Ketika Rasulullah saw Memuliakan Tukang Sapu Masjid

Tiada tempat paling mulia lagi dicintai Allah di muka bumi selain masjid. Karena kemuliaannya itu, semua hal yang berkaitan dengan kebaikan masjid menjadi mulia pula. Membangunnya adalah perbuatan mulia. Mengisinya dengan ibadah adalah perbuatan mulia.

Menjaga kebersihan masjid, itu pun termasuk perbuatan mulia. Siapa melakukannya karena mengharap ridha Allah, dia memiliki derajat mulia di sisi Allah dan rasul-Nya.

Itulah mengapa, Rasulullah saw. pernah secara khusus menshalatkan seorang wanita berkulit hitam yang biasa membersihkan Masjid Nabawi.

Abu Hurairah ra. meriwayatkan bahwa ada seorang wanita yang biasa membersihkan masjid. Selama beberapa hari, Nabi saw. tidak lagi melihat wanita tersebut. Maka, beliau pun menanyakan kabar si wanita kepada para sahabat. Mereka pun menjawab, “Dia telah meninggal.”

“Mengapa kalian tidak mengabariku?” tanya beliau dengan nada protes.

Para sahabat mengira bahwa kematian wanita tersebut tidak begitu penting bagi Rasulullah saw. sehingga mereka tidak memberitahukannya kepada Nabi saw.

“Tunjukkan aku makamnya,” pinta Nabi saw.

Maka, sahabat pun menunjukkan makam wanita tersebut, kemudian beliau menshalatkan dan mendoakannya. (HR Muslim, No. 956)

Berkhidmat di Rumah Allah

Menjaga kebersihan rumah itu bagus. Namun, ada yang lebih bagus, yaitu menjaga kebersihan rumah Allah (masjid). Jangan sampai kita begitu teliti, telaten dan serius dalam menjaga kebersihan rumah tempat tinggal, sedangkan rumah Allah tidak kita perhatikan.

Maka, kalau memungkinkan, anak-anak kita untuk membersihkan masjid, setidaknya seimggu sekali, walau sekadar memunguti sampah atau dedaunan yang berserakan di halaman.

Selian berpahala, kegiatan membersihkan masjid, menjadi media pendidikan dan pembelajaran yang sangat efektif untuk menumbuhkan rasa cinta anak-anak kita kepada masjid.

Andaipun tidak memungkinkan, sisihkanlah sebagai dari harta kita untuk membeli alat-alat kebersihan masjid atau mengupah orang untuk membersihkan masjid.

Siapa menunaikannya, sungguh dia telah menjaga salah satu sunnah Rasulullah saw. yaitu menjaga dan memelihara kebersihan rumah-Nya.

Dari ‘Aisyah ra. bahwa dia berkata, “Rasulullah saw. memerintahkan untuk membangun masjid di perkampungan, lalu membersihkan dan memberinya wewangian.” (HR Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Ada Akhlak dalam Berutang

Utang bisa menjadi tolok ukur kebaikan akhlak seseorang. Semakin baik akhlak seseorang, semakin baik dan mudah pula dia dalam urusan utang piutang.

Maka, bersemangatlah kita membayar utang sebagaimana bersemangatnya kita saat berutang. Persulitlah kita untuk berutang (jangan berutang kecuali darurat) dan permudahlah untuk membayar manakala kita terlanjur berutang.

Sesungguhnya, Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya, sebaik-baik dari kalian adalah orang yang paling baik dalam melunasi utang.” (HR Al-Bukhari)

Adapun bagi orang yang sulit membayar utang, padahal dia mampu, atau tidak punya niatan baik untuk melunasi utangnya, ada ancaman dari Rasulullah saw. “Siapa yang berhutang lalu berniat tidak mau melunasinya, maka dia akan bertemu Allah (pada hari Kiamat) dalam status sebagai pencuri.” (HR Ibnu Majah)

Menikah Adalah Fitrah Manusia

Menikah adalah fitrah manusia. Apabila telah datang masanya, seorang wanita dan laki-laki harus bersatu dalam mahligai rumahtangga. Pengabaian akan hal ini, bukan hanya akan menimbulkan banyak masalah, baik secara individu maupun sosial, tetapi juga menghadirkan konsekuensi dosa.

Maka, tidak ada obat yang paling mujarab bagi dua orang anak manusia yang tengah dilanda asmara, kecuali menikah.

Rasulullah saw. bersabda, “Wahai para pemuda, siapa yang mampu menikah hendaklah menikah. Sesungguhnya pernikahan itu lebih dapat meredam gejolak mata dan nafsu seksual …” (HR Al-Bukhari)

Itulah mengapa, kedua belah pihak, baik laki-laki ataupun wanita, wajib untuk mengikhtiarkannya. Demikian pula orangtua wajib mempermudah dan memfasilitasi anak-anaknya yang ingin menikah. Siapa mempersulit Allah akan hadirkan keburukan untuknya.

Apa yang Anda Sibukkan ketika Shalat ?

Ketika kita sibuk melakukan sesuatu atau memikirkan sesuatu, apakah kita akan melakukan atau memikirkan hal lain di luar kesibukan? Tentu tidak! Kita akan fokus dengan apa yang kita lakukan atau kita pikirkan.

Demikian halnya dengan shalat, di dalamnya ada kesibukan sehingga “seharusnya” seseorang tidak melakukan atau memikirkan hal lain di luar gerakan dan bacaan shalat.

Ibnu Mas’ud ra. meriwayatkan bahwa dia pernah mengucapkan salam kepada Nabi saw. ketika beliau tengah menunaikan shalat. Namun, Nabi saw. tidak menjawabnya. Seusai shalat beliau bersabda, “Inna fish-shalâti lasyughlâ. Sesungguhnya di dalam shalat ada kesibukan.” (HR Ahmad, No. 3563 dan Abu Dawud, No. 924)

Nabi saw. menyebut shalat sebagai kegiatan yang penuh kesibukan. Bagaimana tidak, orang yang shalat, lahir batinnya memiliki kesibukan. Fisiknya fokus pada gerakan demi gerakan. Demikian pula pikirannya, dia fokus kepada bacaan.

Adapun qalbunya tersambung kepada Allah. Maka, walau tampak diam, sesungguhnya shalat dipenuhi kesibukan sehingga pelakunya “sulit” memikirkan hal lain.

Ada Kekufuran dalam Hubungan Suami Istri

Istri bagikan ladang bagi suami. Keduanya boleh melakukan hubungan kecuali saat istrinya sedang haidh. Para ulama sepakat akan keharamannya . Bahkan, sementara ulama menghukminya sebagai dosa besar.

Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa yang menyetubuhi wanita haidh atau menyetubuhi wanita di duburnya, maka dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.” (HR At-Tirmidzi, No. 135 dan Ibnu Majah, No. 639)

Ada banyak hikmah dari pengharaman dari hal ini. Satu di antaranya adalah menjaga kesehatan kedua belah pihak, terkhusus istri.

Ketika seorang wanita tengah haid, terjadi peluruhan dinding rahim sehingga mengakibatkan rahim terluka. Pada saat bersamaan, terjadi pembengkakan pada leher rahim dan sel-sel darah menjadi terbuka. Kondisi ini membuat bakteri yang ada di permukaan penis akan mudah menginfeksi.

Pada tahap selanjutnya, infeksi akan terus menjalar ke saluran rahim sehingga akan menutupnya dan mempengaruhi rambut (cilia) yang berfungsi untuk mendoorng ovum menuju rahim. Dan, infeksi ini dapat mengakibatkan kemandulan atau kehamilan di luar rahim. (Adnan Tarsyah, Serba Serbi Wanita)

Keras Hati Perbanyaklah Mengingat Mati

Terlalu banyak bergaul untuk urusan duniawi, sibuk mengejar karier, terobsesi dengan makanan (kuliner), memperturutkan aneka hobi yang kurang bermanfaat, dan sejenisnya, berpotensi mengeraskan hati.

Ketika hati sudah keras, pemiliknya tidak lagi sensitif terhadap dosa, malas beribadah dan hilang kenikmatan saat beribadah, nasihat kebaikan pun menjadi tidak nyaman didengar.

Apa solusinya? Al-Imam Al-Qurthubi, dalam At-Tadzkirah, menyebutkan empat cara untuk mengobati hati yang keras. Salah satunya adalah banyak mengingat mati. Sesungguhnya, banyak mengingat mati akan mencegah seseorang dari kemaksiatan, melunakan hati, menghilangkan cinta dunia dan meringankan derita atas musibah dunia.

Diriwayatkan dari Shafiyyah ra. bahwasanya seorang wanita mendatangi ‘Aisyah ra. untuk mengadukan keadaan hatinya yang keras.

‘Aisyah ra. pun berkata, “Perbanyaklah mengingat kematian, engkau akan mendapatkan apa yang kau inginkan.”

Kemudian wanita ini mengerjakannya (apa yang disarankan oleh ‘Aisyah). Setelah itu, dia pun mendapatkan petunjuk di hatinya dan mendatangi ‘Aisyah ra. untuk mengucapkan terima kasih (HR Ibnu Abi Ad-Dunya)