Tiga Kewajiban Orang Beriman kepada Saudaranya

Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Tidak layak dia menimpakan kesusahan, kesedihan dan kemudharatan kepada saudaranya. Andaipun ada salah, bersegeralah untuk meminta maaf.

Andai ada hak-haknya yang diambil, bersegeralah untuk mengembalikannya atau meminta keridhaannya. Andai bisa memberinya kebaikan, mengapa pula harus menimpakan keburukan kepadanya?

Maka, ada satu nasihat berharga dari seorang Yahya bin Mu’adz Ar-Razi rahimahullâh:

“Agar dirimu termasuk orang yang ihsan, penuhilah olehmu tiga kewajiban kepada saudara Mukminmu. Pertama, kalau tidak bisa memberinya manfaat, jangan menimpakan mudharat kepadanya. Kedua, kalau tidak bisa membuatnya gembira, jangan membuatnya sedih. Ketiga, kalau tidak bisa memujinya, janganlah engkau mencelanya.”

Ilmu Berumah Tangga yang Tidak Tertulis di Buku

Boleh jadi, kita tahu ilmu psikologi, paham teori parenting, hapal teori pengasuhan, menguasai pula teknik-teknik berumahtangga. Namun ingat, berumahtangga bukan sekadar teori. Berumahtangga dengan segala pernak pernik dan turunannya penuh dengan praktik.

Maka, ada beragam ilmu berumahtangga yang tidak tertulis di buku mana pun. Ada ilmu yang dipelajari hanya melalui kesetiaan, hanya melalui kesulitan ekonomi, sakit dan pengorbanan. Ada pula ilmu yang dipelajari hanya melalui kesabaran mengurus anak, mengatur keuangan, menghadapi mertua, dan aneka kesulitan lain.

Berumahtangga, dengan demikian, adalah sekolah sepanjang usia yang tak ada ijasahnya. Adapun indikator kelulusannya hadir dalam wujud sakinah, mawaddah, rahmah dan anak keturunan yang saleh dan salehah.

Maka, di sinilah pentingnya keluarga muda belajar dari orangtua atau orang yang lebih senior. Karena mereka memiliki apa yang tidak kita miliki, yaitu pengalaman. Sesungguhnya, pengalaman (enak atau tidak enak, baik atau buruk) termasuk ilmu berharga yang tidak diajarkan di bangku sekolah atau kuliah.

Peninggi Derajat di Surga

Jangan sepelekan amal ibadah di hadapan Allah Azza wa Jalla sekecil dan sesederhana apapun. Karena boleh jadi, kesungguhan, keikhlasan dan keistiqamahan seseorang kala menunaikannya tidak hanya menjadi wasilah yang akan memasukkannya ke dalam surga. Akan tetapi, akan meninggikan pula derajatnya di sana.

Ubaid bin Khalid As-Silmi ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah mempersaudarakan dua orang lelaki. Kemudian, salah satunya meninggal karena terbunuh dan yang satunya lagi meninggal pada Jumat berikutnya atau sekitaran waktu itu (meninggal sepekan kemudian). Maka, para sahabat menshalatkannya.

Rasulullah ﷺ lalu bertanya, “Apa yang kalian baca (untuk kedua orang itu)?” Para sahabat menjawab, “Kami berdoa untuknya. Dan, kami membaca, ‘Ya Allah, ampunilah dia dan pertemukanlah dia dengan saudaranya’.”

Beliau kemudian bertanya lagi, “Manakah di antara kedua orang itu yang paling bagus shalatnya, puasanya, dan amal-amalnya? Sungguh, perbedaan di antara keduanya bagaikan jarak antara langit dan bumi” … (HR Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i dan Ath-Thayalisi)

Damaikanlah Pasangan yang Berselisih

Beruntunglah orang yang menjadi jalan berdamainya suami istri yang bertengkar, dua saudara yang berseteru, atau dua keluarga yang bermusuhan. Bagaimana tidak, dia akan mendapatkan sebaik-baik pahala dari Allah Ta’ala.

“Maukah aku tunjukan kepada kalian satu amal yang derajatnya lebih utama daripada puasa, shalat dan sedekah?” tanya Rasululah saw. “Tentu saja!” jawab sahabat.

Maka, beliau pun bersabda, “(Yaitu) mendamaikan dua pihak yang bersengketa. Karena sesungguhnya, rusaknya hubungan di antara kedua pihak yang berseteru itu adalah ‘pencukur’ umat.” (HR Ahmad, Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Istirahatlah Diri dengan Memperbanyak Sujud

Tidak ada saat-saat paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya selain saat dia bersujud dalam shalat. Inilah momen paling indah baginya.

Bagaimana tidak, dirinya yang lemah, hina dina, lagi tidak punya apa-apa, diizinkan untuk hadir di hadapan Zat Pemilik segala kesempurnaan untuk mendapatkan beragam karunia dari-Nya.

Itulah mengapa, manakala seorang hamba sudah pulang ke negeri akhirat, tidak ada ingatan yang paling berkesan baginya selain saat tengah bersujud kepada Allah kala di dunia.

Belajar Istiqomah dari Aisyah ra

Berapa kalikah kita ikut pengajian, mendengarkan kajian ilmu, membaca buku atau ditunjukan oleh teman tentang suatu amal ibadah? Sering pastinya! Namun, dari sekian banyak ilmu yang masuk, berapa persenkah yang sudah kita amalkan secara istiqamah?

Jika belum, kita layak belajar kepada sosok Aisyah binti Abu Bakar ra. Setiap kali beliau mendapatkan ilmu dari Rasulullah saw. setiap kali itu pula beliau tidak berhenti untuk mengamalkannya walau hanya sedikit.

Apa yang disabdakan Rasulullah saw. kepadanya benar-benar masuk ke dalam pikiran dan hati, lalu teraplikasikan dalam perbuatan. Apakah itu? “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus menerus (istiqamah) walaupun kecil (sedikit).”

Terkait hal ini, Al-Qasim bin Muhammad berkata, “Setiap Aisyah melakukan suatu amalan, maka dia tidak pernah berhenti untuk melakukannya.” (HR Al-Bukhari, No. 6465 dan Muslim, No. 783)

Ketika Hafalan Al-Quran Menentuka Tingkatan Surga

Beruntunglah para penjaga Al-Quran. Di dunia hidupnya diberkahi. Di akhirat hidupnya dimuliakan. Allah hadirkan surga tertinggi untuknya. Bahkan, derajatnya di surga disesuaikan dengan jumlah hapalan yang dimilikinya.

Dari Abdullah bin ‘Amr ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Akan dikatakan kepada seorang pembaca (penghapal) Al-Quran ketika dia akan memasuki surga, ‘Bacalah dan naiklah serta tarlillah sebagaimana engkau di dunia mentartilkannya! Karena derajatmu (di surga) adalah pada akhir ayat yang engkau baca (hafal)’.” (HR Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban)

Maka, terkait hal ini, ‘Aisyah ra. mengatakan, “Sesungguhnya jumlah tingkatan surga adalah sejumlah bilangan ayat-ayat Al-Quran. Maka, siapa yang masuk surga dari kalangan para penghapal Al-Quran, niscaya tidak ada orang yang melebihi (tingkatannya) di surga.” (HR Ahmad, Al-Baihaqi dan Al-Hakim)