Istighfar sebagai Solusi

Jangan sepelekan istighfar. Dia bukan sekadar tanda penghambaan dan kelemahan diri di hadapan Ilahi. Istighfar pun adalah kunci pembuka pintu-pintu solusi atas aneka masalah yang kita hadapi.

Cukuplah janji Rasulullah saw. sebagai bukti. Beliau bersabda:

“Siapa yang melazimkan istighfar, niscaya Allah Ta’ala akan membebaskannya dari segala kesusahan dan kesedihan, serta melapangkannya dari setiap kesempitan, dan akan mengaruniakan kepadanya rezeki dari jalan yang tidak terduga.” (HR Abu Dawud)

Maka, tidak mengherankan apabila Ibnu Taimiyah sampai berkata, “Kapan pun aku mendapati masalah yang tidak bisa aku tangani, aku beristighfar ribuan kali sampai sehingga dadaku terasa lapang dan Allah hilangkan semua masalah yang aku hadapi.”

Saat Allah Malu Menghisab Hamba-Nya

Dalam sehari semalam, luangkanlah sebagian dari waktu kita untuk bertafakur dan menghisab diri, mengoreksi amal-amal yang telah dilakukan, memohon ampun atas segala kesalahan, dan memohon kepada Allah agar diteguhkan dalam kebenaran.

Hal ini penting untuk dilakukan agar kita senantiasa terjaga dalam kebenaran.

Ada satu nasihat luar biasa dari Sari As-Saqathi, “Barangsiapa menghisab dirinya, Allah pun malu untuk menghisabnya.” (Shifatush-Shafwah, 2:380)

Saat Iman Keluar dari Diri Seorang Muslim

Iman kadang naik kadang turun. Namun, pada waktu tertentu, dia pun kadang tercerabut dari diri seorang Muslim. Apabila seseorang mati saat itu, boleh jadi kematiannya dalam keadaan tidak beriman.

Kapankah itu? Satu di antaranya adalah saat seseorang berzina.

Rasulullah saw. bersabda, “Apabila seorang hamba berzina, maka iman keluar darinya. Iman itu bagaikan bayang-bayang di atas kepalanya. Kemudian, apabila dia telah selesai (berzina), maka iman itu kembali kepadanya.” (HR Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Al-Baihaqi)

Berbanggalah Menjadi Orangtua Mereka

Baik dan buruknya seorang anak sangat tergantung pada cara kedua orangtua memperlakukan dia. Anak akan belajar menerima dirinya sebagaimana orangtuanya menerima keberadaannya. Anak akan belajar menerima kehadiran orangtuanya sebagaimana kedua orangtua menerima kehadirannya. Dia pun akan bangga kepada dirinya sebagaimana cara orangtua bangga kepadanya.

Maka, bagi para orangtua, cukuplah berbangga diri untuk menjadi orangtua bagi anak-anaknya sehingga mereka merasa dihargai, dihormati, disayangi dan dimanusiakan. Adapun bangganya orangtua kepada anak adalah tentang bagaimana memberikan hati untuk menerima anak apa adanya, bukan tentang meminta anak menjadi seperti yang dia inginkan.

Al-Quran Sebagai Penyembuh

Al-Quran adalah sebaik-baik obat penawar. Itu pasti. Namun, efek penyembuhannya tergantung pada sekuat apa keyakinan kita kepadanya.

Ketika seseorang meyakini bahwa Al-Quran adalah sebaik-baik penyembuh, kemudian dia istiqamah membacanya sesuai kaidah yang ditetapkan agama, niscaya dia akan merasakan bahwa setiap huruf, kata, dan kalimat dalam Al-Quran mengandung unsur penyembuh yang dahsyat, baik bagi penyakit lahir maupun batin.

Maka, bacaan Al-Quran tidak sekadar menghilangkan sakit hati tetapi juga meredam nyeri fisik. Bacaan Al-Quran tidak sekadar menyehatkan organ batiniah, tapi juga bisa menyehatkan organ lahiriyah, semisal jantung, otak, paru-paru, dan lainnya.

Maka, bacaan Al-Quran bisa menjadi penawar bagi gangguan insomnia, stres, depresi, sekaligus menjadi peredam rasa nyeri.

Dr. Jamal Elzaky, Terapi Baca Al-Quran.

Seperti Apakah Wajah Kita Kelak ?

ajah adalah gambaran suara hati; cerminan suara jiwa. Dari mimik wajah, kita bisa mengenali mana orang yang tengah bahagia dan mana orang yang tengah dirundung nestapa.

Dengan melihat wajah, kita bisa mengidentifikasi apakah seseorang tengah bersedih, gembira, takut, marah, dan beragam bentuk emosi.

Dari wajah ini pula kita bisa mengenali kebahagiaan para penghuni surga dan kesedihan para penghuni neraka.

Al-Quran menggambarkan bahwa wajah penghuni surga itu putih bersih, berseri-seri lagi bercahaya. Adapun penghuni neraka berwajah hitam legam penuh kesedihan dan ketakutan (QS Ali ‘Imrân, 3:106-107; ‘Abasa, 80:38-42; Yunus, 10:26-27).

“Wajah-wajah (orang beriman) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat. Dan wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram, mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat.” (QS Al-Qiyâmah, 75:22-26)

Perbedaan Hati Ahli Tobat dan Ahli Maksiat

Maimun bin Mihran berkata, “Sesungguhnya, apabila seorang hamba melakukan suatu dosa, niscaya di dalam hatinya tergores satu titik hitam.

Apabila dia bertobat, titik itu akan terhapus sehingga engkau melihat hati seorang Mukmin jernih laksana cermin. Setiap kali setan datang mengganggu, Mukmin tersebut bisa melihat (mengenalinya).

Adapun orang yang selalu melakukan dosa, setiap kali bermaksiat, hatinya tergores titik hitam. Titik ini akan melekat di dalam hatinya (dan bertambah banyak) sehingga terus menghitam. Sehingga, dia tidak bisa lagi melihat dari mana setan datang menggodanya.”

Maka, seorang Mukmin akan senantiasa mengintrospeksi dan menghitung dirinya. Untuk dosa-dosanya dia akan memohon ampunan. Dan, untuk amal kebaikannya dia akan memohon agar Allah menerimanya.

Maimun bin Mihran kembali berujar, “Seseorang tidak termasuk orang bertakwa sehingga dia lebih ketat dalam mengintrospeksi dirinya sendiri daripada mengintrospeksi temannya. Sehingga, dia tahu dari mana makanannya, dari mana pakaiannya, dari mana minumannya, dan apakah semua itu halal ataukah haram?”

Shifatush Shafwah, Al-Hafizh Ibnul Jauzi.