Inilah Karakter Istri Terbaik

Rasulullah saw. bersabda kepada para sahabatnya, “Tidakkah kalian ingin aku beritahu tentang sebaik-baik istri kalian?” Para sahabat pun mengiyakan.

Beliau lalu bersabda:

“Sesungguhnya, sebaik-baik istri kalian adalah wanita yang banyak anak (subur), penyayang, jujur, suci dari hal-hal yang dilarang, disenangi lagi dibanggakan keluarga, tunduk kepada suami, selalu berdandan rapi saat suami tengah bersamanya.

Dia selalu menjaga diri untuk mendengarkan suaminya daripada ucapan orang lain, selalu mentaati perintah suaminya. Jika diajak bercumbu pun dia selalu memberikan semua yang diinginkan oleh suaminya, dan dia tidak akan bergaya seperti halnya laki-laki.” (Makârim Al-Akhlâq, Ath-Thibrisi)

Di Antara Mutiara Kesalihan

Tabiat manusia itu ingin diperhatikan oleh sesamanya apalagi saat dia tengah berada dalam kesusahan. Mengeliminasi hal ini dari hati, untuk lebih fokus pada perhatian Ilahi, dengan demikian, bukan pekerjaan mudah.

Ada ego yang harus dikalahkan. Ada dorongan hati yang harus dialihkan, dan ada keimanan yang mengalahkan kecenderungan untuk meraih kenikmatan dari selain-Nya. Termasuk di dalamnya adalah menjaga lisan dari berkeluh kesah kepada selain Allah.

Maka, ada kata-kata penuh mana dari Abu Ismail Al-Harawi, “Di antara mutiara kesalehan adalah merahasiakan kesusahan sehingga orang lain tidak tahu bahwa kita tengah mengalami kesusahan (kesedihan atau penderitaan).” (Tasliyatu Ali Al-Masa’ib, Muhammad Al-Manjabi)

#tausiyah #ngaji #hijrah #muslim #muslimah #yayasantasdiqulquran #pesantren #dakwah #kajian

Kala Cinta Menjadi Awal Derita

Ada banyak ketidaknyamanan di dunia. Ada banyak penderitaan dalam kehidupan. Ada banyak pula sesengsaraan dalam hari-hari yang dijalani manusia. Satu di antaranya adalah terkait perasaan, yaitu manakala kenyataan tidak sesuai dengan harapan.

Satu yang terbesar adalah ketika diri bertepuk tangan. Kita amat mencintai seseorang, akan tetapi orang yang dicintai malah membenci kita. Kita merindukan seseorang, akan tetapi orang yang dirindukan malah merindukan orang lain.

Maka, Imam Asy-Syafi’i berkata lewat syairnya:

“Mencintai wanita adalah awal dari sebuah derita, benarkah? Bukan wanita yang membuat derita. Namun, mencintai wanita yang tidak mencintaimu-lah yang akan menciptakan derita bagimu.

(Termasuk pula) derita paling besar adalah ketika engkau mencintai seseorang yang tengah mencintai orang lain.” (Muhammad Idris Asy-Syafi’i)

Apa obat dari hal ini? Berdoalah kepada Allah, Zat Yang Maha Membolak-balikkan hati agar dia berkenan menetralkan rasa hati dari perasaan cinta kepada orang yang tidak ingin kita mencintainya.

#muslimah #hijrah #keluargamuslim #quote #muslim #akhwat #islam #hijab

4 Golongan Manusia yang Dilaknat Allah

Laknat adalah dijauhkannya dari rahmat. Maka, saat Allah melaknat seseorang atau sekelompok orang, itu artinya Allah menjauhkan mereka dari rahmat dan mendekatkan mereka dengan azab.

Ada beragam hal yang dapat mengundang datangnya laknat. Empat di antaranya disampaikan Rasulullah saw. dalam haditsnya. Dari Abu Umamah ra. bahwa Nabi saw. bersabda:

“Ada empat hal yang dilaknat Allah dari atas Arasy-Nya dan keempat hal itu diamini oleh para malaikat. Yaitu:

(1) Orang yang menutup diri dari kaum wanita sehingga dia tidak mau menikah, baik dengan orang merdeka maupun hamba sahaya yang dapat memberikan keturunan kepadanya.

(2) Seorang laki-laki yang menyerupai wanita, padahal Allah telah menciptakannya sebagai laki-laki.

(3) Seorang wanita yang menyerupai laki-laki, padahal Allah telah menciptakannya sebagai wanita.

(4) Orang yang menyesatkan orang-orang miskin (yaitu menghina dan mengolok-olok mereka, termasuk mempermainkan dan mempermalukan mereka).” (HR Ath-Thabrani)

Pahamkan si Anak Bujang Agar Tidak Nongkrong di Pinggiran Jalan

Didiklah anak-anak kita menjadi pribadi terhormat, pribadi yang tahu adab, tahu hak dan kewajibannya sebagai seorang Muslim. Salah satunya adalah dengan tidak membiasakan diri untuk nongkrong di pinggir jalan. Andaipun harus duduk di pinggir jalan, ajarkan hak-hak jalan kepada mereka. Apakah itu?

Ada pesan dari Rasulullah saw. “Jauhilah oleh kalian (kebiasaan) duduk-duduk di jalan! Namun, jika kalian tidak mempunyai pilihan lain kecuali harus duduk di sana, maka berikanlah hak-hak jalan, yaitu: menundukan pandangan, menjauhi hal-hal yang membahayakan, menjawab salam, menunaikan amal ma’ruf, dan senantiasa mencegah yang munkar.” (HR Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Said Al-Khudri ra.)

Sejatinya, ada sejumlah adab duduk-duduk di jalan atau pinggir jalan, sebagaimana diungkapkan dalam sejumlah hadits. Terkait hal ini, Imam Ibnu Hajar Al-Atsqalani merangkumnya dalam sebuah syair:

“Aku telah menghimpun tentang adab orang yang mau duduk di jalan dari sabda sebaik-baik manusia (yaitu Rasulullah saw.).

Tebarkanlah salam, berbicaralah yang baik, doakan orang yang bersin agar bertambah baik.

Bantulah orang yang membawa beban berat, tolonglah yang teraniaya.

Bantulah orang yang sedih, tunjukkan jalan yang benar, bimbinglah orang yang bingung.

Suruhlah kepada yang ma’ruf, cegahlah dari yang mungkar, jauhilah yang membahayakan.

Tundukkan pula pandangan dan perbanyak zikir kepada Allah.”

Guru Tiga Generasi

Dikisahkan, ada seorang ulama besar di Damaskus, Suriah, yang telah mengajar tiga generasi. Ketika bertemu seseorang di jalan, dia berkata, “Anakku, engkau adalah muridku, ayahmu adalah muridku, dan kakekmu juga muridku.”

Ulama ini mulai mengajar sejak usia 18 tahun dan meninggal pada usia 98 tahun! Tubuhnya tegak, matanya tajam, telinganya sangat peka, dan Allah Ta’ala memuliakannya dengan memberi seorang istri yang juga berusia panjang.

Suatu saat dia ditanya, “Tuan, apa rahasianya sehingga Anda tetap sehat dalam usia selanjut ini?”

Dia menjawab, “Kami menjaganya sewaktu muda, kemudian Allah menjaganya ketika kami sudah tua.”

Seperti itulah, siapapun yang hidup dalam ketakwaan, dia akan hidup dalam kekuatan. Maka, apabila ingin mulia di sisi Allah Ta’ala, bertakwalah kepada-Nya. Apabila ingin menjadi manusia kuat, bertawakkallah kepada-Nya. Apabila ingin menjadi manusia kaya, utamakan apapun yang ada di sisi Allah daripada apapun yang ada di tangan kita.

Prof. Dr. Muhammad Ratib Al-Nablusi, Mausû’ah Asmâ’illâh Al-Husnâ (Terjemah: Mengenal Allah), hlm. 352.