Tasq 12 Agustus

Amalan Calon penghuni Surga

Sahabat TasQ, Ingin melihat calon penghuni surga yang hadir di dunia? Mudah saja, lihat saja waktu malamnya, apakah dia istiqamah dalam Tahajudnya ataukah tidak. Sesungguhnya, salah satu kebiasaan para ahli surga adalah gemar menghidupkan malam-malamnya dengan shalat dan munajat.

Manakala orang-orang terlelap dalam tidurnya, dia bangun dan bersujud, merendah dan menumpahkan harapan di hadapan Rabbnya.

Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam taman-taman (surga) dan mata air-mata air, sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Dahulu di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohon ampunan pada waktu sahur (menjelang fajar).” (QS Adz-Dzâriyât, 51:15-18)

#Ingin berlangganan Tausiyah Harian dari Team Tasdiqul Quran,

#INFORMASI TAUSIYAH HARIAN

📲HUBUNGI CHAT WA : 0812.2367.9144

Semoga informasi ini bermanfaat ya.

Nutrisi Terbaik bagi Jiwa

Ada banyak pelajaran yang bisa diberikan orangtua kepada anaknya. Namun, dari semua pengajaran, tidak ada yang lebih baik lagi paling pantas untuk diberikan, selain pengajaran Al-Quran.

Ada satu nasihat yang layak kita renungkan, “JIka bekal terbaik bagi kehidupan adalah takwa, menuntun anak untuk belajar mengaji Al-Quran adalah nutrisi terbaik yang harus diberikan orangtua kepada anak-anaknya.”

(Dr. KH Ahsin Sakho Muhammad, Oase Al-Qur’an)

Nasihat untuk Kaum Hawwa

Rasulullah saw. amat mencintai umatnya. Beliau tidak ingin ada seorang pun dari umatnya yang masuk neraka, termasuk dari kalangan kaum wanita.

Maka, beliau tidak pernah lelah memberikan tadzkirah agar mereka tidak sampai celaka.

Satu dari sekian banyak nasihat Rasulullah saw. adalah:

“Wahai kaum wanita, bersedekahlah dan perbanyaklah istighfar. Sungguh, aku telah melihat kebanyakan dari kalian adalah penghuni neraka.

Lantas, ada seorang wanita menukas dengan bertanya, ‘Mengapa (kaum) kami banyak menghuni neraka?’ Nabi saw. menjawab, ‘Kalian banyak melaknat dan mengingkari (kebaikan) suami’.” (HR Muslim, No. 79)

Nasihat Syaikh Muhammad Syakir

Satu hari, Syaikh Muhammad Syakir berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, apabila ada seorang temanmu yang merasa sulit memahami sebuah masalah (pelajaran) lantas meminta penjelasan kepada Ustadz, dengarkanlah jawaban ustadzmu. Bisa jadi, dengan pengulangan itu engkau mendapatkan pelajaran yang sebelumnya tidak engkau ketahui.”

Beliau pun berkata, “Berhati-hatilah, jangan sampai engkau mengucapkan perkataan yang menunjukkan penghinaan kepadanya, atau engkau menampakkan raut muka yang meremehkan daya pikirnya.

Wahai anakku, pernah ditanyakan kepada Imam Abu Hanifah rahimahullah, ‘Dengan apa Anda bisa mencapai derajat ilmu seperti ini?’ Beliau menjawab, ‘Aku tidak bakhil untuk memberi faedah ilmu, tidak pula enggan meminta orang lain memberi faedah ilmu kepadaku’.”

(Washaya Al-Aba’ lil Abna’)

Inilah yang Harus Kita Perbanyak dalam Hidup

Membaca Al-Quran secara istiqamah bukan saja mendatangkan limpahan pahala, tetapi juga membawa efek positif bagi kesehatan jiwa dan fisik.
Bagaimana bisa?

Dalam sebuah tulisannya, Dr. Luqman Santoso menyebutkan bahwa dalam susunan Al-Quran terkandung sistem jaringan konsisten yang mencerminkan struktur tubuh manusia. Oleh karena itu, agar bacaan Al-Quran kita benar-benar berfungsi optimal (memberikan efek positif lahir batin), cara membacanya sebaiknya dilakukan juz per juz bukan surat per surat.

Maka, apabila Al-Quran digambarkan sebagai satu kesatuan atau satu sistem bacaan, juz per juz adalah sub-sistem bacaannya.

Bukankah dalam setiap juz terdapat unsur surat, ayat, dan aneka simbol penanda yang relatif konsisten?

Dengan demikian, saat seseorang membaca Al-Quran juz per juz secara rutin (konsisten), apa yang dilakukannya itu akan mampu menyembuhkan atau setidaknya meminimalisasi keparahan dari penyakit yang dideritanya.

(Luqman Abdul Qohar Sumabrata, dkk. Fenomenologi Al-Quran, 1991: hlm. 164)

Efek Membaca Al-Quran Juz per Juz

Membaca Al-Quran secara istiqamah bukan saja mendatangkan limpahan pahala, tetapi juga membawa efek positif bagi kesehatan jiwa dan fisik.
Bagaimana bisa?

Dalam sebuah tulisannya, Dr. Luqman Santoso menyebutkan bahwa dalam susunan Al-Quran terkandung sistem jaringan konsisten yang mencerminkan struktur tubuh manusia. Oleh karena itu, agar bacaan Al-Quran kita benar-benar berfungsi optimal (memberikan efek positif lahir batin), cara membacanya sebaiknya dilakukan juz per juz bukan surat per surat.

Maka, apabila Al-Quran digambarkan sebagai satu kesatuan atau satu sistem bacaan, juz per juz adalah sub-sistem bacaannya.

Bukankah dalam setiap juz terdapat unsur surat, ayat, dan aneka simbol penanda yang relatif konsisten?

Dengan demikian, saat seseorang membaca Al-Quran juz per juz secara rutin (konsisten), apa yang dilakukannya itu akan mampu menyembuhkan atau setidaknya meminimalisasi keparahan dari penyakit yang dideritanya.

(Luqman Abdul Qohar Sumabrata, dkk. Fenomenologi Al-Quran, 1991: hlm. 164)

Bahayanya Menyakiti Orang Beriman

Berhati-hatilah dari menyakiti orang-orang beriman. Sebab, di sana ada keburukan yang amat sulit dicarikan obatnya.

“Dan mereka yang menyakiti orang Mukmin laki-laki dan perempuan, tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh, mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS Ah-Ahzab, 33:58)

Terkait hal ini, Ibnu Atha’ilah As-Sakandari dalam kitab Tâjul ‘Arûs menuliskan:

“Siapa memuliakan orang Mukmin, maka seolah dia memuliakan Allah. Namun, siapa menyakiti orang Mukmin (baik dengan lisan atau perbuatan), maka seakan-akan dia menyakiti Rabbnya.

Maka, janganlah dirimu sampai menyakiti orang Mukmin. Jika sampai melakukannya, dirimu sudah dipenuhi keburukan yang sangat berat untuk kau pikul.”