Ke Mesjid Boleh, Pakai Wewangian Jangan!

Tidak ada larangan bagi seorang wanita untuk pergi ke masjid dan beribadah di dalamnya. Hanya saja, ada rambu-rambu yang harus sangat diperhatian. Salah satunya adalah tidak memakai wewangian yang semerbak.

Rasulullah saw. bersabda, “Apabila kalian (kaum perempuan) hendak pergi ke masjid, janganlah memakai wewangian.” (HR Muslim)

Terkait hal ini, dengan merujuk sejumlah hadits lainnya, Imam An-Nawawi (dalam Syarh An-Nawawi) menyebutkan beberapa syarat tentang kebolehan kaum wanita shalat di masjid:

Pertama, tidak memakai wewangian, perhiasan dan pakaian untuk pamer.

Kedua, tidak berbaur (ikhtilat) dengan kaum laki-laki karena sangat rentan terhadap fitnah.

Ketiga, tidak ada hal yang dikhawatirkan akan menimbulkan gangguan dan lainnya di perjalanan.

Saat Orangtua Diperbolehkan Mengambil Kembali Apa yang Telah Dia Berikan kepada Anaknya

Ada banyak hal yang tidak halal dilakukan oleh seorang Muslim. Satu di antaranya adalah meminta atau mengambil kembali apa yang sudah diberikannya kepada orang lain.

“Pemisalan orang yang memberikan sesuatu kemudian memintanya kembali, itu sama seperti seekor anjing yang

makan. Setelah kenyang dia memuntahkan makanannya kemudian memakan muntahannya kembali.” (HR At-Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, dan lainnya)

Namun, hal ini tidak berlaku bagi para orangtua. Karena keutamaan dan kedudukannya di hadapan sang anak, dia diberikannya kepada anak.

diperbolehkan untuk meminta atau mengambil kembali apa yang sudah

Nabi saw. bersabda, “Tidak halal bagi seseorang yang memberikan pemberian kemudian dia memintanya kembali, kecuali pemberian orangtua kepada anaknya.” (HR At-Tirmidzi dari Ibnu Umar)

Apa Postingan Terakhir Anda

Berhati-hatilah saat membuat status atau postingan di medsos, baik berupa tulisan, imej atau video.

Selain nilai pahala atau dosanya telah tercatat dalam kitab catatan amal. Boleh jadi, itulah status kita yang terakhir yang akan dikenang oleh keluarga, karib kerabat, dan dibagikan oleh teman dan orang-orang di sekitar kita.

Beruntunglah orang yang postingan terakhirnya berisi kebaikan atau sesuatu yang bisa mengingatkan orang kepada Allah.

Namun, merugilah orang yang postingannya berisi keburukan, maksiat, kebencian, dan beragam hal yang mengotori hati dan pikiran. Kita (sebagai penulisnya) sudah meninggal, akan tetapi efek buruknya senantiasa kekal.

Maka, jangan memposting sesuatu, kecuali yang baik-baik. Bukankah dalam perkataan, tulisan, atau postingan tergambar kualitas diri kita?

Bukankah dalam setiap perkataan, tulisan, atau postingan ada perhitungan dan hisabnya yang harus kita pertanggungjawabkan?

Orang yang Paling Merugi

Di antara orang yang merugi adalah dia yang sibuk mengumpulkan amal kebaikan, entah melalui sedekah, shalat, tilawah, shaum, dan lainnya.

Namun, setelah pahala terkumpul, dia membagikannya secara cuma-cuma kepada orang lain sampai saldo pahalanya berkurang drastis, bahkan habis.

Bagaimana bisa?

Ghibahlah jawabannya. Gosiplah penyebabnya. Saat berghibah, saat itu pula kita mentransfer pahala kepada orang yang dighibahi. Jika kita tidak lagi pula saldo pahala, keburukan orang yang dighibahi ditransfer ke rekening kita. Rugi bukan?

Ada satu perkataan dari Abdurrahman bin Mahdi rahimahullah:

“Andai bukan karena benci maksiat kepada Allah, (niscaya aku akan lakukan maksiat). Dan sungguh, aku berangan-angan andai semua penduduk kota ini mengghibahku (menggosipkanku).

Tidak ada sesuatu yang lebih membahagiakan melebihi orang yang melihat pahala yang tertulis di catatan amalnya, sementara dia tidak pernah mengamalkannya.”

(HR Al-Baihaqi, Syu’abul Iman, 5/305)

Ampunan Allah sebagai Cita-Cita Tertinggi

Apa cita-cita Anda, saya, dan kita semua di dunia? Ada beragam pastinya. Namun, bagi orang yang mengenal Allah, tiada yang paling dicita-citakan olehnya kecuali dia bisa mendapatkan ampunan dari Allah Al-Ghaffar, terkhusus di akhir kehidupannya.

Ada apa dengan ampunan Allah?

Sesungguhnya, ampunan Allah adalah pembuka semua kebaikan di dunia dan di akhirat. Ampunan Allah adalah gerbang solusi, sumber ketenangan hati, sekaligus jalan tol diraihnya rezeki.

Ada satu nasihat dari Yahya bin Mu’adz yang layak untuk kita jadikan target kehidupan. Beliau berkata, “Bukan orang yang mengenal Allah, orang yang tidak menjadikan ampunan rabbnya sebagai harapannya yang tertinggi.” (Shifatush Shafwah)

Bahaya dari Makan Terlalu Banyak

Berhati-hatilah dari terlalu banyak makan sehingga kekenyangan. Sesungguhnya, terlalu kenyang adalah salah satu pintu bagi setan untuk mengikat manusia sehingga mereka terlalaikan dari ketaatan kepada-Nya.

Al-Hafizh Ibnul Jauzi, dalam kitab Talbis Iblis, menukilkan sebuah riwayat dari Tsabit Al-Banani rahimahullâh. Dia mengatakan bahwa Iblis pernah muncul di hadapan Nabi Zakaria bin Yahya as. Beliau melihat banyak barang yang menggantung pada diri Iblis.

Nabi Yahya pun bertanya, “Hai Iblis, apakah barang-barang yang menggantung pada dirimu itu?”

Iblis menjawab, “Ini adalah nafsu-nafsu yang aku pergunakan untuk mengail anak Adam.”

Nabi Yahya bertanya kembali, “Apakah ada yang ditujukan kepadaku?”

Iblis menjawab, “Boleh jadi perutmu kenyang, sehingga aku akan membuatmu merasa berat untuk melaksanakan shalat dan zikir (kepada Allah).”

“Adakah selain itu?” tanya Nabi Yahya.

Iblis menjawab, “Tidak ada, demi Allah.”

Yahya berkata, “Demi Allah, selamanya aku tidak akan membuat perutku kenyang karena makanan.”

Iblis pun berkata, “Demi Allah, aku sama sekali tidak akan lagi memberi nasihat kepada orang Muslim.”

Jadilah Pakaian untuk Pasanganmu

“… mereka (para istri) adalah pakaian (libas) bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka …” (QS Al-Baqarah, 2:187)

Apa makna pakaian di sini? Sejatinya dia adalah sesuatu yang lebih dari sekadar hubungan seksual di antara suami istri. Keduanya hendaknya saling menaungi dengan keluasan kasih sayang dan keinginan untuk senantiasa bersatu.

Suami mampu menjadikan istrinya taat kepadanya sehingga dia berada dalam naungannya. Istri pun mampu menundukkan kekuatan dan kekuasaan suaminya dengan kelembutan dan kewanitaannya. Sehingga, sang suami pun berada dalam naungannya.

Dengan cara inilah, ikatan cinta di antara suami istri senantiasa indah dan terjaga sebagaimana pakaian menjaga dan memperindah orang yang memakainya.

Demikian penjelasan, Dr. Ikram Thal’at dalam bukunya yang berjudul 55 Nashihah li Al-Banat Qabl Al-Zawaj (55 Nasihat Bagi Wanita Sebelum Menikah).