Saat si Kakak Punya Adik Baru

Dalam kitab Shifatush Shafwah karya Al-Hafizh Ibnul Jauzi, terungkap sebuah nasihat indah dari Muhammad bin Ali bin Al-Husain rahimahullah kepada putranya.

Beliau berkata, “Wahai anakku, jauhilah olehmu sifat malas dan banyak mengeluh. Sesungguhnya, kedua sifat itu merupakan kunci dari segala keburukan.

Apabila engkau malas, niscaya engkau tidak akan mampu menunaikan kewajibanmu. Apabila engkau banyak mengeluh, niscaya engkau pun tidak akan sabar dalam menunaikan kewajibanmu itu.”

Nasihat untuk Ananda

Dalam kitab Shifatush Shafwah karya Al-Hafizh Ibnul Jauzi, terungkap sebuah nasihat indah dari Muhammad bin Ali bin Al-Husain rahimahullah kepada putranya.

Beliau berkata, “Wahai anakku, jauhilah olehmu sifat malas dan banyak mengeluh. Sesungguhnya, kedua sifat itu merupakan kunci dari segala keburukan.

Apabila engkau malas, niscaya engkau tidak akan mampu menunaikan kewajibanmu. Apabila engkau banyak mengeluh, niscaya engkau pun tidak akan sabar dalam menunaikan kewajibanmu itu.”

Kisah di Antara Dua Tiang Masjid

Islam menghendaki kemudahan dan menghindari kesulitan dalam ibadah. Ketika sehat dan keadaan normal, lakukan ibadah dengan sempurna. Namun, saat sakit atau ada uzur, lakukan ibadah semampunya sesuai rukhshah (kemudahan) yang telah ditetapkan.

Anas bin Malik ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. memasuki masjid. Beliau kemudian menemukan seutas tali yang terikat di antara dua tiang. Beliau pun bertanya, “Apa ini?”

Orang-orang menjawab, “Itu kepunyaan Zainab. Dia shalat dan saat dia terlambat atau merasakan letih, dia akan berpegangan padanya.”

Mendengar hal itu, Nabi saw. bersabda, “Lepaskanlah ikatannya. Biarlah seseorang beribadah selama diri merasa segar (kuat). Akan tetapi, saat merasa letih hendaklah dia berhenti.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

“Riwayat ini menjadi bukti bahwa seseorang tidak diperkenankan untuk memaksakan diri dalam ibadah (terlebih ibadah sunnah) dan dia harus seimbang.

Selayaknya seseorang beribadah dalam keadaan segar bugar. Ketika merasa letih, mereka hendaknya berhenti dan bisa kembali melanjutkan ibadahnya saat sudah segar kembali,” demikian tulis Imam An-Nawawi.

(Syarh An-Nawawi alâ Muslim, 73:6

Efek Dahsyat Mengikuti Sunnah Rasulullah SAW

Siapa menginginkan kebaikan, kesuksesan, kejayaan dan keberkahan dalam hidupnya, wajib baginya untuk mengikuti sunnah Rasulullah saw. sekemampuan diri mengikutinya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Setiap orang yang mengikuti Rasulullah saw. (mewajibkan dirinya untuk berkomitmen dengan adab-adab sunnah), niscaya Allah akan mencukupinya, memberinya petunjuk, menolongnya dan memberinya rezeki.” (Al-Qâ’idah Al-Jalîlah, 1/160)

Ketika seseorang berkomitmen pada sunnah Rasulullah saw. niscaya Allah Azza wa Jalla akan menerangi hatinya dengan cahaya ma’rifah (pengetahuan).

Tidak ada kedudukan yang lebih mulia daripada mengikuti Rasulullah saw. dalam beragam perintah, perbuatan dan akhlaknya. Demikian Al-Hafizh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah menerangkan (Madârijus Sâlikîn, 2/644)

Bacalah Mushaf ! Ada Keberkahan di Dalamnya

Ingin tahu bermasalah tidaknya hati kita? Ingin tahu berpenyakit tidaknya qalbu kita? Ingin tahu kotor tidaknya sanubari kita? Jadikan bacaan Al-Quran sebagai ukuran.

Hati tengah bermasalah manakala tangan terasa kaku untuk membuka mushaf. Lisan seakan kelu untuk membaca Al-Quran. Tubuh pun amat malas saat diajak duduk bertilawah.

Ada satu nasihat dari Utsman bin Affan ra. yang bisa kita jadikan pegangan.

Dia berkata, “Seandainya hati kita bersih, niscaya kita tidak akan puas membaca Kalamullah (Al-Quran).” (Ighatsatul Lahfan, 1/64)

Parameter Bermasalah Tidaknya Hati Kita

Ingin tahu bermasalah tidaknya hati kita? Ingin tahu berpenyakit tidaknya qalbu kita? Ingin tahu kotor tidaknya sanubari kita? Jadikan bacaan Al-Quran sebagai ukuran.

Hati tengah bermasalah manakala tangan terasa kaku untuk membuka mushaf. Lisan seakan kelu untuk membaca Al-Quran. Tubuh pun amat malas saat diajak duduk bertilawah.

Ada satu nasihat dari Utsman bin Affan ra. yang bisa kita jadikan pegangan.

Dia berkata, “Seandainya hati kita bersih, niscaya kita tidak akan puas membaca Kalamullah (Al-Quran).” (Ighatsatul Lahfan, 1/64)

Bulan Allah dan Puasa untuk Allah

Al-Muharram adalah syahrullah (bulan Allah). Adapun puasa adalah amalan yang dinisbatkan kepada Allah.

“Setiap amal anak Adam adalah untuk dirinya, kecuali puasa. Karena sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya …” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Maka, sangat cocok untuk dikhususkan bulan yang dinisbatkan kepada Allah dengan amalan yang juga dinisbatkan kepada-Nya dan dikhususkan kepada-Nya, yaitu puasa.

Inilah di antara makna hadits Rasulullah saw. “Shaum yang paling utama setelah (shaum) Ramadhan adalah (shaum) pada bulan Allah (bulan) Al-Muharram …” (HR Muslim)

Adapun sebaik-baik puasa di bulan Allah, adalah shaum Asyura (10 Muharram). Siapa melakukannya ada penghapusan dosa setahun yang lalu untuknya (HR Muslim)