Milyaran Kebaikan Hanya dalam Satu Doa

Jangan lupa untuk selalu mendoakan saudara-saudara seiman. Ada banyak kebaikan di dalamnya. Salah satunya adalah Allah hadirkan milyaran kebaikan di sebaliknya. Bagaimana tidak, saat kita mendoakan kaum Muslim, baik yang masih hidup atau yang sudah meninggal, kita akan mendapatkan kebaikan dari setiap Muslim yang didoakan.

Nabi saw. bersabda, “Siapa yang beristighfar (memintakan ampunan) untuk orang-orang beriman laki-laki dan perempuan, niscaya Allah akan mencatat kebaikan untuknya sebanyak kaum Mukminin dan Mukminat (yang didoakannya itu).” (HR Ath-Thabrani)

Andaikan satu orang dihitung satu kebaikan dan jumlah kaum Muslim di dunia ada tiga milyar (dihitung dengan yang sudah meninggal), maka dalam sekali doa, kita mendapatkan minimal tiga milyar kebaikan. Mâ syâ Allah!

Tanda Sayang Anak kepada Mendiang Ayah Ibunya

Boleh saja, ayah kita sudah wafat, ibu kita sudah meninggal, sehingga kita tidak lagi bisa melihat keduanya, mencium tangannya atau sekadar berkirim makanan kesukaannya.

Namun, yang namanya berbakti pada keduanya (birrul walidain) tidak otomatis hilang dari daftar kewajiban seorang anak. Masih banyak yang bisa kita lakukan untuk memuliakannya selain dengan doa. Salah satunya adalah menyambung silaturahim dengan orang yang dekat atau disayangi orangtua.

Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang ingin menyambung hubungan dengan bapaknya di alam kuburnya, hendaknya dia menyambung hubungan dengan saudara-saudara sang bapak sepeninggalnya.” (HR Abu Ya’la dan Ibnu Hibban, As-Silsilah Ash-Shahihah, 3:417)

Langkah Kaki Pengangkat Derajat di Surga

Melangkahkan kaki itu sangat mudah. Namun, tidak semua orang sanggup melangkahkan kakinya menuju pintu surga.

Padahal, ada langkah-langkah kaki yang, tidak hanya mudah dilakukan, tetapi juga bisa memasukkan seorang hamba ke dalam surga sekaligus menaikkan derajatnya di sana.

Apakah itu? Memperbanyak langkah menuju masjid.

Rasulullah saw. bersabda kepada sahabat, “Maukah kalian aku beritahukan sejumlah perkara yang akan menghapuskan kesalahan dan mengangkat derajat (kalian)?”

Para sahabat menjawab, “Ya, (kami mau) wahai Rasulullah.”

Beliau saw. lalu bersabda, “(Yaitu) menyempurnakan wudhu dalam kondisi sulit, memperbanyak langkah menuju masjid, dan menunggu shalat setelah mendirikan shalat. Itulah ar-ribath (bersiap siaga dalam jihad fî sabilillâh dari serangan musuh).” (HR Muslim, No. 251)

Berkahi Rumah Kita Bacaan Al-Quran

Semua ayat Al-Quran baik adanya, berpahala membacanya, dan istimewa kedudukannya. Namun demikian, pada waktu-waktu tertentu ada ayat atau surat yang lebih utama untuk dibaca dibandingkan ayat atau surat lainnya.

Pada waktu malam misalnya, ada dua surat yang layak untuk kita dawamkan untuk membacanya. Mengapa? Karena, dengan membacanya, Allah Azza wa Jalla hadirkan penjagaan dan kebaikan bagi para pembacanya.

Kedua surat tersebut adalah As-Sajdah dan Al-Mulk. Sesungguhnya, Nabi saw. tidak akan tidur sebelum membaca keduanya.

“Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam tidak akan tidur sehingga beliau membaca Alif Lâm Mîm. Tanzil (As-Sajdah) dan Tabâraka (Al-Mulk).” (HR At-Tirmidzi)

Dua Surat Penjaga Malam Kita

Semua ayat Al-Quran baik adanya, berpahala membacanya, dan istimewa kedudukannya. Namun demikian, pada waktu-waktu tertentu ada ayat atau surat yang lebih utama untuk dibaca dibandingkan ayat atau surat lainnya.

Pada waktu malam misalnya, ada dua surat yang layak untuk kita dawamkan untuk membacanya. Mengapa? Karena, dengan membacanya, Allah Azza wa Jalla hadirkan penjagaan dan kebaikan bagi para pembacanya.

Kedua surat tersebut adalah As-Sajdah dan Al-Mulk. Sesungguhnya, Nabi saw. tidak akan tidur sebelum membaca keduanya.

“Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam tidak akan tidur sehingga beliau membaca Alif Lâm Mîm. Tanzil (As-Sajdah) dan Tabâraka (Al-Mulk).” (HR At-Tirmidzi)

Inilah yang Allah Hadirkan di Ujung Kesabaran

Allah memberi pelangi di setiap badai, senyum di setiap air mata, berkah di setiap cobaan, dan jawaban di setiap doa. Maka, bersabarlah!

“Salâmun ‘alaikum bimâ shabartum (keselamatan atasmu berkat kesabaranmu). Maka, alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS Ar-Ra’d, 13:24)

Adapun kesabaran itu, menurut Ali bin Abi Thalib, ada dua macam. Pertama, sabar atas sesuatu yang tidak kita inginkan, semisal bala bencana atau segala sesuatu yang tidak mengenakkan dan menyakitkan. Kedua, sabar untuk menahan diri dari sesuatu yang kita inginkan.

Untuk Apa Anak Belajar ?

Memotivasi anak agar giat belajar, senang kepada ilmu, suka dengan pengetahuan baru, termasuk giat dalam melahap buku termasuk hal yang wajib dihadirkan orangtua di tengah keluarganya.

Namun, ada satu yang tidak boleh dilupakan: orangtua harus memastikan kalau semua yang dilakukan anak dalam proses belajarnya harus ditujukan untuk menggapai ridha Allah: bukan mengejar dunia: harta benda, popularitas dan sejenisnya. Sesungguhnya, beda niat akan membedakan hasil. Ilmu yang dipelajari bukan karena Allah hanya akan melahirkan kekecewaan dan kesia-siaan.

Maka, dalam kitab Ayyuhal Walad, Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali menasihatkan:

“Wahai anakku, berapa malam engkau berjaga guna mengulang-ulang ilmu, membaca buku, dan engkau haramkan tidur atas dirimu. Aku tidak tahu, apa yang menjadi pendorongmu.

Jika yang menjadi pendorongmu adalah kehendak mencari materi dan kesenangan dunia atau mengejar pangkat atau mencari kelebihan atas kawan semata, maka malanglah engkau.

Namun, jika yang mendorongmu adalah keinginan untuk menghidupkan syariat Rasulullah saw. dan menyucikan budi pekertimu serta menundukkan nafsu yang tiada henti mengajak kepada kejahatan, betapa mujurnya engkau.

Benar sekali kata seorang penyair, ‘Biar pun kantuk menyiksa mata, akan percuma jika tidak karena Allah semata’.”