Perbaiki Nasib dengan Memperbaiki Niat

Kadar pertolongan Allah Ta’ala kepada kita sesuai dengan kadar niat yang ada di dalam hati kita. Semakin lurus niat kita karena mengharap keridhaan Allah, semakin cepat dan semakin kuat pula pertolongan Allah akan mendatangi kita.

Salim bin Abdullah rahimahullâh pernah menulis surat kepada Umar bin Abdul Aziz. Adapun isi suratnya adalah sebagai berikut:

“Ketahuilah, pertolongan Allah kepada seorang hamba sesuai dengan kadar niatnya. Siapa sempurna niatnya, sempurna pula pertolongan Allah kepadanya. Jika niatnya kurang, dia pun berkurang sesuai kadarnya.” (Al-Ihya’, 4:318)

Jangan Sepelekan Niat

Memberikan minum kepada suami, menyuapi anak makan, berbelanja ke pasar, membersihkan rumah, dan beragam aktivitas di rumah adalah hal rutin bagi para ibu. Karena dilakukan nyaris setiap hati, beragam aktivitas ini menjadi biasa-biasa saja dan tidak tampak istimewa.

Namun tidak bagi seorang Mukmin, semua yang dilakukan di rumah selalu bernilai istimewa. Mengapa? Dia melakukannya karena mengharap ridha Allah.

Sesungguhnya, suatu perbuatan mubah yang disertai niat ibadah, maka perbuatan tersebut akan dicatat ibadah di sisi Allah. Apalagi kalau perbuatan yang bentuknya nyata-nyata ibadah, apabila disertai niat karena Allah, akan dahsyatnya pula efeknya, semakin besar pula pahalanya.

Maka, Imam Al-Ghazali menasihatkan:

“Setiap perbuatan mubah yang disertai dengan niat atau beberapa niat yang baik pasti bernilai ibadah (di sisi Allah) dan mendapatkan derajat yang tinggi … Maka, seorang hamba tidak selayaknya menganggap enteng sesuatu yang terletak dalam kalbu, yang dilakukan anggota tubuhnya dan setiap detik dari hidupnya.”

Pelukan yang Meredakan Kemarahan

Layaknya manusia lainnya, Rasulullah saw. pun bisa marah, termasuk kepada istri-istrinya. Hanya saja, kemarahan beliau adalah kemarahan penuh adab. Kemarahan beliau tidak mendatangkan apapun kecuali kebaikan dan keteladanan.

Dikisahkan bahwa Rasulullah saw. sempat ada kesal dan marah kepada Aisyah ra. yang terus mencemburui Khadijah binti Khuwailid, istri pertama beliau. Padahal, saat itu Khadijah sudah meninggal.

Maka, saat Aisyah tengah cemburu itu, Rasulullah saw. berkata kepada Aisyah, “Tutuplah matamu!” Aisyah pun menutup matanya. Saat itulah Rasulullah saw. mendekat dan memeluk Aisyah sambil berkata, “Ya Humaira-ku, marahku telah pergi setelah aku memelukmu.” (HR Muslim)

Itulah Rasulullah saw. Semarah dan sekesal apapun, beliau tidak pernah menyakiti istrinya, entah dangan kata-kata apalagi tindakan fisik. Beliau senantiasa mengedepankan akhlak yang baik, kesabaran dan kasih sayang kepada mereka.

Tiga Macam Dunia

Kita hidup di dunia. Lahir, tumbuh, besar dan menua di dunia. Itu artinya kita butuh dunia (makanan, minuman, harta, dan beragam aksesories dunia). Namun, dunia bagi seorang Mukmin berbeda dengan dunia bagi seorang kafir atau munafik. Apa bedanya?

Abdullah bin Abbas ra. berkata, “Sesungguhnya, Allah Ta’ala membagi dunia ke dalam tiga bagian. Satu bagian untuk orang beriman. Satu bagian untuk orang munafik. Dan, satu bagian untuk orang kafir. Orang beriman menjadikannya sebagai bekal. Orang munafik menjadikannya sebagai perhiasan. Adapun orang kafir menjadikannya sebagai kenikmatan.”

Ladang Jihad Seorang Wanita

Hidup wanita dipenuhi ladang jihad fi sabilillah. Jika dia menjalaninya dengan senyum keikhlasan, tanpa keluh kesah dan penyesalan, surga sudah menanti di hadapannya. Satu di antaranya adalah berusaha meringankan beban pekerjaan suaminya, terkhusus di rumah.

Ini pula yang dijalani oleh para wanita utama dari kalangan shahabiyah Rasulullah saw. Satu di antaranya Asma’ binti Abu Bakar Ash-Shaddiq, saudari satu ayah beda ibu dari Ummul Mu’minîn Aisyah ra.

“Aku dinikahi oleh Zubair (bin Awwam) yang tidak memiliki harta dan pelayan kecuali seekor unta (penyiram) dan seekor kuda. Akulah yang memberi makan kudanya, menimba air dan menjahit geriba (tempat air dari kulit).

Aku pula yang membuat adonan gandum. Hanya saja, aku tidak pandai membuat roti. Itulah mengapa, para tetanggaku (kaum Anshar) yang membuatkan aku roti. Mereka adalah wanita-wanita terbaik.

Aku juga menjunjung buah kurma di atas kepalaku dari kebun yang diberikan Rasulullah saw. kepada Zubair sejauh dua pertiga farsakh (1 farsakh = 5.541 km).” (HR Al-Bukhari, No. 5224 dan Muslim, No. 2182)

Adakah di antara kita yang hidupnya lebih berat dari Asma’ binti Abu Bakar, salah seorang wanita ahli surga? Sesudah dan seberat apapun hidup, dia tidak pernah mengeluh, termasuk saat mendapati suami tak punya apa-apa.

Padahal, sebelum berhijrah ke Madinah, baik Asma’ maupun Zubair berasal dari keluarga terpandang Mekkah yang hidupnya berkecukupan.

Sungguh, keimanan membuat kesulitan dan aneka keterbatan hidup menjadi lebih ringan untuk dihadapi.

Mengapa Orang Nekad Bermaksiat Padahal Dia Tahu Keburukan dan Akibatnya?

Mengapa ada orang yang tahu korupsi itu haram, bergosip itu haram, selingkuh itu haram, tetapi dia tetap saja melakukannya? Ada dua alasannya.

Sesungguhnya, terjadinya perbuatan haram disebabkan karena dua hal. Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan bahwa seorang hamba tidak melakukan hal yang diharamkan Allah, kecuali karena dua perkara.

Pertama, dia berprasangka buruk kepada Allah. dia mengira bahwa apabila dia mentaati-Nya dan mengutamakan perintah-Nya dalam meninggalkan perkara yang diharamkan, Allah tidak akan memberinya sesuatu yang halal dan lebih baik dari perkara haram yang dilakukannya.

Kedua, dia tahu bahwa orang yang meninggalkan sesuatu karena Allah, Allah pasti akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik. Hanya saja, nafsu syahwatnya mengalahkan kesabaran dan akalnya.

Orang pertama jatuh pada keharaman karena tidak memiliki ilu atau wawasan yang luas. Adapun orang kedua, dia jatuh pada keharaman karena kelemahan akal dan matahatinya. (Al-Fawa’id)

Ketika Pasananmu Marah

Dalam hidup berumahtangga, suami kesal dan marah kepada istri itu biasa. Istri kesal dan marah kepada suami, itu pun biasa. Syaratnya? Jangan terlalu sering, kelewat batas dan melahirkan kezaliman.

Maka, marah kepada pasangan perlu dikelola sehingga bisa mendatangkan aneka kebaikan dan semakin merekatkan hubungan.

Kita bisa belajar dari sosok Abu Dawud, seorang pakar hadits terkemuka. Satu ketika beliau berkata kepada istrinya, “Jika engkau melihat aku sedang marah, relakanlah! Jangan dilawan. Dan, apabila aku melihatmu sedang marah, aku pun akan merelakanmu. Aku tidak akan melawanmu. Kalau tidak begitu, kita tentu tidak akan bersatu.”

Ini artinya, besi jangan dilawan besi, nanti ada yang patah atau penyok. Kemarahan suami jangan dihadapi dengan kemarahan istri, demikian pula sebaliknya, karena akan terjadi perkelahian dan bencana. Hadapi kemaraha dengan semyuman, diam dan pemaafan, niscaya kemarahan itu akan reda dan berakhir bahagia. (H. Hadiyah Salim, Rumahku Mahligaiku)