Sahabat TasQ, Seorang laki-laki berkata pada Hudzaifah Al-Yamani ra., “Sehabis shalat Subuh tadi aku datang ke rumahmu, tetapi engkau tidak ada. Aku mengira engkau sedang tidur.”
Hudzaifah pun berkata, “Aku tidak suka apabila engkau menganggapku tidur pada jam-jam itu. Sesungguhnya, para sahabat tidak pernah tidur setelah shalat Subuh sampai mereka bekerja saat matahari terbit. Pada waktu-waktu itu (setelah shalat subuh sampai terbitnya fajar), mereka diperintahkan untuk berzikir.”
Maka, Abdurrahman Al-Auzâ’i (seorang ulama generasi tabi’in, wafat 157 H) berkata, “Apabila fajar menyingsing (atau sesaat sebelumnya) generasi salaf seakan dikelilingi oleh burung di atas kepala mereka. Mereka hanya diam. Bahkan, seandainya terdapat seekor merpati milik salah seorang dari mereka datang kembali ke rumah setelah pergi, pemiliknya tidak akan menoleh ke arah merpati tersebut. .
Mereka akan tetap seperti itu sampai sesaat sebelum matahari terbit. Mereka kemudian membentuk kelompok-kelompok ta’lim (kelompok diskusi). Adapun pembahasan yang paling mereka utamakan adalah soal akhirat, dilanjutkan dengan ilmu Al-Quran dan fikih.” (Abu Bakr Al-Thurthusy Al-Andalusi, Ad-Du’â’ Al-Matsûr)
Kejanggalan Seorang Wanita
Sahabat RSQ, Aktivitas seorang ibu itu sangat luar biasa, nyaris 24 jam, mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali: mulai dari melayani suami, mempersiapkan keperluan anak-anak, dan lainnya. Itu di luar waktu ibadah ritualnya: shalat, zikir harian dan baca Al-Qurannya
Maka, akan terlihat janggal jika ada seorang ibu bisa menghabiskan berjam-jam waktunya untuk bergosip, main gadget, nonton film dan sinetron, dan aktivitas kurang bermanfaat lainnya. Jika demikian, besar kemungkinan ada hak Rabbnya, anak dan suaminya yang terbengkalai, walau dia tak menyadarinya.
Pentingnya Keteladanan
Jangan berharap anak dekat dengan Al-Quran, apabila orangtua lebih banyak memegang hape daripada mushaf, lebih banyak membaca status medsos daripada ayat-ayat-Nya. Bukankah anak adalah fotokopi orangtuanya, terkhusus lagi ibunya?
Maka, tidak peduli benar atau salah, setiap yang lahir dari kebiasaan orangtua akan menjadi contoh bagi anak-anaknya. Dan, di akhirat, semua perilaku orangtua harus dipertanggung jawabkan di hadapan Allah.
Sudahkah kita siap menghadapinya, wahai para orangtua?
Memuliakan Penuntut Ilmu
Sahabat RSQ, Jika anak-anak kita ingin menjadi ulama, sering-seringlah menuntaskan hajat para penuntut ilmu: membiayai sekolahnya, menyiapkan makanannya, atau menyediakan fasilitas belajarnya.
Kesungguhan kita dalam memuliakan para penuntut ilmu akan Allah balas dengan aneka keutamaan. Salah satunya memudahkan anak keturunan kita menjadi ulama, atau setidaknya menjadi pecinta ulama.
Kita layak belajar dari Syaikh Nashiruddin Al-Albani. Suatu ketika, beliau berkata kepada salah seorang muridnya:
“Jika tidak ada orang yang mengantarkanmu ke bandara, hubungilah aku. Aku siap mengantarkanmu. Aku ingin mendekatkan diri kepada Allah dengan berkhidmat (memuliakan) penuntut ilmu seperti dirimu.” Mâ syâ Allah!
Qurban Bukti Cinta
Hadiah terindah untuk para pecinta Al Quran
Idul Qurban adalah saat tepat untuk berbagi dan membahagiakan para santri pecinta Al Quran.
InsyaAllah do’a dan kebahagiaan mereka bisa menjadi jalan terbukanya pintu pintu kebaikan bagi yg berkurban.
DAPA sahabat Anda dalam berbagi_ meluncurkan program Qurban untuk Santri Pecinta Al-Qur’an dengan Harga Hewan Qurban :
1. Sapi Rp. 22,4 juta
2. Sapi Jamaah (7 Orang) Rp. 3,2 juta /Org
3. Domba Rp. 2,7 juta
(Termasuk biaya operasional)
#Donasi disalurkan melalui rekening : An. Yayasan Tasdiqul Quran
– BSM : 707.991.2225
Cara Donasi sertakan kode unik semisalnya Rp 2.700.008 = 08 sebagai kode unik Qurban
📲 Informasi Donasi via Chat WA : wa.me/6282130300121
Semoga setiap tetesan darah hewan Qurban menjadi sebab pengampunan bagimu atas dosa dosa yang telah lalu
(HR. Al-Bazzar dan Ibnu Hibban)
Zikir Surah AlMulk
Sahabat tasQ, Hidup di dunia hanya sebentar, Adapun hidup di akhirat terentang panjang. Maka, seorang Mukmin yang cerdas adalah dia yang serius mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelah kematiannya.
Salah satu amal yang akan memudahkan urusan kita di akhirat adalah bacaan Al-Quran, terkhusus surat Al-Mulk. Tidak hanya sebagai bekal,
Al-Mulk pun adalah pembela bagi siapa saja yang mau menjaganya.
Rasulullah Shalllallahu alaihi wasallam bersabda, “Ada satu surah dalam Al-Quran yang terdiri dari 30 ayat. Dia akan membela orang yang mengamalkannya hingga memasukkannya ke surga. Surah itu adalah Tabârak (Al-Mulk).” (HR Ath-Thabrani)
Maka, dalam sebuah hadits disebutkan bahwa, “Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak akan tidur sehingga beliau membaca Alif Lâm Mîm. Tanzil (As-Sajdah) dan Tabâraka (Al-Mulk).” (HR At-Tirmidzi)
Mengapa susah menangisi dosa-dosa?
Sahabat TasQ. Ada satu nasihat dari Imam Ibnu Qayyim
Al-Jauziyah. Beliau berkata,
“Seorang Mukmin tidak akan pernah menikmati kemaksiatan. Bahkan, jika pun dia telah melakukannya, pasti ada rasa bersalah di dalam hatinya. Namun, apabila sensitivitas atas rasa bersalah telah hilang dari hatinya, hendaklah dia menangis atas kematian hatinya.”
.
Boleh jadi, ada yang bertanya, “Bagaimana kalau kita gak nangis-nangis termasuk saat Tahajud?” Jika demikian, menangislah karena tidak bisa menangis!
.
“Ya Allah, saya tidak bisa menangis ya Allah, tolonglah saya, ampuni dosa-dosa saya.” Mudah-mudahan dengan cara seperti ini, kita akhirnya bisa menangis.







