Jangan Sekedar Menghitung Hari, Tapi Hitunglah Diri!]

Ada banyak hal yang harus kita perhitungkan dalam hidup. Namun, dari sekian banyak hal penting tersebut, tiada yang paling penting selain menghitung diri terkait persiapan kita menghadapi hari-hari panjang tak berujung (kehidupan setelah kematian, yaitu kehidupan di akhirat).

Sudah seberapa banyak bekal yang kita kumpulkan? Sudah seberapa banyak tumpukan dosa yang kita tanggalkan dan kita bersihkan? Sudah berapa banyak amal saleh yang kita lakukan?

Sesungguhnya, Allah Ta’ala berfirman, “Dan setiap manusia telah kami kalungkan (catatan) amal perbuatan di lehernya. Dan, pada hari Kiamat Kami keluarkan baginya sebuah kitab dalam keadaan terbuka. ‘Bacalah kitab (cacatan amal)-mu, cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung atas dirimu’.” (QS Al-Isrâ, 17:13-14)

Terkait ayat ini, Al-Imam Hasan Al-Bashri berujar, “Wahai anak manusia, sungguh telah berbuat adil, siapa saja yang menjadikan dirinya sebagai penghitung (penghisab) atas amal perbuatannya sendiri.” (Ibnu Al-Jauzi, Adab Al-Syaikh Al-Hasan Al-Bashri)

Bahkan, Saat Menyuapinya Makan Doakanlah Anakmu!

Di antara doa yang pasti ijabah adalah doa orangtua kepada anak-anaknya. Maka, jangan biarkan momen-momen penting berlalu, kecuali terselip selalu doa kita kepada anak-anak kita. Semakin banyak mendoakannya, itu semakin bagus.

Maka, mendoakan anak tidak harus selalu setelah shalat, bahkan saat membuatkan minuman atau menyuapinya makanan, itu termasuk saat yang istimewa untuk mendoakannya.

Ada satu nasihat yang kami kutip dari bukunya Ustadz Muhammad Fauzil Adhim yang berjudul Positif Parenting. Beliau menuliskan:

“Ketika engkau membuatkan minuman bagi anakmu, aduklah dia dengan sungguh-sungguh sambil berdoa agar setiap tetes yang masuk ke kerongkongannya bisa menyuburkan setiap benih kebaikan dan menyingkirkan setiap bisikan keburukan.

Begitu pula ketika engkau menyuapkan makanan untuknya, mohonlah kepada Allah agar setiap suapan yang masuk ke mulutnya dapat membangkitkan semangat dan meninggikan martabat mereka di sisi Allah Ta’ala.”

Beginilah Cara Rasulullah saw. Memuliakan Sahabatnya

Orang akan mendapatkan apa yang dia berikan. Siapa banyak menebar kebaikan, kebaikan pula yang akan dia dapatkan. Siapa rela berkorban untuk kebaikan saudaranya, saudaranya pun akan rela berkorban untuk dirinya.

Dan, tiada yang paling baik, paling sayang, paling perhatian, lagi paling rela berkorban untuk para sahabatnya selain Rasulullah saw. Maka, amat pantas apabila tidak ada orang yang paling dicintai lagi paling dihormati selain beliau.

Kita ambil sedikit contoh tentang besarnya adab dan perhatian Rasulullah saw. kepada mereka. Dalam banyak kesempatan, beliau kerap mengundang sahabat untuk datang ke rumah. Atau, kalau tidak, beliaulah yang berkunjung ke rumah mereka.

Jika diundang, beliau pasti datang. Jika ada sahabat yang tidak hadir di majelisnya, beliau akan menanyakan kabarnya kepada yang hadir. Jika ada di antara sahabatnya sakit atau meninggal, beliau pun pasti akan menjenguk.

Suatu ketika, beliau datang ke rumah Abu Salamah yang baru saja wafat. Karena matanya tetap terbuka, beliau lalu memejamkannya. “Ke mana ruh dicabut, ke sanalah pandangan mengikuti,” demikian sabda beliau.

Kala itu, keluarga Abu Salamah kalut dan bersedih hati. Paham akan hal tersebut, Nabi saw. pun memberitahu sekaligus membimbing mereka dengan bersabda, “Jangan mengatakan selain yang baik-baik, sesungguhnya malaikat mengamini apapun yang kalian ucapkan.”

Beliau kemudian mendoakan kebaikan bagi Abu Salamah dengan sebaik-baik doa (HR Muslim, No. 920)

Keseharian Rasulullah saw, di Rumahnya

Rasulullah saw. adalah sebaik-baik teladan, termasuk dalam berkeluarga. Beliau mampu mengubah pola hidup yang biasa dijalani kaum lelaki masa jahiliyah dalam menghadapi istri dan anak-anaknya.

Kala di rumah, kalau tidak sedang melepas lelah, beliau biasanya melakukan ibadah, shalat, zikir, dan berdoa. Atau, beliau melakukan aneka tugas rumah tangga.

Maka, saat ditanya tentang aktivitas Nabi saw. di rumah, ‘Aisyah ra. menjawab, “Beliau melayani keluarga, menjahit baju, mengesol sandal, memerah susu, mengerjakan keperluannya sendiri, dan menambal timba. Namun, begitu tiba waktu shalat, beliau bersegera shalat.”

Dalam riwayat lain disebutkan, “… beliau lalu shalat, seolah beliau tidak mengenal kami (keluarganya) dan kami pun tidak mengenal beliau.” (HR Al-Bukhari)

Di atas itu semua, Nabi saw. sangat lemah lembut kepada keluarganya dalam segala wujudnya. Merangkum seluruh sifat pada diri beliau, ‘Aisyah ra. berkata:

“Beliau adalah manusia terkuat lagi termulia. Beliau adalah seorang lelaki sebagaimana lelaki pada umumnya. Hanya saja, beliau murah senyum.” (HR Al-Bukhari)

Jangan Biarkan Malaikat Berhenti Mendoakan Kita!

Sahabat TASQ,

Tinggi rendahnya derajat seorang hamba di akhirat tergantung dari kesungguhan dan kerja kerasnya dia dalam beramal selama di dunia. Semakin baik dan banyak amalnya, semakin tinggi pula derajatnya.

Maka, tidak sama derajat orang yang berleha-leha dengan orang yang berpayah-payah dalam menggapai ridha Allah. Tidak akan sama derajat orang Mukmin dengan munafik atau orang kafir (QS Al-Jâtsiyah, 45:21).

Muhammad bin An-Nadhar berkata, “Tiada seorang pun yang beramal di dunia ini kecuali tersedia baginya (para malaikat) yang senantiasa memohonkan kenaikan derajat bagi orang tersebut di akhirat. Jika dia berhenti (beramal), mereka (para malaikat) pun berhenti berdoa.

Sehingga, ketika ditanya, “Mengapa engkau tidak bekerja?” Mereka menjawab, “Karena sahabat kami pun telah berhenti beramal.” (HR Al-Baihaqi, Syu’abul Iman, 1/513)

Jaga Lisan dari Bicara Jorok dan Cabul

Jaga Lisan dari Bicara Jorok dan Cabul

Tidak dilarang seorang suami bercanda dengan istrinya termasuk untuk hal yang bersifat intim. Namun, baik suami atau istri hendaknya menghindari ungkapan jorok atau cabul yang tidak pantas diucapkan oleh orang beriman.

Rasulullah saw. bersabda, “Rasa malu adalah bagian dari keimanan dan keimanan tempatnya di surga. Ucapan cabul adalah bagian dari sikap kasar dan sikap kasar tempatnya di neraka.” (HR At-Tirmidzi dan Ahmad, dalam Shahih Al-Jami’, No. 3201)

Tidak dilarang seorang suami bercanda dengan istrinya, termasuk untuk hal-hal yang bersifat intim. Namun demikian, baik suami atau istri hendaknya menghindari ungkapan jorok atau cabul yang tidak pantas diucapkan oleh orang beriman.

Rasulullah saw. bersabda, “Rasa malu adalah bagian dari keimanan dan keimanan tempatnya di surga. Ucapan cabul adalah bagian dari sikap kasar dan sikap kasar tempatnya di neraka.” (HR At-Tirmidzi dan Ahmad, dalam Shahih Al-Jami’, No. 3201)

Doa untuk Mengikis Rasa Benci di Dalam Hati

Kebencian dan dendam tidak layak hadir dalam hati seorang Muslim. Apalagi perasaan tersebut tertuju kepada saudara seiman. Itulah mengapa, Al-Quran mengabadikan satu doa yang dapat kita dawamkan manakala terbersit kebencian kepada seseorang yang baik agamanya.

Dengan doa tersebut, kita bermohon kepada Allah Ta’ala agar Dia berkenan menghilangkan kebencian tersebut dari hati kita. Sesungguhnya, Allah adalah Zat Yang Mahakuasa untuk membolak-balikkan hati.

“Rabbanaghfir lanâ wa li’ikhwâni-nalladzîna sabaqûna bil îmâni wa lâ taj`al fî qulûbinâ ghillal-lil-ladzîna âmanû rabbanâ innaka ra’ûfur-rahîm.

Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Hasyr, 59:10)