Cara Cerdas untuk Bahagia

Bahagia adalah hak semua orang. Bahagia tidak memandang harta, pangkat, popularitas, ketampanan, kekuatan dan beragam aksesories duniawi. Maka, siapapun layak untuk mendapatkannya selama dia bisa memenuhi persyaratannya.

Apa itu?

Satu yang tepenting adalah manakala ada rasa syukur di dalam hati. Saat seseorang mampu mensyukuri nikmat Ilahi, maka Allah akan berikan bonus kebaikan baginya, yaitu ketenangan dan kebahagiaan.

Doa Pertobatan

Rabbanâ zhalamnâ annfusanâ wa illam taghfir-lanâ wa tarhamnâ lanakûnanna minal-khâsirîn.

“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS Al-A’râf, 7:23)

Sahabat TasQ, Dari sekian banyak doa, inilah salah satu doa teragung dalam Al-Quran. Doa ini diucapkan oleh Nabi Adam as. dan istrinya sebagai bentuk pertobatan kepada Allah Ta’ala.

Redaksi doa ini menunjukkan bahwa sekecil apa pun dosa akan berakibat pada hadirnya balasan atau hukuman, kecuali kalau Allah Ta’ala mengampuni.

Maka, siapapun yang terjatuh ke dalam dosa dan maksiat, kemudian mengakui kesalahan, meminta ampunan, menyesalinya dan berhenti melakukan dosa, niscaya Allah Ta’ala akan memilihnya dan memberinya petunjuk sebagaimana Adam.

Sebaliknya, siapa yang ketika terjatuh ke dalam dosa, kemudian berputus asa dan semakin bertambah dosanya, niscaya dia serupa dengan Iblis; dia semakin jauh dari Allah. (Tafsir Hidayatul Insan, 2:7)

Wibawa Seorang Ulama

Al-Hafizh Ibnu Al-Jauzi, dalam Shifatush Shafwah, 3/361 berkisah tentang sosok ahli ilmu sekaligus ulama zuhud yang sangat dicintai umat, Hammad bin Salamah bin Dinar namanya.

Kala itu, Muhammad bin Sulaiman, Gubernur Basrah (Iraq) yang sangat berpengaruh pada masa awal Dinasti Abbasiyah, mendatangi kediaman Hammad.

Sang Gubernur, yang kala itu sebutan namanya saja sudah cukup menggetarkan banyak orang, mengucapkan salam dan duduk di hadapan Hammad. Dia pun berkata dengan suara pelan.

“Jika aku memandang wajahmu, mengapa hatiku takut?”

Hammad pun berkata, “Aku mendengar Tsabit Al-Banani berkata: Aku mendengar Anas bin Malik berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda:

‘Sesungguhnya, seorang ulama apabila dia menjadikan ilmunya untuk (menggapai) ridha Allah (wajhullâh), niscaya segala sesuatu akan takut kepadanya.

Namun, apabila dia menjadikan ilmunya untuk menumpuk harta (atau meraih aneka kenikmatan dunia), niscaya dia akan takut kepada segala sesuatu’.”

Nimatnya Kebersamaan dalam Ketaatan

Ada banyak kenikmatan dalam hidup berumahtangga. Namun, tiada yang paling nikmat selain kebersamaan dalam ketaatan; dalam ibadah; dan dalam menggapai keridhaan-Nya.

Maka …

Makan berdua di restoran itu nikmat. Namun, dia tak senikmat kala saat bisa sahur dan buka shaum bersama.

Traveling berdua itu indah. Namun, dia tak seindah kala bisa shalat Tahajud bersama.

Shoping berdua itu sesuatu banget. Namun, dia tak seromantis kala bisa khatam Al-Quran bersama.

Dan, semua akan terasa lengkap apabila anak-anak dan seiisi rumah bisa ikut serta dalam khafilah ketaatan bersama ayah dan ibunya.

Efek Jaminan Keamanan bagi Umat Rasulullah SAW

Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya, Allah Ta’ala menurunkan untuk umatku dua jaminan keamanan.”

Beliau kemudian membacakan ayat, “Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedangkan engkau (wahai Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah pula Allah akan mengazab mereka, sedangkan mereka meminta ampun (beristighfar).” (QS Al-Anfâl, 8:33)

Maka, sambung Rasulullah saw., “Jika aku sudah tiada, aku telah meninggalkan istighfar di tengah-tengah mereka sampai hari Kiamat.” (HR At-Tirmidzi)

Berdasarkan hadits yang mulia ini, ada dua jaminan keamanan yang Allah Ta’ala turunkan kepada orang-orang beriman, yaitu Rasulullah saw. dan istighfar.

Maka, agar hidup kita terjamin, hadirkanlah Rasulullah saw. dalam keseharian kita, yaitu dengan membanyak shalawat kepadanya, menjaga dan menghidupkan sunnahnya, serta memperbanyak istighfar (memohon ampunan) kepada-Nya. Sungguh, inilah dua kunci keselamatan sekaligus kebahagiaan seorang Muslim.

Apakah Saat di Mekkah Nabi SAW Berpuasa Asyura

Hari Asyura termasuk salah satu hari hari mulia dalam setahun. Para nabi sebelum Rasulullah saw. memuliakan dan mensucikannya. Nabi Nuh as. dan Nabi Musa as. misalnya, mereka memuliakan hari Asyura dengan menunaikan puasa di dalamnya.

Bagaimana dengan Rasulullah saw.? Sebagaimana para nabi lainnya, beliau pun memuliakan hari Asyura dengan berpuasa di dalamnya. Bahkan, beliau telah menunaikannya sejak sebelum hijrah ke Madinah.

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa ‘Aisyah ra. berkata:

“Dahulu (hari) Asyura adalah hari di mana orang-orang Quraisy berpuasa pada masa jahiliyah dan Nabi saw. pun berpuasa pada hari itu. Lalu ketika Nabi saw. tiba di Madinah, beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan orang-orang untuk berpuasa. Lalu setelah kewajiban puasa Ramadhan telah turun, maka puasa bulan Ramadhan itulah yang beliau lakukan … ” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Berilah Pasanganmu Minuman untuk Berbuka

Dari Al-Irbadh bin Sariyah ra. Rasulullah saw. bersabda:

“Seorang suami pasti akan diberi pahala (oleh Allah) ketika memberi minum istrinya.” (HR Ahmad)

Jika memberi minum pada kondisi biasa saja sudah berpahala, bagaimana lagi saat suami memberi minum istrinya ketika berbuka puasa?

Bagaimana lagi jika minumannya dibumbui serbuk doa, ditaburi topping cinta, diseduh dengan kasih sayang, dan dipermanis dengan gula-gula perhatian dan kesetiaan?

Hanya Allah yang tahu berapa besar pahalanya!