Satu Tarikan Nafas = Satu Langkah Menuju Kubur

Hidup hanya sekali. Amat merugi kalau hidup yang hanya sekali ini berakhir dengan kegagalan. Maka, seorang Mukmin akan sangat perhatian terhadap menit demi menit waktu yang dimilikinya.

Dia tidak ingin setiap jengkal kehidupannya kecuali diisi dengan kebaikan. Dia tidak ingin setiap tarikan nafasnya menjadi sia-sia tanpa ada nilai amal di dalamnya. Dan tentu saja, dia tidak ingin mati kecuali dalam ketaatan kepada-Nya.

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS Al-Ashr, 103:1-3)

Syukuri Apa yang Ada. Senangi Apa yang Terjadi

Kata orang yang belum punya anak, “Duh senangnya ya kalau punya anak!”

Kata orang yang belum menikah, “Duh senangnya kalau bisa cepat nikah!”

Kata orang yang belum punya rumah, “Duh senangnya ya kalau punya rumah sendiri, tidak ngontrak!”

Ada banyak hal yang kita inginkan dalam hidup: ingin menikah, ingin punya anak, ingin punya rumah, ingin ini ingin itu! Boleh-boleh saja sih. Hanya saja, apa yang kita inginkan kerap belum menjadi kenyataan. Jika demikian, jangan kecewa, jangan berburuk sangka, apalagi berputus asa. Syukurilah apa yang ada agar Allah memberikan apa yang belum ada.

Ada satu kata nasihat dari Ali bin Abi Thalib ra. “Apabila sesuatu yang kau senangi belum terjadi, senangilah apa yang terjadi!”

4 Pesan Rasulullah SAW, untuk Keluarga Kita

Andai orangtua hendak berwasiat kepada anak-anaknya, empat nasihat Rasulullah saw. ini dapat dijadikan panduan. Tentu saja, setelah kita (sebagai orangtua) berusaha pula untuk mengamalkannya.

Rasulullah saw. bersabda, “Empat hal yang jika semuanya ada padamu, dunia yang meninggalkanmu niscaya tidak akan membahayakanmu: menjaga amanah, berkata jujur, berakhlak mulia, dan menjaga diri dari makanan (harta) haram.” (HR Ahmad, Al-Hakim dan Al-Baihaqi)

Tasq 25 Agustus

Mendoakan Orang lain dalam shalat

Sahabat TasQ, Benarkah kita cinta kepada orangtua, guru, pasangan, anak, sanak saudara, teman karib, dan tetangga? Jika benar, berapa kali dalam sehari kita mendoakannya? Jika tidak bisa setiap hari, berapa kali dalam seminggu kita mendoakannya?

Sesungguhnya, tidak dikatakan anak yang baik, murid yang baik, pasangan yang baik, orangtua yang baik, saudara, karib kerabat dan tetangga yang baik, apabila kita kurang peduli lagi tidak mau mendoakan orang-orang di sekitar kita.

Kita dapat belajar dari sosok Abu Darda, salah seorang sahabat Nabi saw. dari kalangan Anshar.

Istrinya (yaitu Ummu Darda ra.) berkata, “Abu Darda mempunyai 360 sahabat karena Allah yang selalu dia doakan dalam shalat. Aku menanyakan hal itu kepadanya.

Dia kemudian menjawab, ‘Tidaklah seseorang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan dirinya, kecuali Allah menugaskan dua malaikat untuknya. Mereka berkata: bagimu kebaikan yang sama. Maka, apakah aku tidak ingin didoakan oleh para malaikat?'”

Imam Adz-Dzahabi, Siyar A’lam An-Nubala’, (2:351)

#Ingin berlangganan Tausiyah Harian dari Team Tasdiqul Quran,

#INFORMASI TAUSIYAH HARIAN

📲HUBUNGI CHAT WA : 0812.2367.9144

Semoga informasi ini bermanfaat ya.

Tasq 23 Agustus

Cita-Cita diAkhir Usia

Sahabat TasQ, Kalaulah ada targetan terbesar dalam hidup, bisa mengucapkan ‘lâ ilâha illallâh’ (tiada tuhan selain Allah) di akhir kehidupan adalah target yang wajib kita usahakan. Siapa mampu melakukannya, dia telah mendapati sebesar-besarnya kesuksesan di dunia.

Ada janji yang pasti dari Rasulullah saw. “Siapa yang akhir perkataannya (sebelum meninggal dunia adalah kalimat) ‘lâ ilâha illallâh’ niscaya dia akan masuk surga.” (HR Abu Dawud, No. 2709)

Target perlu diwujudkan melalui doa, ilmu, kerja keras dan kesungguhan. Maka, siapa menginginkan lisannya mengucapkan kalimat thayyibah di akhir hidupnya, dia layak menjadikan kalimat tersebut sebagai zikir hariannya, prinsip kehidupannya dan ruh dari setiap gerak dan amal perbuatannya.

Hanya dengan cara inilah, Allah Azza wa Jalla akan meridhai kita untuk mengucapkannya di kala sakaratul maut datang menjemput.

#Ingin berlangganan Tausiyah Harian dari Team Tasdiqul Quran,

#INFORMASI TAUSIYAH HARIAN

📲HUBUNGI CHAT WA : 0812.2367.9144

Semoga informasi ini bermanfaat ya.

Apakah Anda termasuk Orang Berilmu ?

Segala sesuatu ada cirinya. Segala sesuatu ada tandanya. Demikian halnya dengan orang berilmu (ulil albab), dia memiliki ciri khas yang membedakannya dengan orang jahil.

Apakah itu? Al-Harits Al-Muhasibi, dalam Risâlah Al-Mustarsyidîn, menyebutkan sejumlah ciri orang-orang berilmu:

“Jika melihat, dia mengambil pelajaran. Jika diam, dia berpikir. Jika berbicara, dia berzikir. Jika tidak diberi, dia bersabar. Jika diberi, dia bersyukur. Jika tertimpa musibah, dia mengucapkan istirja’ (inna lillâhi).

Jika dikatai bodoh (dihina), dia tidak marah. Jika mengetahui, dia rendah hati. Jika mengajar, dia bersikap lembut. Dan, jika diminta, dia memberi.”

Lakukan Saja ! Jangan Berharap Terima Kasih

Manusiawi memang, saat kita memberi atau membantu seseorang atau lembaga, kemudian kita merasa kecewa karena tidak ada yang menghargai, mengapresiasi, atau setidaknya mengucapkan terima kasih.

Namun, bagi orang beriman, inilah awal datangnya keberkahan. Mengapa? Kita bisa lebih fokus kepada Allah. Kita bisa belajar untuk menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan dan sebaik-baik pemberi balasan.

Sesungguhnya, saat kita mengharapkan apresiasi dan pujian manusia, saat itulah kita tidak lagi merasa cukup (atau tidak yakin) dengan apresiasi dan balasan berlipat dari Allah. Sehingga, kita membutuhkan pujian manusia.

Cukuplah ayat Al-Quran sebagai pegangan:

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (QS Al-Insân, 76:9)