan memandangi wajah orang ‘alim (ulama).” (HR Ad-Dāruquthnī)

“Tidaklah seseorang anak yang berbakti memandang kepada kedua orangtuanya dengan rasa cinta kasih sayang melainkan Allah menuliskan baginya pahala haji mabrūr pada setiap pandangan.” (HR Al-Baihaqi)

Tasq 05 Agustus 2021

4 Kunci Rezeki

Sahabat TasQ, Dalam Zâdul Ma’ad, Al-Hafizh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah menasihatkan tentang jalan-jalan rezeki yang bisa kita susuri. Apa yang beliau katakan?

“Ada empat hal yang bisa mendatangkan rezeki, yaitu: (1) qiyamullail atau shalat malam, (2) memperbanyak istighfar pada waktu sahur, (3) membiasakan diri untuk bersedekah, dan (4) senantiasa berzikir pada awal pagi dan petang hari.”

#Ingin berlangganan Tausiyah Harian dari Team Tasdiqul Quran,

#INFORMASI TAUSIYAH HARIAN

📲HUBUNGI CHAT WA : 0812.2367.9144

Semoga informasi ini bermanfaat ya.

Jangan Sepelekaan Niat

Jangan sepelekan niat, dia bisa mengubah status sebuah amal. Dia pun bisa menjadi penentu diterima tidaknya sebuah amal. Maka, tidaklah sebuah amal dilakukan, kecuali ada niat yang harus didahulukan. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya, setiap amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang dia niatkan …” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Syaikh Muhammad Hammud An-Najdi, dalam sebuah tulisannya, menjelaskan tentang bagaimana niat mempengaruhi status sebuah amal. Terkait hal ini, ada tiga tingkatan niat.

Pertama, niat akan membedakan antara ibadah dan adat kebiasaan. Orang yang mandi sekadar untuk mendapatkan kesegaran, maka tidak hilang hadas besarnya karena dia tidak meniatkannya untuk itu.

Kedua, niat akan membedakan ibadah yang satu dengan lainnya. Maka, niat bisa membedakan mana ibadah wajib, mana ibadah sunnah, mana pula yang dilakukan karena nazar atau lainnya.

Ketiga, niat akan membedakan mana amal yang dilakukan karena riya (dengan yang ikhlas karena Allah) atau karena ingin dunia (dengan karena ingin akhirat).

Uban Utusan Zat Pemilik Kehidupan

Kematian adalah kepastian. Sebab kedatangannya beraneka ragam, bisa karena wabah penyakit (pandemi), sakit, kecelakaan, terbunuh, atau apapun. Namun yang jelas, sebelum kedatangannya kepada seseorang, kematian kerap memberikan pertanda bahwa dia akan segera datang.

Salah satunya lewat uban yang tumbuh di kepala atau jenggot. Maka, uban adalah utusan yang Allah kirim kepada seorang hamba untuk mengabarkan kalau waktu kepulangannya sudah sangat dekat. Sehingga, dia dituntut untuk lebih serius mempersiapkan bekal.

Ada nasihat yang sangat indah dari Imam Ibnul Jauzi rahimahullâh. Beliau berkata, “Wahai Fulan, uban itu bagaikan azan dan maut adalah iqamat, sedangkan engkau belum juga bersuci.” (Al-Mudhisy, 1/293)

Segelas Air Pengundang Rahmat Allah

Rumah adalah medan jihad. Tempat untuk mendulang pahala. Di rumah pula suami istri bisa saling berlomba untuk mendapatkan rahmat dan karunia Allah Azza wa Jalla.

Maka, dalam banyak hadits, terungkap bagaimana Rasulullah saw. mendorong para sahabatnya untuk berbuat baik kepada pasangannya. Beliau menjajikan pahala dan aneka kebaikan bagi suami yang berusaha membahagiakan istrinya, atau istri yang memuliakan suaminya. Bahkan, dengan sekadar memberikan segelas air minum.

Dari Al-Irbadh bin Sariyah ra. Rasulullah saw. bersabda, “Seorang suami pasti akan diberi pahala (oleh Allah) ketika memberi minum istrinya.” (HR Ahmad)

Perbesar Nilai Amal dengan Meluruskan Niat

Sungguh beruntung seseorang yang amalannya kecil menurut penilaian manusia akan tetapi besar dalam pandangan Allah. Dan, amat merugi seseorang yang amalannya besar dalam pandangan manusia akan tetapi kecil, bahkan sia-sia, menurut penilaian Allah.

Bagaimana bisa? Satu penyebabnya ada pada niat yang melandasinya. Maka, Syaikh Abdullah bin Alawi bin Muhammad Al-Haddad menasihatkan:

“Betapa banyak perbuatan yang sedikit menjadi banyak nilainya karena niat yang baik. Dan betapa banyak perbuatan yang banyak menjadi sedikit nilainya, karena niat yang buruk. (Maka), Siapa yang niatnya baik, niscaya harapannya akan tercapai.”

Hadist yang Menjadi Poros Ajaran Islam

Al-Imam Sulaiman bin Al-Asy’ats As-Sijistani atau lebih dikenal dengan sebutan Imam Abu Dawud, salah seorang ahli hadits terkemuka, mengungkapkan:

“Aku menulis 500.000 hadits dari Rasulullah saw. Lalu, aku pilih sebagaimana yang ada di dalam kitab ini (As-Sunan). Aku kumpulkan 4.800 hadits di dalamnya dengan menyebutkan mana hadits yang sahih, yang serupa, atau mendekati sahih. Dari 4.800 hadits tersebut, manusia cukup memiliki empat hadits untuk agamanya.”

Pertama, “Innamal a’malu bin-niyyati … sesungguhnya setiap amal itu bergantung kepada niat.”

Kedua, min husni islamil-mar’i tarku maa laa ya’nih … di antara kebaikan keislaman seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.

Ketiga, laa yakuunul-mu’minu mu’minan hattaa yardhaa li akhiihi ma yardhaahu li nafsih … seorang mukmin tidak akan sempurna imannya sampai dia ridha kepada saudaranya sebagaimana dia ridha kepada dirinya sendiri.

Keempat, al-halaalu bayyinun wal-haraamu bayyinun wa baina dzaalika umuurun musytabihaatun … yang halal sudah jelas dan yang haram pun sudah jelas, dan di antara keduanya terdapat hal-hal syubhat (meragukan).”

(Al-Hafizh Ibnul Jauzi, Shifatus Shafwah)