Jatah Harta untuk Ummahatul Mu’minin

Al-Hafizh Ibnu Abi Ad-Dunya, dalam Kitab Mujâbid Da’wah, menukilkan salah satu kisah yang terjadi pada masa kekhalifahan Umar bin Khathab ra.

Suatu ketika, Amirul Mu’minin Umar bin Khathab mendapatkan kiriman harta yang banyak dari negeri Bahrain. Umar pun menetapkan pembagian dari baitul mal untuk orang-orang yang berhak menerimanya, terkhusus dari keluarga Rasulullah saw. dan para sahabat. Untuk istri-istri Nabi saw. Umar menetapkan bagian 12.000 dirham (setara dengan 880 – 900 juta rupiah).

Amirul Mu’minin mengutus seseorang untuk mengantarkan bagian Zainab binti Jahsy ra. Ketika sang utusan menyerahkan uang tersebut, Zainab berkata, “Semoga Allah mengampuni Umar. Sungguh, ada banyak saudaraku yang lebih berhak untuk mendapatkan harta ini daripada aku.”

“Ini semua hak Anda,” kata orang ini.

“Subhanallâh!” ujar Zainab dengan nada tidak suka. Dia lalu diam di tempatnya.

Sejenak kemudian, Zainab berkata, “Letakkan dan tutupilah uang yang kau bawa dengan sehelai kain.”

Sang utusan melaksanakan apa yang diperintahkan Zainab. Dia meletakkan dan menutupi dirham yang dibawanya dengan sehelai kain.

Selanjutnya, Zainab berkata kepada salah seorang wanita yang berada di dekatnya, “Masukkan tanganmu dan genggamlah apa yang ada di dalamnya, lalu pergi kepada keluarga Fulan dan berikan kepadanya. Juga kepada keluarga Fulan, anak-anak yatimnya dan kerabatnya.”

Harta sebanyak itu dibagi-bagikan semuanya dan hanya tersisa sedikit saja.

“Semoga Allah mengampuni Anda. Demi Allah, seharusnya kami pun mendapatkan bagian,” kalimat ini meluncur begitu saja dari mulut si wanita.

“Semua uang yang ada di bawah kain semuanya untukmu,” sahut Zainab.

Wanita itu mengangkat kain dan mendapati 35 dirham (setara dengan 2.5 juta rupiah).

Setelah semua hartanya habis dibagikan, Zainab mengangkat kedua tangannya dan berdoa, “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu agar tidak lagi mendapati pemberian dari Umar setelah tahun ini.”

Doa Zainab terkabul. Allah Ta’ala mewafatkannya pada tahun itu juga.

Sumber
Bersanding dengan Nabi saw. di Surga, Abu Umar Basyir.

Kalau Aku Marah, Maka… !

Satu ketika Abu Dawud berkata kepada istrinya, “Jika engkau melihat aku sedang marah, relakanlah! Jangan dilawan. Dan, apabila aku melihatmu sedang marah, aku pun akan merelakanmu. Aku tidak akan melawanmu. Kalau tidak begitu, kita tentu tidak akan bersatu.”

Ini artinya, besi jangan dilawan besi, nanti ada yang patah atau penyok. Kemarahan suami jangan dihadapi dengan kemarahan istri, demikian pula sebaliknya, karena akan terjadi perkelahian dan bencana. Hadapi kemaraha dengan semyuman, diam dan pemaafan, niscaya kemarahan itu akan reda dan berakhir bahagia.

(H. Hadiyah Salim, Rumahku Mahligaiku)

Belajar dari Pasangan Terbaik di Muka Bumi

Mengapa rumahtangga Rasulullah saw. dan Bunda Khadijah amatlah romantis? Tidak hanya di awal pernikahan, tetapi sampai Bunda Khadijah wafat di usia senja.

Sebab, keduanya saling cinta tidak hanya dengan mata, tetapi dengan hati!

Kalau cinta hanya pada pandangan mata, saat kecantikan pasangan memudar, memudar pulalah cinta dalam hati.

Tetapi, kalau cinta didasarkan pada hati (yang penuh keimanan dan kesetiaan), bagaimana pun kondisi fisik pasangan, cinta akan terus abadi.

Kapan Waktu Terbaik Berhubungan Suami Istri

Soal waktu, suami istri bisa berhubungan badan kapan saja: pagi, siang, sore atau malam. Tidak masalah, asalkan istri dalam keadaan suci (sedang tidak haid atau nifas).

Namun demikian, ada waktu istimewa yang bisa digunakan oleh suami atau istri untuk memadu kasih. Salah satunya adalah pada seperenam malam terakhir. Inilah waktu yang sering digunakan Rasulullah saw. untuk membahagiakan istrinya.

Setelah menunaikan shalat malam yang panjang, beliau kembali ke tempat tidur, berganti pakaian (dengan pakaian tidur). Beliau akan tidur sampai Bilal mengumandangkan azan Subuh. Atau, kalau ada hajat, beliau akan menggauli istrinya, lalu mandi. (Syarah Syamail Nabi Muhammad saw.)

Apa hikmahnya? Dengan berhubungan sebelum fajar, selain lebih segar, kondisi junub suami dan istri menjadi lebih singkat karena keduanya akan langsung mandi untuk menunaikan shalat Subuh.

Godaan untuk sang Suami

Menyayangi istri itu besar pahalanya. Karena pahalanya besar, setan pun terus mencari cara untuk membisikan “rasa bosan” ke dalam diri seorang suami terhadap istrinya.

Pada saat bersamaan, dia bisikan pula rasa penasaran dan rasa senang kepada wanita lain. Karena bosan, sikap suami pun kepada istrinya menjadi asal-asalan. Sebaliknya, karena senang, suami menjadi caper (cari perhatian), tebar pesona, sikapnya kepada wanita lain menjadi penuh acting!

Bagaimana solusinya?

Jaga pandangan. Jaga pergaulan. Syukuri anugerah Allah dalam wujud pasangan. Hidupkan terus ingatan akan kebaikan dan jasa-jasanya. Ingatlah janji yang pernah diucapkan saat menikah.

Ingatlah akan besarnya pahala dari Allah bagi seorang suami yang memuliakan istrinya. Bayangkan pula betapa besarnya kerugian yang akan didapat seorang suami apabila sampai menyakitinya istrinya.

Kemudian, jadikanlah ayat ini sebagai sumbu motivasi untuk menuju surga yang diidamkan bersama pasangan:

“Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). Mereka dan istri-istri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan.” (QS Yâsîn, 36:55-56)

Saat Abu Bakar hendak Memukul Aisyah ra

Adakah suami sebaik Rasulullah saw. kepada istrinya? Jangankan memukul, membentak dan berkata kasar saja tidak pernah. Bahkan, beliau menjadi pelindung bagi mereka dari aneka hal yang bisa menyakiti perasaannya.

Satu hari, Abu Bakar meminta izin untuk masuk ke rumah Rasulullah saw. Tiba-tiba dia mendengar Aisyah, putrinya, bersuara keras (saat itu dia tengah dibakar api cemburu). Dengan hati kesal, Abu Bakar pun masuk ke dalam rumah dan hendak menampar putrinya itu.

“Aku tidak suka melihat engkau bersuara keras di hadapan Rasulullah,” ujarnya.

Mendapati hal tersebut, Nabi saw. langsung menghalanginya. Abu Bakar pun keluar rumah dalam keadaan marah.

Setelah itu, Nabi saw. berkata kepada istrinya itu, “Bagaimana pendapatku terhadapku? Aku telah menyelamatkanmu dari kemarahan ayahmu.”

Setelah peristiwa itu, Abu Bakar tidak datang lagi ke rumah Nabi saw. Setelah beberapa hari berlalu, Abu Bakar kembali datang dan dia mendapati putrinya telah berbaikan dengan Nabi saw.

Aku Bakar berkata, “Izinkan aku masuk dalam damai kalian sebagaimana kalian telah mengizinkan aku masuk ketika kalian dalam perselisihan.”

Nabi saw. bersabda, “Sudah kami lakukan. Sudah kami lakukan!”

(HR Abu Dawud, Ahmad dan An-Nasa’i)

Suami yang Murah Senyum kepada Istrinya

Rasulullah saw. adalah sebaik-baik teladan, termasuk dalam berkeluarga. Beliau mampu mengubah pola hidup yang biasa dijalani kaum lelaki masa jahiliyah dalam menghadapi istri dan anak-anaknya.

Kala di rumah, kalau tidak sedang melepas lelah, beliau biasanya melakukan ibadah, shalat, zikir, dan berdoa. Atau, beliau melakukan aneka tugas rumah tangga.

Ketika ditanya tentang aktivitas Nabi saw. di rumah, ‘Aisyah radhiyallâhu anha menjawab, “Beliau melayani keluarga, menjahit baju, mengesol sandal, memerah susu, mengerjakan keperluannya sendiri, dan menambal timba. Namun, begitu tiba waktu shalat, beliau bersegera shalat.”

Dalam riwayat lain disebutkan, “… beliau lalu shalat, seolah beliau tidak mengenal kami (keluarganya) dan kami pun tidak mengenal beliau.” (HR Al-Bukhari)

Di atas itu semua, Nabi saw. sangat lemah lembut kepada keluarganya dalam segala wujudnya. Merangkum seluruh sifat pada diri beliau, ‘Aisyah ra. berkata:

“Beliau adalah manusia terkuat lagi termulia. Beliau adalah seorang lelaki sebagaimana lelaki pada umumnya. Hanya saja, beliau murah senyum.” (HR Al-Bukhari)

Dr. Nizar Abazhah, Bilik-Bilik Cinta Muhammad saw.