Hadirnya Hati ketika Shalat

Perumpamaan orang yang menunaikan shalat tanpa kehadiran hati adalah seperti orang yang menghadiahkan 100 kotak kosong kepada raja. Tentu saja, orang itu pantas dihukum. Sementara, orang yang menunaikan shalat dengan kehadiran hati, dia bagaikan orang yang menghadiahkan permata seharga 1000 dinar kepada raja. Tentu saja, sang raja akan selalu mengingatnya.

Apabila engkau masuk ke dalam shalat, sesungguhnya dirimu tengah bermunajat kepada Allah Azza wa Jalla dan berbicara kepada Rasulullah saw. Bukankah kala itu engkau mengucapkan, “Assalâmualaika ayyuhan-Nabî wa rahmatullâhi wa barakâtuh (salam sejahtera beserta rahmat dan berkah Allah semoga dicurahkan kepadamu wahai Nabi)?”

Ketahuilah, bagi orang Arab, ucapan ayyuhal-rajulu (wahai fulan) hanya ditujukan kepada orang yang hadir bersamanya.

Maka, sungguh shalatnya orang yang disertai kehadiran hati akan berbeda dengan orang yang shalat dengan hati yang lalai. Allah tidak akan menerima doa orang yang hatinya lalai. Rasulullah saw. bersabda, “Allah tidak mengabulkan doa yang bersumber dari hati yang lalai dan lupa (kepada-Nya).” (HR At-Tirmidzi)

Tajul ‘Arûs: Rujukan Utama Mendidik Jiwa, Ibnu Athaillah.

Berapa Jumlah Ayat dalam Al-Quran ? Apakah 6.323 atau 6.616 Ayat ?

Berapa jumlah ayat dalam Al-Quran? Apakah 6.323 atau 6.616 Ayat?

Ada perbedaan di kalangan ulama terkait jumlah ayat dalam Al-Quran. Menurut perhitungan ulama Kufah, seperti Abu Abdurrahman As-Salmi, Al-Quran terdiri atas 6.236 ayat. Adapun menurut Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Quran terdiri atas 6.000 ayat lebih. Al-Alusi menyebutkan bahwa jumlah ayat Al-Quran adalah 6.616 ayat.

Mengapa perhitungannya bisa berbeda? Sesungguhnya, perbedaan dalam menentukan jumlah ayat disebabkan karena perbedaan pandangan tentang kalimat basmallâh pada awal surah dan fawatih as-suwar atau kata-kata pembuka surah, seperti Yâsîn, Alif Lâm Mîm, dan Hâ Mîm. Ada yang menggolongkan kata-kata pembuka tersebut sebagai sebuah ayat dan ada pula yang tidak.

Dengan demikian, perbedaan dalam menentukan jumlah ayat Al-Quran bukan karena perbedaan banyaknya isi Al-Quran melainkan karena adanya perbedaan cara atau metode dalam menghitung. Jadi, semuanya bisa benar

Mengukur Keberkahan Ilmu

Hafizh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah pernah berujar, “Hendaklah kita mengukur ilmu bukan dari tumpukan buku yang kita baca, bukan dari tumpukan naskah yang kita tulis, bukan pula dari penatnya mulut dalam diskusi (atau berceramah), akan tetapi ukurlah dari amal saleh yang keluar dari setiap desahan napas kita.”

Maka, terkait hal ini, ada teladan kebaikan yang dicontohkan oleh Al-Imam Muhammad Idris Asy-Syafi’i. Dalam sejumlah syairnya dia berujar:

“Ilmuku selalu bersamaku dan berguna ke mana pun aku pergi. Dia termuat di hati bukan di dalam laci. Saat aku di rumah, ilmu bersamaku. Atau, ketika di pasar, dia pun ikut menyertai.”

Dia pun berkata, “Al-‘ilmu dakhala ma’a shâhibihil hammâm. Ilmu adalah apa yang masuk ke kamar mandi bersama pemiliknya.”

(Al-Hikam Al-Imam Asy-Syafi’i: Mutiara Hikmah dan Syair Indah Imam Ahlussunnah)

Sebaik-baik Lisan

Alah Taala berfirman : “Hai orang-orang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (QS Al-Ahzab, 33:41-42)

Sebaik-baik lisan adalah yang senantiasa basah dengan zikrullah. Inilah ibadah yang sangat mudah, murah akan tetapi amat dicintai Allah Azza wa Jalla. Siapa mendawamkannya, bukan saja pahala berlipat yang akan dia dapatkan, ketenangan hidup, kelapangan dada, kejernihan pikiran, terbukanya aneka solusi dan aneka keutamaan lainnya akan datang menghampiri.

Istimewanya Surat Al-Fatihah

Al-Fatihah adalah surah pertama dalam mushaf Al-Quran. Surah yang berjumlah tujuh ayat ini turun di Mekkah sehingga termasuk surah Makkiyyah. Dilihat dari waktu turunnya, Al-Fatihah berada pada urutan ke-5, sesudah surah Al-Muddatstsir dan sebelum surah Al-Lahab. Namun demikian, Al-Fatihah adalah surah pertama yang diwahyukan secara utuh tanpa terpenggal-penggal.

Tidak ada keraguan di kalangan para ulama bahwa Al-Fatihah memiliki sejumlah keutamaan yang tidak dimiliki surat-surat lain. Apa sajakah itu?

Ada banyak keistimewaan surat Al-Fatihah. 7 di antaranya adalah: (1) Al-Fatihah adalah surah teragung dalam Al-Quran (HR Ibnu Hibban); (2) Al-Fatihah tidak diturunkan Allah Ta’ala kepada para nabi lain selain Rasulullah saw. (HR Al-Bukhari); (3) Al-Fatihah menjadi bacaan wajib dalam shalat. Tanpa Al-Fatihah, shalat menjadi tidak sah (HR Muslim).

Kemudian, (4) Al-Fatihah adalah cahaya sehingga Allah Ta’ala menurunkannya dengan iringan para malaikat (HR Muslim); (5) Al-Fatihah adalah obat, perlindungan, dan pengundang datangnya pertolongan Allah; (6) Al-Fatihah memiliki banyak sebutan (nama). Setiap nama memiliki satu atau sejumlah keistmewaan. Tiga di antaranya adalah Ummul Qur’ân atau Ummul Kitâb, As-Sab’ul Matsânî, dan Al-Asas; (7) Al-Fatihah menjadi pembuka bagi surah-surah lain yang ada dalam Al-Quran. Kandungannya pun merangkum keseluruhan isi dari Al-Quran (HR Al-Baihaqi)

Vaksin Hati dan Suplemen Iman

Vaksin Hati dan Suplemen Iman

Kedekatan dengan Allah lewat ibadah yang istiqamah adalah kunci didapatkannya ketenangan hidup dan solusi dari aneka permasalahan hidup.

Maka, hidup di zaman ini akan sangat berat apabila diri tidak terus dibooster dengan suplemen zikir dan doa, vitamin sedekah dan tilawah, obat tobat dan shalawat, serta vaksin sujud dan Tahajud.

Kedekatan dengan Allah lewat ibadah yang istiqamah adalah kunci didapatkannya ketenangan hidup dan solusi dari aneka permasalahan hidup.

Maka, hidup di zaman ini akan sangat berat apabila diri tidak terus dibooster dengan suplemen zikir dan doa, vitamin sedekah dan tilawah, obat tobat dan shalawat, serta vaksin sujud dan Tahajud.

“Hai orang-orang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah, 2:153)

4 Kunci Rezeki

Dalam Zâdul Ma’ad, Al-Hafizh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah menasihatkan tentang jalan-jalan rezeki yang bisa kita susuri. Apa yang beliau katakan?

“Ada empat hal yang bisa mendatangkan rezeki, yaitu: (1) qiyamullail atau shalat malam, (2) memperbanyak istighfar pada waktu sahur, (3) membiasakan diri untuk bersedekah, dan (4) senantiasa berzikir pada awal pagi dan petang hari.”