Berhubungan Badan Tapi Tidak Sampai Orgasme, Apakah Wajib Mandi ?

Hadats, dalam istilah fikih, adalah suatu keadaan tubuh yang dinilai oleh syariat tidak sah melakukan shalat atau ibadah semacamnya. Hadats sendiri ada dua macam, tergantung yang diwajibkan oleh hadats tersebut.

Jika suatu hadats hanya mewajibkan wudhu agar shalatnya sah, hadats tersebut dinilai sebagai hatas kecil. Adapun bila suatu hadats mewajibkan seseorang untuk mandi, hadats tersbeut dinilai sebagai hadats besar.

Apa saja hadats besar yang mewajibkan kita untuk mandi? Salah satu di antaranya adalah melakukan hubungan suami istri walau tidak sampai orgasme atau keluar mani.

Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi saw. tentang seseorang yang menyetubuhi istrinya akan tetapi tidak sampai keluar mani (orgasme). Apakah keduanya wajib mandi? Pada saat itu, Aisyah sedang duduk di samping Nabi saw.

Maka, beliau bersabda, “Aku sendiri pernah bersetubuh dengan wanita ini (yang dimaksud adalah Aisyah) namun tidak keluar mani, kemudian kami pun mandi.” (HR Muslim, No. 350)

Sebaik-baik Persangkaan Baik

Berprasangka baik (husnuzhan) itu baik, sangat utama, lagi dianjurkan. Namun, tidak ada sebaik-baik persangkaan baik kecuali berprasangka baik kepada Allah menjelang kematian. Siapa mampu melakukannya, niscaya Allah Ta’ala akan memberikan apa yang dipersangkakannya itu tanpa meleset.

Maka, Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah ada seorang pun di antara kalian yang mati kecuali dia (ada dalam keadaan) berbaik sangka kepada Allah.” (HR Muslim, No. 2887)

Anas bin Malik ra. mengisahkan bahwa Nabi saw. pernah menemui seorang pemuda menjelang ajalnya. Beliau bertanya, “Apa yang engkau rasakan?”

Pemuda ini menjawab, “Aku mengharap (rahmat) Allah wahai Rasulullah. Namun, aku pun takut akan dosa-dosaku.”

Maka, Nabi saw. pun bersabda, “Tidaklah berkumpul (kedua perasaan itu) dalam hati seorang Mukmin dalam keadaan seperti ini (sakaratul maut), melainkan Allah memberikan apa yang dia harapkan dan mengamankannya dari apa yang dia takutkan.” (HR At-Tirmidzi dan Ibnu Abid Dunya)

Agar Anak Anteng Shalat Berjamaah di Masjid

Orangtua kerap dipusingkan dengan tingkah anak saat dibawa ke masjid, semisal untuk shalat berjamaah. Pada satu sisi, orangtua ingin membiasakan anak agar cinta masjid, mengenal shalat berjamaah dan bersosialisasi.

Namun, pada sisi lain, hadirnya anak di masjid justru membawa masalah baru. Si anak malah berbuat gaduh saat shalat, lari ke sana lari ke sini, sehingga jamaah lain menjadi terganggu.

Bagaimana sebaiknya? Adakah cara terbaik agar anak bisa anteng, tertib dan tidak mengganggu orang lain saat dibawa ke masjid?

Ternyata, kuncinya ada di rumah. Sebelum mengajak anak ke masjid, orangtua harus mengajari dan mengkondisikan anak agar terbiasa shalat berjamaah, tertib dan tahu adab bermajelis. Tanpa adanya pengajaran dan pembiasaan di rumah, sulit bagi anak untuk bisa tertib saat dia dibawa ke masjid atau majelis taklim.

Sisi Lain dari Musiabah

Di antara tabiat manusia adalah suka dengan kenikmatan dan tidak suka dengan penderitaan. Maka, sepanjang hidupnya dia berusaha mengejar aneka kenikmatan, entah yang bersifat fisik maupun non fisik. Pada saat bersamaan, dia berusaha menjadi aneka penderitaan, kesusahan dan ketidakenakan.

Salah satu hal yang tidak mengenakkan adalah musibah, baik berupa sakit atau lainnya. Andaikan mendapati musibah ini, manusia akan berusaha mengobati atau menghilangkan dari dirinya secepat mungkin.

Namun demikian, ada sisi lain dari musibah, semenyakitkan apapun yang hakikatnya hanya bisa dipahami oleh orang-orang beriman. Apakah itu? Musibah adalah penggugur dosa apabila disikapi dengan kesabaran.

Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah seorang Muslim ditimpa musibah berupa sakit atau lainnya, melainkan Allah Taala akan menghapuskan aneka keburukan dengan musibah itu sebagaimana bergugurannya dedaunan dari pohon.” (HR Muslim)

Tinggi Rendahnya Martabat Seorang Suami

Suami pintar itu idaman. Suami kaya itu impian. Suami tampan itu harapan. Namun, itu semua bukan penentu mulianya seorang lelaki di sisi Allah Ta’ala. Lalu apa parameternya?

Sejatinya, Rasulullah saw. mengukur tinggi rendahnya martabat seorang lelaki dari cara dia bergaul dan memperlakukan istrinya.

“Tidak memuliakan wanita kecuali lelaki yang mulia. Dan, tidak merendahkan wanita kecuali lelaki yang rendah pula.” (HR Tirmidzi)

Maka, di antara sekian banyak dosa, ada dua macam dosa yang Allah Ta’ala dahulukan siksanya di dunia, yaitu al-baghyu dan durhaka kepada orangtua.” (HR Al-Bukhari, At-Tirmidzi, dan Ath-Thabrani)

Al-baghyu adalah berbuat zalim, aniaya, atau sewenang-wenang terhadap orang lain. Dan, termasuk al-baghyu yang paling dimurkai Allah Ta’ala adalah berbuat zalim kepada istri sendiri.

Sudahkah Anda Ridha dengan Ketetapan Allah ?

Mengapa banyak orangtua gagal menghentikan kebiasaan buruk anak-anaknya? Padahal, nasihat sudah diberikan dan aturan sudah dibuatkan.

Di antara sebabnya adalah (1) anak tidak dipahamkan bahwa apa yang dilakukannya adalah keburukan. Sehingga, anak tidak tahu bahwa yang dilakukannya adalah keburukan atau sesuatu yang merugikan bagi diri dan orang disekitarnya.

Kemudian, (2) orangtua tidak konsisten dengan apa yang diucapkan. Sekarang mengatakan A, besok B, seminggu kemudian C. Hal ini menjadi anak tidak memiliki standar nilai yang baku. Katanya tidak boleh, kok sekarang boleh.

Selanjutnya, (2) orangtua tidak tegas (bukan keras) dalam menerapkan aturan. Dan, (3) orangtua belum bisa menjadi teladan dalam kebaikan yang diinginkan.

Misal, ada aturan kalau sejak Maghrib anak tidak boleh pegang hape. Pada pratiknya larangan tersebut hanya terapkan sehari dua hari, besok lusanya lain lagi. Anak malah dibiarkan kembali main hape pada malam hari.

Andaipun ditegur, teguran hanya sekadar ucapan dan tidak dengan tindakan tegas, semisal memberikan sangsi. Sehingga, anak pun akan sampai pada kesimpulan bahwa aturan dibuat untuk dilanggar.

Dan, yang paling berbahaya adalah manakala orangtua tidak bisa menjadi contoh atau teladan dalam kebaikan yang diinginkan. Orangtua melarang anak main hape saat malam hari, tapi dia sendiri tidak bisa lepas dari hape.

Karena Apa Kita Menjadi Tua ?

Menjadi tua, lemah, dan mati adalah sesuatu yang pasti. Namun karena apa kita lemah dan akhirnya mati, itulah yang menjadi pembeda antara seseorang dengan yang lain.

Maka, berbahagialah seorang ayah yang tubuhnya melemah, rambutnya memutih, dan waktunya habis untuk menafkahi, membimbing dan membahagiakan anak istrinya di jalan Allah.

Berbahagia pulalah seorang istri yang waktunya habis untuk mengurus anak, berkhidmat kepada suami, dan mendidik anak-anaknya dalam ketaatan kepada Allah.

Walau di dunia dia tidak dikenal, tiada tanda jasa, apalagi mahkota, Allah tidak akan lupa dengan segala amal baiknya. Surga adalah jaminannya.