Jangan Gagalkan Anak Kita untuk Menjadi Penghafal Al-Quran

Ibu Bapak, kalau kita belum berhasil menjadi penghapal Al-Quran, jangan gagalkan anak-anak kita untuk menjadi penghapal Al-Quran. Untuk apa?

Agar kelak, pada hari Kiamat kita bisa berkata, “Ya Allah, ampunilah hamba yang tidak bisa menjadi penghapal Al-Quran. Namun ya Allah, saksikanlah anak hamba bisa menjadi penghapal Al-Quran.”

Karena status anaknya sebagai penjaga Al-Quran, orangtua akan pula mendapatkan mahkota dan baju kemuliaan dari Allah berkat kemuliaan status yang disandang anaknya.

Obati Sakitmu dengan Al-Quran

Al-Quran adalah sebaik-baik obat penawar. Itu pasti. Namun, efek penyembuhannya tergantung pada sekuat apa keyakinan kita kepadanya.

Ketika seseorang meyakini bahwa Al-Quran adalah sebaik-baik penyembuh, kemudian dia istiqamah membacanya sesuai kaidah yang ditetapkan agama, niscaya dia akan merasakan bahwa setiap huruf, kata, dan kalimat dalam Al-Quran mengandung unsur penyembuh yang dahsyat, baik bagi penyakit lahir maupun batin.

Maka, bacaan Al-Quran tidak sekadar menghilangkan sakit hati tetapi juga meredam nyeri fisik. Bacaan Al-Quran tidak sekadar menyehatkan organ batiniah, tapi juga bisa menyehatkan organ lahiriyah, semisal jantung, otak, paru-paru, dan lainnya.

Maka, bacaan Al-Quran bisa menjadi penawar bagi gangguan insomnia, stres, depresi, sekaligus menjadi peredam rasa nyeri. (Dr. Jamal Elzaky, Terapi Baca Al-Quran).

Empat Kunci Pembuka Pintu Rezeki

Rezeki dari Allah Azza wa Jalla sangat luas cakupannya, bukan sekadar harta. Kesehatan adalah rezeki, anak keturunan adalah rezeki, makanan, minuman, pakaian, pekerjaan, rumah, ketenangan, kemampuan untuk taat kepada Allah adalah rezeki. Dan, Allah Mahatahu rezeki apa yang terbaik bagi kita, sehingga kita bisa selamat dunia akhirat.

Rezeki akan terhambat dengan maksiat. Sebaliknya, rezeki pun akan deras menghampiri dengan ketaatan.

Maka, saat seseorang ingin rezekinya lancar, tidak ada jalan lain untuk mendapatkannya kecuali dengan memperbanyak ketaatan kepada Allah. Semakin taat semakin melimpah rezeki kita.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah menyebutkan 4 amalan yang akan melancarkan rezeki seorang hamba. Pertama, shalat malam (Tahajud). Kedua, memperbanyak istighfar pada waktu sahur. Ketiga, membiasakan sedekah. Keempat, berzikir pada wal pagi dan sore hari. (Zâdul Ma’ad, 4:378)

Bolehkah Memakai Sepatu Sambil Berdiri ?

Ada sunnah Rasulullah saw. saat kita memakai sepatu atau kaus kaki, yaitu kita melakukannya sambil duduk. Dari Jabil bin Abdullah ra. dia berkata bahwa Rasulullah saw. melarang seseorang mengenakan alas kaki (sepatu) sambil berdiri (HR At-Tirmidzi dan Abu Dawud, dalam Silsilah Ash-Shahihah, No. 719)

Mengapa demikian? Sesungguhnya, mengenakan sepatu sambil duduk lebih mudah dilakukan. Adapun mengenakannya sambil berdiri dapat membuat seseorang terjatuh. Dengan demikian, perintah untuk mengenakan alas kaki sambil duduk dan dengan pertolongan tangan dimaksudkan agar seseorang terjaga dari hal-hal yang menyusahkan atau mencelakakan, semisal terpeleset atau terjatuh (Al-Khattabi, Ma’alimus Sunan, 4/203).

Bagaimana dengan sendal jepit? Dalam Syarh Riyadhus Shalihin disebutkan bahwa terkait alas kaki yang biasa kita gunakan (seperti sendal atau sendal jepit), tidak ada masalah jika dikenakan sambil berdiri dan sama sekali tidak masuk dalam larangan dalam hadits. Karena sendal yang ada saat ini mudah sekali dilepas dan dikenakan.

Ketika Tabiat Buruk Pasangan Tak Kunjung Berubah

Terkadang ada sikap pasangan yang tidak kita sukai. Mengkomunikasikannya sudah, berusaha memperbaikinya sudah, tapi dia tak kunjung berubah. Kalau pun berubah, itu hanya sementara untuk kemudian kembali pada kebiasaan lama.

Jika demikian, apa solusinya?

Al-Quran memberikan jawaban: bersabarlah! Sesungguhnya, Allah Azza wa Jalla akan mengganti kesabaran dalam kondisi semacam ini dengan khairan (kebaikan) yang banyak.

“… Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian apabila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS An-Nisâ’, 4:19)

Tiga Kelompok Orang yang Mendapat Jaminan Rumah di Surga

Mendapatkan hadiah rumah di dunia saja sudah bahagia, apalagi kalau kita mendapatkan hadiah rumah di surga. Bagaimana rasanya? Tidak terbayangkan bahagianya. Inilah di antara puncak dari puncaknya kebahagiaan.

Sejatinya, ada sejumlah orang yang mendapatkan jaminan dari Rasulullah saw. untuk mendapatkan rumah di surga. Siapakah mereka?

Dari Abu Umamah Al-Bahili ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Aku adalah penjamin rumah di surga paling rendah bagi orang yang meninggalkan debat kusir sekalipun dia benar; penjamin rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta sekalipun dia bercanda; dan penjamin surga tertinggi bagi orang yang berakhlak mulia.” (HR Abu Dawud, No. 4800)

Jangan Jadi Orangtua Ahli PHP

Jangan pernah berjanji kepada anak, sekecil dan sesederhana apapun, kecuali orangtua harus menunaikannya. Jangan pernah bohong atau ingkar janji kepada mereka. Jangan sampai kita menjadi orangtua ahli PHP (pemberi harapan palsu) kepada mereka.

Ada satu nasihat dari Abdullah bin Mas’ud ra. “Kedustaan tidak diperbolehkan baik dalam serius atau main-main, dan tidak diperbolehkan salah seorang dari kalian menjanjikan kepada anaknya dengan sesuatu, lalu dia tidak menepatinya.” (Imam Al-Bukhari, Shahih Al-Adabul Mufrad, No. 300)

Mengingkari janji kepada akan bisa melahirkan aneka keburukan, di antaranya: (1) memudarnya kepercayaan anak kepada orangtua, (2) memberi teladan yang buruk, dan (3) menyelisihi sunnah Rasulullah saw. dan para sahabat.