Tajamnya Firasat Utsman bin Affan

Sahabat TASQ,

Setiap sahabat memiliki keutamannya masing-masing sebagai buah dari ketaatan dan kecintaannya kepada Allah dan rasul-Nya. Hal ini berlaku pula pada sosok Utsman bin Affan ra.

Selain dikenal akan kedermawanan dan kecerdasannya, Utsman pun dikenal sebagai sosok yang tajam matahatinya dan tepat firasatnya. Atas izin Allah, dia mampu mengetahui apa yang disimpan oleh seseorang hanya dengan melihat sorot matanya. Walau, orang tersebut menyangka bahwa tidak ada seorang pun yang tahu apa yang disembunyikan dalam hatinya.

Maka, pernah terjadi ada seseorang datang kepadanya dan Utsman berkata kepada orang ini, “Seseorang datang kepadaku dan bekas perzinahan tampak di kedua matanya.”

Orang ini lalu bertanya, “Apakah itu wahyu sesudah Rasulullah?”

Utsman menjawab, “Tidak! Itu adalah firasat yang benar.” (Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Ath-Thuruq Al-Hukmiyah)

Mengapa Allah Ta’ala memberikan keistimewaan ini kepada Utsman? Satu sebabnya adalah karena sifat pemalu Utsman. Karena sifatnya ini, para malaikat pun malu kepadanya. Karena sifat pemalunya ini, Utsman sangat menjaga pandangannya dari maksiat sehingga Allah menitipkan firasat yang kuat ke dalam hatinya.

Ketika Shaumnya Seorang Istri Menjadi Haram

Sahabat RSQ,

Setelah menikah, seorang wanita terikat dengan suaminya. Maka, dalam banyak hal, dia tidak lagi memiliki kebebasan untuk melakukan suatu aktivitas kecuali atas izin suaminya.

Satu di antaranya adalah berpuasa sunnat. Berpuasa di jalan Allah sangat utama lagi besar pahalanya. Akan tetapi, dia bisa berdosa apabila memaksakan diri untuk berpuasa sedangkan suaminya tidak mengizinkan, karena suami ada hajat kepadanya.

Rasulullah saw. bersabda, “Tidak halal bagi seorang wanita yang bersuami untuk berpuasa ketika suaminya hadir melainkan atas seizinnya. Dan, janganlah engkau mengizinkan seseorang untuk masuk ke rumahnya melainkan dengan izinnya (suami).” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat Ahmad ada tambahan, “Kecuali puasa pada bulan Ramadhan.”

Hal ini mengandung konsekuensi hukum, yaitu selain haramnya berpuasa sunnat manakala suami sedang hadir dan tidak mengizinkan, suami pun diperbolehkan untuk membatalkan puasa istrinya seandainya dia berpuasa tanpa seizinnya.

Andaipun suaminya sedang sakit atau tidak sanggup melakukan hubungan badan karena suatu sebab, semisal impoten, maka hukumnya sebagaimana hukum ketika suami tengah bepergian. Artinya, sang istri boleh berpuasa sunnat tanpa harus izin kepada suami (Fiqhus Sunnah, 1:448-9)

Populitaritas Memang Menggiurkan, Tetapi…!

Sahabat TASQ,

Saat sekarang, menjadi sosok terkenal memang menggiurkan. Dengan punya banyak follower saya di medsos misalnya, seseorang bisa mendapatkan beragam keuntungan. Salah satunya keuntungan finansial. Orang-orang pun berlomba untuk mendapatkannya.

Namun, di balik semua itu, dilihat dari kecamata keimanan, ada sejumlah hal yang layak dikhawatirkan dari yang namanya popularitas. Satu di antaranya adalah mudahnya seseorang untuk berbangga diri, bermegah-megahan, tumbuh suburnya ujub dan riya, sampai dengan hilangnya keikhlasan dalam beramal.

Mengapa? Karena dia beramal bukan untuk mengharap ridha Allah, akan tetapi untuk menaikan jumlah follower, untuk like, comment and share. Jika hal ini sampai terjadi, akan hilanglah darinya nikmatnya taat kepada Allah dan lezatnya menghamba kepada-Nya.

Hal ini sebagaimana dinasihatkan Bisyr bin Al-Harits berkata, “Tidak akan mendapati manisnya akhirat seseorang yang suka untuk dikenal oleh manusia.” (Hilyatul Auliya, 8:343)

Pemberian Terbaik

Sahabat RSQ,

Kalaulah ada senyuman terbaik, sapaan terbaik, pemberian terbaik, atau belaian terbaik, pastilah itu senyuman, sapaan, pemberian dan belaian dari suami kepada istrinya.

Mengapa? Ini adalah bagian dari sedekah terbaik dan akhlak terbaik dari orang terbaik. Rasulullah saw. bersabda, “Orang Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Dan orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang paling baik kepada istrinya.” (HR At-Tirmidzi, 3:466)

Maka, siapa yang Allah takdirkan menjadi seorang suami, janganlah dia pelit untuk memberi perhatian lebih kepada istrinya.

Ketika Ilmu Tidak Lagi Berguna

Ilmu adalah keutamaan. Mempelajarinya adalah kemuliaan. Dan, mengamalkannya adalah kewajiban. Namun, ilmu tidak lagi berguna manakala pemiliknya tidak bisa menjaga kehormatan dirinya.

Ada satu nasihat dari Imam Asy-Syafi’i, “Siapa mempelajari Al-Quran, nilai dirinya akan bertambah. Siapa mempelajari fikih, kemampuan dirinya akan meningkat. Siapa menulis hadits, hujahnya akan menguat. Siapa mempelajari ilmu hisab, pandangannya akan semakin luas. Namun, siapa yang tidak melindungi diri dan kehormatannya, niscaya ilmunya tidak lagi berguna.”

Dukunglah Suami untuk Berbakti kepada Uangnya

Sahabat RSQ,

Tidak mudah menjadi seorang istri idaman. Dia bukan hanya dituntut untuk berbakti sepenuh hati kepada suaminya. Namun, dia pun dituntut untuk menjadikan suaminya lebih berbakti kepada ibundanya.

Bukan sebaliknya, sebelum menikah suami dekat dengan ibunya. Namun, setelah menikah, karena bisikan sang istri, suami jadi menjauh lagi tidak lagi berbakti kepada ibundanya.

Sesungguhnya, kewajiban seorang suami terhadap ibunya tidak pernah terhapus walaupun dia telah menikah. Dia masih dituntut untuk berbuat baik kepada kedua orangtuanya, termasuk memberi nafkah manakala mereka sudah tidak sanggup lagi bekerja.

Dari Aisyah ra. bahwa dia berkata, “Aku berkata kepada Rasulullah saw. ‘Wahai Rasulullah, siapakah yang paling berhak kepada seorang wanita (istri)?’ Beliau menjawab, ‘Suaminya’. Aku bertanya lagi, ‘Dan siapakah manusia yang paling berhak kepada seorang laki-laki (suami)?’ Beliau menjawab, ‘Ibunya’.” (HR An-Nasa’i, Al-Hakim, dan Al-Bazzar)

Surga untuk Orang yang Baik Perkataannya

Sahabat TASQ,

Ingin dicatat sebagai ahli surga? Salah satu syaratnya adalah perbaiki lisan dan perbagus pembicaraan kita!

Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya di surga itu terdapat banyak ruangan yang bagian luarnya dapat dilihat dari dalam dan bagian dalamnya dapat dilihat dari luar.”

Seorang Arab badui lalu bertanya, “Untuk siapakah itu, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Untuk orang yang baik perkataannya, yang memberi makan (orang yang kelaparan), yang rajin berpuasa dan biasa bangun malam ketika orang lain tidur nyenyak.” (HR At-Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah)