Suami Berderajat Waliyullah

Istri yang cerewet dan bawel, apalagi mudah marah dan pencemburu, adalah ujian yang maksimal bagi seorang suami. Siapa berhasil menghadapinya dengan sepenuh kesabaran, boleh jadi dialah suami yang punya derajat khusus di hadapan Allah Ta’ala.

Ada nasihat berharga dari Imam Al-Ghazali rahimahullah:

“Bersabar dari kata-kata (menyakitkan) yang keluar dari mulut para istri adalah salah satu cobaan para wali.” (Ihya’ Ulumuddin, 2:38)

Teman Pergaulan sebagai Cerminan Kualitas Diri

Siapa teman pergaulan kita itulah diri kita. Orang baik akan berteman dengan orang baik. Ahli gosip akan berkumpul dengan ahli gosip. Penggemar drakor akan nyaman ngobrol dengan sesama penggemar drakor, sebagaimana ahli Al-Quran akan nyaman berkumpul dengan para penghapal Al-Quran.

Maka, lihatlah di mana kita berada, itulah kesejatian diri kita.

Rasulullah saw. bersabda, “Ruh-ruh manusia adalah kelompok yang selalu bersama, maka yang saling bersesuaian di antara mereka akan saling dekat, dan yang tidak bersesuaian akan saling berselisih.”

(HR Al-Bukhari, No. 3158 dan Muslim, No. 2638)

Mengusahakan Kesabaran

Kesabaran bukan barang gratisan. Dia harus diusahakan, dilatih dan terus dilatih, terlebih dalam menjalani hidup berumahtangga, kala bergaul dengan pasangan, kala mendidik anak, kala menjalankan ketaatan dan semua kebaikan.

Siapa yang terus berlatih karena mengharap ridha Allah, niscaya Allah akan hujamkan kesabaran dalam dirinya.

Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang menyabar-nyabarkan diri (berusaha bersabar), niscaya Allah akan menjadikannya orang yang sabar …” (HR Al-Bukhari)

Rumah Medan Jihad Terbaik Seorang Muslim

Jangan sepelekan keberadaan kita di rumah. Sesungguhnya, rumah termasuk medan jihad yang utama. Inilah tempat di mana orangtua mendidik anak-anaknya agar layak menjadi ahli surga. Inilah tempat di mana anak-anak bisa berbakti secara penuh kepada orangtuanya.

Inilah tempat di mana suami istri saling memuliakan, saling menyayangi, saling menunaikan hak dan kewajiban.

Inilah tempat di mana semua penghuninya bisa menikmati makanan dan minuman yang halal dan thayyib, pandangan dan perkataan halal, dan aneka kebaikan yang tidak mungkin didapatkan di luar.

Di rumah pula ajaran Al-Quran bisa diaplikasikan dan sunnah Rasulullah saw. bisa dijalankan dengan leluasa.

Maka, ada satu perkataan yang sangat bagus dari sahabat Abu Darda ra.

“Sebaik-baik tempat ibadah seorang Muslim adalah rumahnya. Di tempat inilah dia bisa menahan lisannya, kemaluannya dan pandangannya. Maka, jauhilah oleh kalian tempat-tempat duduk di pasar (atau di tempat keramaian) karena dia melalaikan dan mendatangkan kesia-siaan.” (Shifatus Shafwah, 1:640-1)

Nasihat Rasululloh SAW kepada Istrinya

Di antara sikap Rasulullah saw. pada keluarganya, terkhusus para istrinya, adalah beliau senantiasa mendorong mereka untuk berbuat baik. Tidaklah beliau bertemu dengan salah seorang mereka, kecuali ada doa atau nasihat kebaikan yang diberikan.

Saat berjumpa dengan ‘Aisyah ra. misalnya, Rasulullah saw. berkata, “Wahai ‘Aisyah, jagalah dirimu dari api neraka walau hanya dengan bersedekah setengah potong kurma.” (HR Ahmad, No. 23980)

Pada kesempatan lain, beliau bersabda, “Wahai ‘Aisyah, bersedekahlah dan jangan menupuk harta. Kalau tidak (bersedekah), niscaya Allah akan menahan rezeki-Nya darimu.” (HR Abu Dawud, No. 1700 dan An-Nasa’i, No. 2549)

Di sini tersirat sebuah pesan bahwa Rasulullah saw. tidak ingin kebersamaan dengan istrinya berlalu begitu saja tanpa ada kebaikan di dalamnya.

 

Istigfar dan Keberuntungan dalam Hidup

Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh beruntung orang yang mendapati pada catatan amalnya istighfar yang banyak.” (HR Ibnu Majah, No. 3818)

Artinya, selain dapat menghapus dan menutupi akibat buruk dari dosa, istighfar pun dapat mendatangkan aneka keberuntungan dalam hidup.

Sesungguhnya, Allah Ta’ala telah berjanji, “Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang beriman, agar kamu beruntung” … (QS An-Nûr, 24:31)

Bagaimana tidak beruntung, dengan memperbanyak istighfar, Allah Ta’ala akan bukakan aneka kebaikan bagi ahli istighfar. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah saw.

“Siapa melazimkan istighfar, niscaya Allah Ta’ala akan (1) menjadikan baginya jalan keluar atas segala kesusahannya, (2) kelapangan atas segala kesempitannya, dan (3) dia akan dikaruniai rezeki dari jalan yang tiada disangka-sangka olehnya.” (HR Abu Dawud, No. 1520 dan Ibnu Majah, No. 3951)

Dahsyatnya Kalimat Tahlil dan Istigfar

“Perbanyaklah mengucapkan lâ ilâha illâllâh dan istighfar,” sabda Rasulullah saw. suatu ketika, “sebab setan mengaku, ‘Aku celakakan manusia dengan dosa-sosa, tetapi mereka binasakan aku dengan lâ ilâha illâllâh dan istighfar. Kalau begitu, aku akan membuat mereka binasa dengan hawa nafsu sampai mereka mengira telah memperoleh hidayah dan tidak beristighfar lagi.” (HR Abu Musa dari Abu Bakar Shiddiq)

Rasulullah saw. pun menceritakan bahwa Iblis pernah bersumpah di hadapan Allah Ta’ala, “Demi kemuliaan dan keagungan-Mu, aku akan terus menerus menyesatkan anak cucu Adam selama jiwa dikandung badan.” Allah Ta’ala pun menjawab, “Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku tidak akan berhenti mengampuni mereka selama mereka memohon kepada-Ku.” (HR Ahmad dan Al-Hakim dari Abu Sa’id)

Ihya Ali Ubaid, Tsawâb Al-‘A’mâl (Terjemah: Ensiklopedia Pahala)