Jangan Sampai Kalah dalam Dua Perkara

Boleh saja orang menggunguli kita dalam hal harta, gelar, jabatan, popularitas dan urusan duniawi lainnya. Namun, jangan sampai kita kalah dalam dua hal. Pertama, perhatian kepada Al-Quran dan pengamalan isinya. Kedua, perhatian kepada shalat dan kesempurnaan pelaksanaannya.

Mengapa demikian? Al-Quran adalah buku panduan kehidupan, penuntun kepada jalan kebenaran dan kenci kebahagiaan. Manakala kita tidak mencintainya lagi mengamalkan isinya, kesusahan yang kita rasakan dan ketersesatan yang kita dapatkan.

Adapun shalat, dialah perisai, penjaga, kunci keberkahan dan keselamatan hidup dunia akhirat. Shalat adalah tiangnya Islam. Manakala tiangnya bermasalah, bermasalah pula kualitas keberagaan kita.

Ajari Anak untuk Mencintai Saudaranya

Mengajari anak baca Al-Quran itu wajib. Mengajari anak menjaga kebersihan itu bagus. Mengajari anak bahasa asing, ilmu dan keterampilan baru itu sangat utama.

Namun, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan orangtua, yaitu mengajari anak agar mencintai kedua orangtuanya, menyayangi saudaranya, dan perhatian lagi senang berbuat baik kepada sanak kerabatnya.

Menjelang wafatnya, Ali bin Abi Thalib pernah berpesan kepada dua putranya, yaitu Hasan dan Husain, “Aku telah mendengar sabda datuk kalian berdua (yaitu Rasulullah saw.) bahwa memperbaiki hubungan antara sesama sanak kerabat lebih utama daripada kebanyakan shalat dan puasa.”

Hal ini senada dengan hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra. bahwa Nabi saw. pernah bersabda:

“Siapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan ditambahkan rezekinya, maka berbaktilah kepada kedua orangtuanya dan jalinlah hubungan dengan kerabatnya (silaturahim).” (HR Ahmad, No. 3:229)

Inilah Pembeda Antara Sahabat dengan Kita

Apa yang membedakan para sahabat Nabi saw. dengan kita dalam hal amal-amal yang dilakukan? Ada satu hal esensial yang membedakan antara amalan kita dengan mereka.

Dalam Al-Dâ’ wa Al-Dawâ’, Al-Hafizh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan:

“Siapa mencermati keadaan para sahabat, niscaya dia akan melihat bagaimana kesungguhan mereka dalam menunaikan amal-amal paling utama disertai dengan perasaan takut (khauf) yang mendalam.

Adapun kita berada di antara sikap kurang serius dalam beramal (bahkan meninggalkan amal) sedangkan hati merasa aman (jauh dari rasa takut kepada Allah).”

Ucapan Terima Kasih

Orangtua yang baik bukan hanya mengajari anaknya agar senang memberi. Tetapi juga, mengajari mereka agar mudah mengucapkan terima kasih saat diberi. Inilah adab seorang Muslim saat dia mendapatkan nikmat dari Allah lewat perantaraan sesamanya.

Bukankah Rasulullah saw. pernah menasihatkan:

“Siapa tidak pandai mensyukuri yang sedikit, niscaya dia tidak akan pandai mensyukuri yang banyak. Siapa tidak berterima kasih (bersyukur) kepada manusia, niscaya dia tidak akan bersyukur kepada Allah.” (HR Ahmad, Ath-Thabrani, dan Al-Bazzar, Majma’ Az-Zawâid, 5:287)

 

Bekerja Fii Sabilillah

Jihad bukan sekadar berperang di jalan Allah. Mencari nafkah pun, apabila niatnya lurus dan caranya benar, nilainya Allah sejajarkan dengan jihad fi sabilillâh.

Cukuplah kisah dari Ka’ab bin Ajrah ra. sebagai bukti. Suatu ketika lewatlah seseorang di hadapan Rasulullah saw. dan para sahabat. Sahabat tampak keheranan melihat hasil kerja keras yang tampak dari kulit dan semangat orang ini.

Maka, mereka pun bertanya kepada Rasulullah saw. “Wahai Rasulullah, apakah (bekerja) itu termasuk jihad fi sabilillâh?”

Rasulullah saw. menjawab, “Jika dia keluar dari rumahnya demi mencari nafkah bagi anaknya yang masih kecil, maka dia di jalan Allah (fî sabilillâh). Jika dia keluar dari rumah untuk bekerja memenuhi kebutuhan kedua orangtuanya yang sudah tua, dia di jalan Allah.

Dan, jika dia keluar dari rumah untuk memenuhi kebutuhan dirinya sehingga kehormatannya terjaga, dia di jalan Allah. Namun, jika dia keluar untuk pamer dan takabur, dia berada di jalan setan.” (HR Ath-Thabrani, Al-Jâmi’ush Shagir, No. 2669)

Bencana Karena Omongan

Jagalah lisan kita dari mencela, mencemooh atau merendahkan orang lain atas kesalahan atau aib yang dimilikinya. Karena boleh jadi, apa yang kita omongkan akan kembali kepada kita sebagai pembuatnya.

Dalam bukunya yang berjudul Ushûl Al-Wushûl ilâ Allâh Ta’âlâ, Muhammad Husayn Ya’qub, menukilkan satu kisah menarik.

Satu kali, Al-Kissâ’i dan Al-Yazidi, berkumpul di istana Khalifah Harun Al-Rasyid. Saat tiba waktu shalat Maghrib, Al-Kissâ’i (seorang ahli qira’at terkenal) diminta untuk menjadi imam.

Di tengah shalat, tiba-tiba dia gemetar dan melakukan kesalahan saat membaca surat Al-Kâfirûn.

Setelah shalat usia, Al-Yazidi berkomentar, “Bagaimana mungkin seorang pakar qiraat dan imam Kufah sepertimu gemetar dan lupa saat membaca surat Al-Kâfirûn?”

Saat tiba shalat Isya, Al-Yazidi mendapat giliran untuk menjadi imam. Ternyata, dia pun melakukan kesalahan justru saat membaca surat Al-Fâtihah. Maka, seusai shalat Al-Kissâ’i menyindirnya lewat sebuah syair.

“Jagalah lisanmu. Jangan sampai dirimu termakan omonganmu sendiri. Sesungguhnya, bencana datang karena ucapan yang tidak terkendali.”

Saat Kemarahan Menjadi Pilihan

Membina rumahtangga perlu ilmu dan kesabaran. Mengurus anak pun perlu ilmu dan kesabaran. Tanpa ilmu dan kesabaran, masalah kecil bisa menjadi besar; kebaikan menjadi keburukan; peluang pahala pun malah menjadi dosa.

Maka, siapapun yang berani berkeluarga dan menjadi orangtua, wajib baginya meningkatkan kualitas keilmuan dan kesabarannya. Setiap kali bertambah usia, bertambah amanah, bertambah anak, setiap kali itu pula kita wajib menambah ilmu dan stok kesabaran. Tanpa keduanya, alih-alih bahagia, hidup berumahtangga malah mendatangkan derita.

Apa ciri rumahtangga yang miskin ilmu? Setiap masalah diselesaikan dengan kemarahan dan keputusasaan. Mengapa marah, mengapa putus asa? Karena itulah cara termudah untuk keluar dari masalah. Orang menjadi marah dan putus asa karena dia tidak punya solusi lain selain cara itu.