Satu Kepastian dalam Hidup

Dalam keburukan orang lain terkadang ada kebaikan yang bisa kita ambil. Satu yang paling dahsyat pahalanya adalah mendamaikan dua orang yang bersengketa. Apalagi kalau yang bersengketa itu suami dan istri, kakak dan adik, atau orang yang punya hubungan kekerabatan.

Siapa melakukannya, niscaya dia akan mendapatkan pahala yang lebih utama daripada supasa, shalat dan sedekah. Dari Abu Darda ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda:

“Maukah aku kabarkan kepadamu satu amalan yang lebih utama daripada derajat puasa, shalat dan sedekah?” Sahabat menjawab, “Iya (kami mau).”

Beliau pun bersabda, “Mendamaikan dua orang yang bersengketa …” (HR Abu Dawud, Ahmad, At-Tirmidzi, dalam Shahih Al-Jami’, No, 2595)

Mengapa amalan ini demikian besar pahalanya? Sesungguhnya, ketika seseorang bisa mendamaikan dua orang yang bersengketa, dia seakan telah memutus lingkaran setan keburukan yang dihasilkan oleh persengketaan tersebut. Pada saat yang sama, dia telah membuka pintu-pintu kebaikan dari hadirnya perdamaian.

Kemuliaan Seorang Juru Damai

Dalam keburukan orang lain terkadang ada kebaikan yang bisa kita ambil. Satu yang paling dahsyat pahalanya adalah mendamaikan dua orang yang bersengketa. Apalagi kalau yang bersengketa itu suami dan istri, kakak dan adik, atau orang yang punya hubungan kekerabatan.

Siapa melakukannya, niscaya dia akan mendapatkan pahala yang lebih utama daripada supasa, shalat dan sedekah. Dari Abu Darda ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda:

“Maukah aku kabarkan kepadamu satu amalan yang lebih utama daripada derajat puasa, shalat dan sedekah?” Sahabat menjawab, “Iya (kami mau).”

Beliau pun bersabda, “Mendamaikan dua orang yang bersengketa …” (HR Abu Dawud, Ahmad, At-Tirmidzi, dalam Shahih Al-Jami’, No, 2595)

Mengapa amalan ini demikian besar pahalanya? Sesungguhnya, ketika seseorang bisa mendamaikan dua orang yang bersengketa, dia seakan telah memutus lingkaran setan keburukan yang dihasilkan oleh persengketaan tersebut. Pada saat yang sama, dia telah membuka pintu-pintu kebaikan dari hadirnya perdamaian.

Tiga Sura Dahsyat yang Tidak Ada dalam Kitab Suci Mana Pun

Jangan sepelekan surat Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nâs. Ketiganya termasuk surat paling istimewa di dalam Al-Quran. Karena nilai keutamaannya, tidak sekadar karena redaksinya yang pendek, ketiganya menjadi surat yang paling banyak dihapal, dibaca dan didijadikan doa selain surat Al-Fatihah.

Dan, tahukah Anda seberapa besar keangunan ketiga surat ini? Simaklah apa yang disabdakan Rasulullah saw.

Diriwayatkan oleh ‘Uqbah bin Amir ra. bahwa Rasulullah saw. bertanya kepadanya, “Apakah engkau ingin aku ajarkan surat-surat yang tidak diturunkan dalam Taurat, Zabur, Injil dan tiada ada yang sebanding dengannya dalam Al-Quran?

Tidaklah datang malam hari melainkan engkau membacanya pada malam tersebut: qul huwallâhu ahad, qul a’ûdzu bi rabbil falaq, dan qul a’ûdzu bi rabbin nâs.” (HR Ahmad)

Bermusyawarahlah! Karena Nabi SAW pun Bermusyawarah

Tidak akan merugi orang yang senang bermusyawarah, termasuk saat ada permasalahan di rumahtangga. Adapun pihak yang terlibat bisa disesuaikan dengan jenis dan berat tidaknya masalah yang dihadapi. Bisa hanya suami dengan istri atau ditambah pihak lain.

Dengan bermusyawarah solusi terbaik bisa didapatkan dan kezaliman bisa dihindarkan.

Ini pula yang kerap dijalankan Rasulullah saw. manakala beliau dihadapkan para persoalan pelik terkait urusan umat. Beliau tidak segan untuk mengajak istri-istri atau para sahabat untuk bermusyawarah.

Saat muncul fitnah kepada ‘Aisyah ra. (hadîts al-ifki) yang dihembuskan orang-orang munafik misalnya, beliau berkonsultasi dengan orang-orang terdekatnya, yaitu Ali bin Abi Thalib, Usamah bin Zaid dan Zainab. Beliau berkonsultasi dengan Barirah, orang yang sangat mengenal ‘Aisyah.

Nabi saw. pun tidak lupa berkonsultasi dengan sejumlah sahabat terkait kaum munafik yang tidak pernah bosan untuk merusak nama baiknya. “Apa pendapat kalian tentang sekelompok orang yang paling benci kepada istriku (‘Aisyah)? Sungguh, yang aku tahu, istriku ini orang baik-baik,” demikian tanya beliau kepada mereka. (Syaikh Musthafa Al-‘Adawy, Fikih Akhlak)

Apa yang beliau lakukan sesuai dengan apa yang Allah Ta’ala perintahkan:

“Maka disebabkan rahmat dari Allah lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.

Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaralah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakal lah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (QS Ali ‘Imrân, 3:159)

Amalan Paling Setia Bagi Seorang Mukmin

Tidak ada amalan yang setia menyertai seorang Mukmin selain kebersamaannya dengan Al-Quran. Dia tidak hanya menyertai di dunia! Saat seseorang mamasuki surga sekalipun, dia akan ikut serta.

Pada saat itu, kepada shahihul Quran akan dikatakan, “Bacalah dan naiklah, serta bacalah dengan tartil (jangan terburu-buru), sebagaimana engkau membacanya dengan tartil di dunia. Sesungguhnya, tempatmu (di surga) adalah pada akhir ayat yang engkau baca (hapal).” (HR Abu Dawud)

Maka, dalam hadits dari Aisyah ra. disebutkan bahwa tingkatan dalam surga-Nya Allah sesuai dengan jumlah ayat dalam Al-Quran. Ini artinya tidak ada yang lebih tinggi derajatnya di dalam surga Allah selain Ahlul Quran

Stop! Jangan Ungkit Luka Lama

Setiap orang punya masa lalu, punya pula aib atau kekurangan. Maka, di antara kunci keharmonisan, ketenteraman dan hadirnya rasa saling percaya di antara suami istri adalah tidak mengungkit-ungkit kesalahan, cela pada masa lalu, kekurangan diri atau hal-hal yang bisa membangkitkan kesedihan. Terungkitnya aib masa lalu bisa merusak kebahagiaan yang tengah dirasakan.

Lain halnya dengan kebaikan, kelebihan, memori indah, atau sesuatu yang membanggakan, kita diperbolehkan untuk membicarakannya atau mengingat-ingatkan kembali. Mengapa? Karena, itu bisa melahirkan rasa bahagia dan ketenteraman jiwa.

Maka, andai harus ada yang diungkit, ungkitlah kenangan indah, kelebihan atau kebaikan pasangan. Dijamin, hal ini akan lebih mempererat hubungan!

Serba Serbi Juz’Amma

Juz Amma adalah nama lain dari Juz 30 dalam mushaf. Penyebutan Juz Amma disangkutkan dengan kalimat pertama dari surat An-Naba’, yaitu ‘Amma yatasâ alûn.

Layaknya ayat-ayat, surat dan juz lainnya dari Al-Quran, Juz Amma memiliki keunikan dan karakteristiknya tersendiri. Berikut ini sejumlah banyak fakta menarik terkait juz paling akhir dari mushaf Al-Quran ini:

Juz ‘Amma terdiri dari 37 surat dengan redaksi yang pendek-pendek.

Dilihat dari urutan surat dalam Al-Quran, surat-surat dalam Juz ‘Amma dimulai dari surat nomer 78 (An-Naba’) dan berakhir di surat nomer 114 (An-Nâs).

Tiga surat pertamanya, yaitu An-Naba’ (40 ayat), An-Nâzi’at (46 ayat) dan ‘Abasa (42 ayat) menjadi surat terpanjang. Adapun surat terpendek adalah surat Al-Kautsar dan Al-Ikhlash.

Mayoritas surat dalam Juz ‘Amma tergolong surat Makkiyah karena diturunkan pada masa kenabian pertama (masa sebelum hijrah ke Madinah)

Ada dua surat dalam Juz ‘Amma yang tergolong surat Madaniyyah, yaitu Al-Bayyinah dan An-Nashr. Ada pula yang menambahkan dengan surat Al-Zalzalah.

Tema utama yang dibahas dalam surat-surat Juz ‘Amma adalah seputar akidah (pengesaan Allah) dan hari Akhir (hari Kiamat).