Jangan Memasukkan Ayam ke Dalam Kamar

Hal besar seringkali berawal dari hal-hal kecil yang dipelihara atau dibiarkan terjadi. Kasus perselingkuhan yang memicu pertengkaran dalam rumahtangga, bahkan sampai berakhir dengan perceraian, biasanya berawal dari pergaulan yang tidak terjaga dengan orang ketiga.

Itulah mengapa, amat penting bagi suami atau istri untuk menjaga pandangan, sikap dan pergaulan dengan lawan jenis. Mengapa? Karena hal ini adalah pintu awal menuju perselingkuhan dan efek ikutan lainnya. Salah satu efek yang ditimbulkan, minimal orang jadi kotor hati.

Maka, ada perumpamaan yang pas terkait hal ini. Kita jangan pernah memasukan ayam ke dalam rumah karena akan susah mengeluarkannya. Kita akan kerepotan sendiri dibuatnya. Andaipun bisa dikeluarkan, rumah akan kotor dan berantakan.

Begitu pula dengan hati. Apabila bibit-bibit perselingkuhan dibiarkan masuk ke hati dan dipelihara, hati akan kotor dan hubungan harmonis dengan pasangan yang sah bisa berantakan.

Jangan Segan untuk Meminta Maaf

DI antara ciri orang cerdas adalah dia yang senantiasa menimbang semua yang diperbuatnya dengan timbangan akhirat. Apakah yang dilakukannya akan membawa maslahat di akhirat atau malah mendatangkan mudharat? Kalau membawa manfaat, dia lanjutkan. Kalau membawa mudharat, dia hentikan.

Maka, andaikan dia terjerumus pada satu dosa, semisal terlanjur berbuat zalim kepada saudaranya, dia tidak akan segan untuk meminta maaf dan keridhaan orang yang dizalimi, apapun risikonya.

Mengapa? Agar di akhirat dia terbebas dari hukuman Allah.

Sesungguhnya, Rasulullah saw. pernah bersabda, “Siapa yang pernah berbuat aniaya (zalim) terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu apapun hendaklah dia meminta kehalalannya (pemaafannya) pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari di mana tidak lagi bermanfaat dinar dan dirham.

Jika dia tidak melakukannya, niscaya (pada Hari Kiamat) amal saleh akan diambil darinya sebanyak kezalimannya. Apabila dia tidak memiliki kebaikan lagi, maka keburukan orang yang dizaliminya itu akan diambil lalu ditimpakan kepadanya.” (HR Al-Bukhari, No. 2449)

Ssttt…Jangan Bicarakan Hal Ini pada Suami, Bahaya!

Ada banyak hal yang boleh dibicarakan seorang istri kepada suaminya. Namun, ada pula yang tidak boleh. Salah satunya adalah membicarakan kecantikan dan kelebihan wanita lain sehingga tergambar keadaan si wanita dalam benak suaminya.

Hal semacam ini bisa membangkitkan syahwat dan kepenasaran sang suami kepada wanita tersebut, atau setidaknya melahirkan angan-angan dan pikiran kotor.

Maka, Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah seorang istri menceritakan sifat-sifat wanita lain pada suaminya sehingga dia seolah-olah melihatnya.” (HR Al-Bukhari, No. 5240)

Al-Quran, Suplemen Terbaik bagi Diri

Al-Quran adalah suplemen terbaik bagi orang yang hati dan pikirannya terbuka. Semakin dibaca dan dihayati, niscaya akan semakin kuat pula kadar keimanan dalam dirinya.

“Sesungguhnya, orang-orang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal.” (QS An-Anfâl, 8:2)

Sosok Majikan Dambaan

Tidak akan pernah habis kita membicarakan keluhuran akhlak Rasulullah saw. termasuk sikap beliau kepada pembantunya. Kata dan sikap beliau senantiasa terjaga dalam kebaikan, tiada celaan, bentakan, apalagi hinaan dan pukulan.

Cukuplah kesaksian sahabat Anas bin Malik ra. sebagai bukti.

Anas bercerita, “Aku tidak pernah menyentuh sutra tebal dan sutra tipis yang lebih lembut daripada telapak tangan Rasulullah saw. Aku tidak pernah mencium bau harus yang lebih wangi dari serebaknya Rasulullah saw.

Sungguh, aku melayani Rasulullah saw. selama sepuluh tahun. Beliau tidak pernah sekalipun berkata, ‘Hus!’ kepadaku.

Beliau tidak pernah berkata pada sesuatu yang aku kerjakan (dengan kata-kata celaan), ‘Mengapa engkau lakukan ini?’

Tidak pula berkata pada sesuatu yang tidak aku lakukan, ‘Seharusnya engkau lakukan ini!'” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Kedalaman Makna Ash-Shamad

Siapa yang tengah galau hatinya atau resah gelisah qalbunya karena tumpukan aneka masalah yang memberatkan punggungnya, dia layak untuk membaca, merenungkan dan mengulang-ulang untuk membaca salah satu nama Allah, yaitu Ash-Shamad.

Sehingga, tertanam dalam hati dan pikiran bahwa Dialah Allah sebagai sebaik-baik penolong, pemberi, sandaran hidup, dan penuntas segala harapan.

Lalu, apa makna Ash-Shamad, sebagaimana sering kita baca dalam surat Al-Ikhlas ayat ke-2?

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menuliskan sejulamha makna dari Ash-Shamad, yaitu: (1) Yang bergantung kepada-Nya seluruh makhluk dalam kebutuhan dan permintaan, (2) Tuan yang Mahasempurna ketuanan-Nya lagi Yang Mulia lagi Mahasempurna kemuliaan-Nya.

Makna lainnya adalah (3) Yang Mahahidup dan Berdiri Sendiri yang tidak ada akhirnya, kemudian (4) Yang tidak diberi makan, dan (5) cahaya yang bersinar terang.

Agar Rumah Penuh Berkah

Boleh jadi, ada rumah yang sederhana tampilannya akan tetapi tampak nyaman, tenang dan memancarkan aura kebaikan. Apa sebabnya? Pasti karena aktivitas penghuninya. Ada Al-Quran yang sering dibacakan. Ada shalat malam yang rutin dikerjakan.

Ada sedekah yang istiqamah ditebarkan. Ada pula kebaikan yang rutin disebar bagi tetangga sekitarnya. Inilah yang menjadikan Allah menghadirkan cahaya pada rumah tersebut.

Maka, alangkah tepat apa yang Rasulullah saw. sabdakan, “Silaturahim, akhlak mulia dan berbuat baik kepada tetangga akan memakmurkan rumah dan menambah umur.” (HR Ahmad, Silsilah Ash-Shahihah, No. 519)