Diawali dari Memperbaiki Diri

Pasangan kita adalah cerminan diri kita. Buruknya kualitas pasangan, itu menunjukkan buruknya kualitas diri kita.

“… dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” (QS An-Nûr, 24:26)

Maka, jika ingin mengubah pasangan menjadi lebih baik, awalilah dengan memperbaiki diri. Tuntutlah diri sendiri sebelum menuntut orang lain.

Apa yang harus diperbaiki? Ilmunya, ibadahnya, sikap dan adabnya, pelayanannya, perhatiannya, kesabarannya, termasuk pula kesetiaannya.

Ikat dan Perbanyaklah Nikmat dengan Syukur

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’.”

Sahabat TasQ, Inilah janji Allah sebagaimana termakstub dalam surat Ibrahim, 14:7.

Maka, siapapun yang ingin dilanggengkan dalam nikmat, ditetapkan dalam kebaikan, dan ditambahkan limpahan rezeki, wajib baginya untuk memperbanyak untuk syukur kepada Allah, baik lewat lisan maupun perbuatan.

Itulah mengapa, syukur kerap dimaknai sebagai “upaya untuk mengikat (nikmat) yang sudah ada dan memburu (nikmat) yang belum ada atau yang telah hilang”.

Dengan syukurlah, nikmat yang sudah ada bisa langgeng, bahkan bertambah dan terus bertambah.

Dua Kalimat yang Amat Dicintai Ar-Rahman

Allah Ta’ala berwasiat kepada Rasulullah saw. beserta umatnya, “… dan bertasbihlah dengan memuji Rabbmu sebelum matahari terbit dan sebelum terbenam. Dan, bertasbihlah kepada-Nya pada malam hari dan setiap selesai shalat.” (QS Qaf, 50:39-40)

DI antara bentuk tasbih yang sangat utama lagi amat dahsyat pahalanya adalah kalimat subhânallâhi wa bihamdihi subhânallâhil ‘adzîm (Mahasuci Allah dan segala pujian untuk-Nya. Mahasuci Allah Zat Yang Mahaagung).

Rasulullah saw. bersabda, “Ada dua kalimat yang ringan diucapkan lisan, berat ditimbangan, dan dicintai oleh Ar-Rahmaan (yaitu): subhaanallaahi wa bihamdihi subhaanallaahil ‘adzim.” (HR Muttafaqun ‘Alaih)

Bimbingan Orangtua Berlaku Sepanjang Usia

Bagaimana keadaan rumah kita? Apakah lebih kental nuansa “akhiratnya” ataukah lebih tampak nuansa “duniawinya”. Sesungguhnya, rumah adalah cerminan penghuninya.

Di rumah pecinta amal saleh, akan tampak aneka jejak kesalehan. Adapun di rumah pecinta amal salah, akan tampak beragam jejak kemaksiatan.

Maka, ada satu nasihat berharga dari Malik bin Dinar:

“Orang berilmu adalah orang yang apabila engkau mengunjungi rumahnya, sedangkan engkau tidak mendapatinya, maka rumahnya akan menceritakan keadaannya kepadamu.

Engkau akan melihat tikar (sajadah) untuk shalat, mushaf dan tempat wudhu di samping rumahnya. Engkau pun akan melihat bekas-bekas akhirat ada di sana.”

(Al-Hafizh Ibnul Jauzi, Shifatush Shafwah, 3:286).

Adab-Adab Bersilaturahim

 Syaikh Abu Thalib Al-Makki, dalam karyanya yang berjudul ‘Ilm Al-Qulûb (Terjemahan: Rahasia Ikhlas) mengungkapkan dialog antara seorang guru dengan salah satu muridnya.

Kala itu, sang guru melihat muridnya tersebut hendak pergi ke rumah temannya. Dia pun berkata, “Hendak ke manakah kamu?”

Murid ini menjawab, “Aku ingin mengunjungi si Fulan.”

Guru pun bertanya lagi, “Apakah kamu tahu penyakit (yang dapat merusak nilai kebaikan dari) berkunjung (bersilaturahim)?”

Murid ini menjawab, “Tidak. Aku tidak mengetahuinya!”

“Ketahuilah Nak,” ujarnya, “Orang yang mengunjungi saudaranya untuk mendapatkan lima perkara, niscaya kunjungannya tidak diridhai (tidak mendapatkan apa-apa) dari Allah Ta’ala.

Kelimanya adalah: (1) Berkunjung dengan niat mencari makan (meminta-minta). (2) Berkunjung dengan niat agar dilihat orang demi popularitas dan kebanggaan diri.

(3) Berkunjung dengan niat untuk memperkenalkan (identitas) diri dan kedudukan agar dihargai dan dimuliakan (oleh yang dikunjungi). (4) Berkunjung dengan niat mendapatkan pujian orang lain (bukan karena Allah tapi karena dorongan riya). Dan, (5) berkunjung dengan niat untuk mendapatkan sesuatu (karena ketamakan).”

Inilah Jumlah Huruf dalam Al-Quran

Jangan sepelekan Al-Quran walau hanya satu huruf sekalipun. Sesungguhnya, dari satu saja huruf Al-Quran terkandung banyak kebaikan dan keajaiban.

Salah satunya adalah hadirnya pahala saat membacanya. Satu huruf dari Al-Quran yang kita baca bernilai (minimal) sepuluh kebaikan (HR At-Tirmidzi). Maka, berapa banyak kebaikan yang akan didapatkan jika yang dibaca satu mushaf?

Pertanyaannya, berapakah jumlah huruf dalam Al-Quran?

Menurut Imam Muhammad Idris Asy-Syafi’i (dalam Majmu Al-Ulum wa Mathli’u An-Nujum), jumlah total huruf dalam Al-Quran adalah 1.027.000 huruf.

Dari jumlah tersebut, ا Alif adalah yang terbanyak (48.740 huruf), kemudian ل Lam (33.922 huruf), م Mim (28.922 huruf), ح Ha’ (26.925 huruf) dan ي Ya’ (25.717 huruf).

Adapun yang paling sedikit adalah adalah ظ Dza’ (842 huruf), kemudian ط Tha’ (1204 huruf), غ Ghain (1229 huruf), ت Ta’ (1404 huruf) dan خ Kha’ (1503 huruf).

Lima Golongan Manusia Terkait Ilmu

Tidak setiap orang menjadi ulama. Akan tetapi, setiap orang akan mendapatkan keberkahan dari para ulama yaitu dengan menimba dan mengambil ilmu dari mereka.

Andaipun tidak, berusaha mengamalkan apa yang mereka sampaikan walau hanya sedikit. Atau setidaknya, jangan pernah membenci ulama.

Ada satu nasihat dari Al-Imam Syamsuddin Muhammad Adz-Dzahabi, dalam Kitab Al-Kabâir. Beliau berkata:

“Jadilah seorang ‘alim (orang yang berilmu), muta’alim (orang yang menuntut ilmu), mustami’ (orang yang mendengarkan ilmu), atau muhibb (orang yang mencintai ilmu).

Dan, janganlah menjadi orang yang kelima sehingga engkau celaka. Dia adalah orang yang tidak berilmu, tidak mau menuntut ilmu (tidak mau belajar), tidak mendengarkan ilmu, dan tidak pula mencintai orang yang berilmu (ulama).”