Binatang pun Harus Sayang

Berhati-hatilah dari berlaku zalim, bahkan kepada hewan sekalipun. Sesungguhnya, hal tersebut bisa mendatangkan kesulitan pada Hari Kiamat.

Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang membunuh seekor burung kecil secara sia-sia, burung itu akan berteriak kepada Allah pada hari Kiamat. ‘Wahai Rabbku, tanyalah kepada orang ini, mengapa dia membunuhku secara sia-sia dan tidak membunuhku untuk menfaat tertentu’.” (HR An-Nasa’i dan Ibnu Hibban)

Maka, sahabat Ibnu Mas’ud ra. mengisahkan salah satu pengalamannya. “Kami pernah bersama Rasulullah saw. dalam suatu perjalanan. Kemudian, beliau pergi untuk suatu keperluan.

Kami (kemudian) melihat seekor burung dan kedua anaknya. Lalu, kami mengambil kedua anak burung tersebut. Beberapa saat kemudian, induknya datang sambil mengepak-ngepakkan sayap.

Memakna Kalimat Tasbih, Tahmid, dan Takbir

Zikir yang kita lakukan akan terasa nikmat, menenangkan, menenteramkan dan membawa pengaruh dahsyat dalam kehidupan, manakala dilafazkan dengan sepenuh pemahaman, rasa takzim dan khusyuk.

Kalimat-kalimat zikir akan menjadi obat bagi hati yang sakit, sekaligus air dingin yang menyegarkan bagi dahaga jiwa yang akut.

Maka, tidak sekadar mengucapkan dan membacanya berulang-ulang, memahami dan meresapi apa yang kita baca merupakan sebuah keharusan. Hanya dengan cara inilah, zikrullah akan membawa perubahan dalam hidup.

Maka, Ibnu Atha’ilah As-Sakandari menasihatkan:

Ketika engkau mengucapkan “subhânallâh”, hendaklah tertanam pensucian terhadap Allah dalam hatimu. Karena itulah, kalimat tasbih disyariatkan untuk dibaca kala ruku, sujud, dan selepas shalat.

Ketika engkau melafalkan “alhamdulillâh”, yaitu pengakuan bahwa segenap nikmat datang dari Allah dan semua adalah milik-Nya, hendaklah tertanam rasa syukur di dalam hatimu.

Ketika engkau menyuarakan “Allâhu Akbar”, hendaklah terpancang pula makna pengangungan di dalam hatimu.

Maka, setiap zikir menanamkan makna dan kebenaran akan ma’rifat (pengenalan) Ilahiyah dalam hati sesuai dengan kebutuhanmu.

Adab Adik kepada Kakak dan Kakak kepada Adik

Ada hal yang kerap terlupakan di rumah. Apakah itu?
Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairy, dalam Minhajul Muslim, mengatakan bahwa adab kepada saudara ternyata sama seperti adab kepada ayah dan anak.

Maka, adab seorang adik kepada kakanya sama seperti adabnya kepada ayah. Dan, adab seorang kakak kepada adiknya sama seperti adabnya seorang ayah kepada anaknya.

Adab ini berlaku dalam masalah hak, kewajiban dan etika.

Rasulullah saw. bersabda, “Hak seorang kakak atas adiknya adalah sama seperti hak seorang ayah atas anaknya.” (HR Al-Baihaqi, Kanzul Ummal, dan Misyakâtul Mashâbih)

“Berbaktilah kepada ibumu dan ayahmu, kemudian (kepada) saudara perempuanmu dan saudara laki-lakimu, kemudian kepada yang ada di bawahmu dan yang di bawahmu.” (HR Al-Hakim dan Al-Bazzar)

Buruknya Kehilangan Shalat Subuh Berjaah

Suatu hari, Umar bin Khathab ra. merasa kehilangan (tidak menjumpai) Sulaiman bin Abi Hatsmah saat shalat Subuh. Lalu, Umar pergi ke pasar pagi-pagi, sementara tempat tinggal Sulaiman terletak antara masjid dan pasar. Saat itulah, Umar berjumpa dengan ibunda Sulaiman yang bernama Asy-Syifa’.
Umar pun bertanya kepadanya, “Aku tidak melihat Sulaiman saat shalat Subuh.”
Ibunya Sulaiman menjawab, “Dia menghabiskan malam dengan mengerjakan shalat, lalu dia pun dikalahkan oleh kedua matanya (ketiduran saat datangnya waktu shalat Subuh).”

Maka, Umar bin Khathab berkata, “Sungguh, menghadiri shalat Subuh berjamaah lebih aku sukai dibandingkan aku mengerjakan shalat semalam suntuk.”
Al-Muwaththa’ Imam Malik, No. 432 dan Syu’abul Iman, Imam Al-Baihaqi, No. 2617.

Jangan Lupakan Tiga Puluh Ayat Ini Sebelum Tidurmu

Setiap surat dalam Al-Quran memiliki keistimewaannya tersendiri. Demikian pula dengan surat Al-Mulk. Dia termasuk surat yang sering dibaca oleh Nabi saw. Dalam kitab Kanzul ‘Ummâl, disebutkan sebuah hadits dari Abu Ayyub Al-Anshari bahwa Nabi saw. membacanya saat mengimami shalat Subuh.

Beliau pun mendawamkan diri untuk membacanya saat menjelang tidur malam. Sesungguhnya, Nabi saw. tidak tidur pada malam hari, kecuali beliau membaca surah Al-Mulk (HR At-Tirmidzi, Ahmad dan An-Nasa’i dari Jabir ra.)

Abdullah Mas’ud ra. pun berkata, “Siapa membaca tabârakalladzî biyadihil mulku (surah Al-Mulk) setiap malam, niscaya Allah akan menghalanginya dari siksa kubur. Kami pada masa Rasulullah saw. menamakan surat tersebut Al-Mâni’ah (benteng penghalang; kata al-mâni’ah sendiri merupakan isim fâ’il dari kata mana’a yamna’u yang berarti menghalangi). Dia adalah salah satu surat di dalam Kitabullâh. Siapa membacanya setiap malam, niscaya dia telah memperbanyak dan telah berbuat kebaikan.” (HR Al-Hakim dan An-Nasa’i)

Hadirkan Syafaat Melalui Shalat

Jagalah shalat yang lima waktu. Lalu, sempurnakan dia dengan menjaga shalat-shalat sunnat yang biasa ditunaikan oleh Rasulullah saw. Sesungguhnya kelak, shalat-shalat itu akan memberi syafaat bagi orang-orang yang menjaganya.

Rasulullah saw. bersabda, “Apabila seorang hamba menjaga shalatnya, menyempurnakan wudhunya, rukuknya, sujudnya, dan bacaannya, maka shalat itu akan berkata, ‘Semoga Allah menjagamu seperti engkau menjagaku’, (lalu) dia naik dengannya ke langit dan cahayanya sampai kepada Allah dan shalat (pun) memberi syafaat kepadanya.” (HR Ath-Thabrani)

Jangan sampai kita menyepelekan dan menyia-nyiakan shalat sehingga kelak Allah akan menyelepelekan dan menyia-nyiakan (tidak menolong kita) di akhirat. Dan, inilah seburuk-buruk keadaan bagi seorang manusia.

Amal dalam Kesendirian sebagai Indikator Keimanan

Jangan sepelekan keadaan saat sepi sendiri. Apa yang dilakukan saat itu bisa menjadi indikator baik tidaknya keimanan seorang hamba. Apakah bisikan malaikat yang dominan di dalam hatinya ataukah bisikan setan yang kuat berakar dalam qalbunya.

Jika setan yang lebih dominan, dia akan menjadikan kesendiriannya sebagai ajang bermaksiat kepadanya.

Maka, ada satu nasihat dari Samurah bin Jundub ra. Dia berkata, “Siapa ingin mengetahui posisi (pengaruh) setan pada dirinya, hendaknya dia memperhatikan amal-amal yang dia lakukan saat sendirian.” (Az-Zuhd Li Ibnil Mubarak)