Berilah Mereka Cerita Gembira

Sahabat RSQ,

Setelah berumahtangga, kepada orangtua jangan hanya berbagi cerita sedih dan susah, tapi berbagilah cerita gembira bersama mereka walau sederhana. Sesungguhnya, susahnya anak akan membuat mereka susah. Sedihnya anak akan membuat mereka sedih.

Jangan sampai ketika susah kita curhat dan berkeluh kesah kepada mereka. Namun, ketika mendapatkan kebahagiaan, rezeki, anugerah dan aneka kebaikan kita menutup mulut kepada mereka.

Sesungguhnya, tiada yang paling berhak mendapat cerita bahagia dari kita kecuali mereka. Rasulullah saw. bersabda, “Jika kalian melihat (atau mendapatkan) sesuatu yang menggembirakan, maka dia hanya boleh menceritakannya kepada orang yang dicintainya.”

Susah Taat Gampang Maksiat

Sahabat TASQ,

Ada orang yang susah sekali diajak taat, akan tetapi sangat mudah diajak maksiat. Untuk ibadah dia sangat lemah. Namun, untuk hal sia-sia atau perbuatan dosa dia sangat kuat dan bersemangat.

Boleh jadi, semua berawal dari tidak terbiasanya dia berzikir kepada Allah, termasuk saat mengawali sebuah aktivitas, sehingga tidak ada benteng antara dia dengan setan.

Pada akhirnya, setan senantiasa membersamainya: saat makan dia ikut makan. Saat minum dia ikut minum. Dia pun menjadi kuat daya cengkeramnya sehingga bisa dengan mudah menguasai orang tersebut. Ketika sudah menguasainya, setan akan dengan mudah mengarahkannya sesuai kehendak dia.

Ibnu Abid Dunya menyampaikan sebuah kisah dari salah seorang ulama salaf. Dia mengatakan:

“Setan gemuk bertemu dengan setan kurus, lalu dia bertanya, ‘Mengapa engkau terlihat begitu kurus?’

Setan kurus ini menjawab, ‘Aku menyertai seorang laki-laki yang selalu menyebut nama Allah ketika hendak makan sehingga aku tidak bisa makan bersamanya. Dia juga menyebut nama Allah ketika hendak minum sehingga aku tidak bisa minum bersamanya. Ketika masuk rumah, dia pun menyebut nama Allah sehingga aku hanya bisa bermalam di luar rumah.’

Setan gemuk berkata, ‘Adapun diriku, aku menyertai seorang laki-laki yang tidak pernah menyebut nama Allah ketika hendak makan sehingga aku bisa makan bersamanya. Apabila dia minum, dia pun tidak menyebut nama Allah sehingga aku bisa minum bersamanya.

Dia tidak menyebut nama Allah saat masuk ke rumahnya sehingga aku bisa masuk bersamanya. Apabila dia menyetubuhi istrinya, dia tidak menyebut nama Allah sehingga aku pun bisa ikut menyetubuhinya’.” (Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, ‘Uddatush Shâbirîn)

Kiat Menjaga Keharmonisan dengan Saudara

Persaudaraan membawa rahmat. Perpecahan dan permusuhan membawa keburukan, ketidaktenangan dan aneka keburukan.

Maka, menjaga persaudaraan bukan hanya kewajiban, akan tetapi sebuah keutamaan yang akan menyempurnakan akhlak seorang Muslim.

Adapun penggerak dan penguat persaudaraan adalah hadirnya kasih sayang. Tanpa hadirnya kasih sayang di antara sesama, persaudaraan tidak akan pernah terwujud. Maka pantas apabila menebar kasih sayang adalah perbuatan yang amat dicintai Allah.

Rasulullah saw. bersabda, “Orang-orang yang saling berkasih sayang akan disayang oleh Zat Yang Maha Penyayang. Maka, sayangilah yang di bumi niscaya yang di langit akan menyanyangi kalian.” (HR Abu Dawud, No. 4941)

Lalu, apa saja yang dapat kita lakukan untuk menumbuhsuburkan rasa kasih sayang dengan sesama? Setidaknya ada lima cara.

Pertama, lihatlah selalu sisi positif orang lain. Kedua, jangan pelit untuk mendoakan kebaikan. Ketiga, saling mengunjungi dan memperkuat tali silaturahmi. Keempat, saling memberi hadiah. Kelima, senang membantu orang yang tengah kesusahan.

Kebenaran yang Tak Layak di Ungkapkan

Tidak semua yang kita tahu harus diucapkan dan diinformasikan kepada orang lain. Ada hal-hal yang harus kita simpan dalam diri walaupun itu benar adanya. Kecuali, ada kondisi yang mengharuskan kita untuk mengungkapkannya.

Satu di antaranya adalah kebaikan, kelebihan, dan amal-amal diri. Sebisa mungkin jangan diumbar karena bisa menjatuhkan kita pada ujub, riya dan takabur. Orang lain pun biasanya tidak suka kepada orang yang membicarakan kebaikan dirinya.

Maka, ada satu nasihat dari Ali bin Abi Thalib ra. “Sesuatu yang tidak baik diungkapkan walaupun benar: memuji diri sendiri.”

Dua Fitnah Istri bagi Suami

Sebaik-baik istri adalah dia yang tidak menjadi fitnah bagi suaminya. Dalam hal apa? Menurut Imam Al-Qurthubi, dalam Al-Jami’ul Ahkam lil Quran, ada dua fitnah dalam diri wanita bagi suaminya. Pertama, memutuskan silaturahim dengan ibu dan saudara-saudaranya. Kedua, mendorong suaminya untuk menumpuk harta, baik dengan cara halal maupun haram.

Seorang istri terbaik adalah dia yang terjaga dari kedua fitnah tersebut. Alih-alih mendatangkan fitnah, dia mampu mengondisikan suaminya untuk menjalin silaturahim dengan orangtua dan menjaga suami dari mengambil harta haram.

Tiga Nasihat Rasulullah saw. Bagi yang Hendak Tidur

Bagi orang beriman, ada banyak jalan kebaikan. Ada banyak peluang pahala dan keberkahan yang bisa didapatkan. Salah satunya, dan ini kerap dilupakan banyak orang, adalah menjalankan adab-adab tidur sebagaimana yang dicontohkan dan diwasiatkan oleh Rasulullah saw.

Salah satunya adalah sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Barra bin Azib ra. Dia mengatakan bahwa Rasulullah saw. memberinya nasihat agar (1) berwudhu sebelum tidur seperti wudhu ketika akan shalat, (2) lalu tidur dengan cara berbaring di atas tubuh bagian kanan, dan (2) menutupnya dengan doa. (HR Al-Bukhari, No. 247 dan Muslim, No. 2710)

Siapa bisa menunaikannya dengan istiqamah, tidak hanya pahala yang akan dia dapatkan, tetapi juga penjagaan dari Allah, doa-doa malaikat, kebugaran tubuh dan beragam kebaikan lainnya.

Berlaku Adillah!

Dari Nu’man bin Basyir ra. bahwa ayahandanya pernah membawanya kepada Rasulullah saw. lalu berkata, “Sesungguhnya, aku telah memberikan seorang budak kepada anakku ini (yaitu kepada Nu’man).”

Nabi saw. lalu bertanya, “Apakah semua anakmu engkau berikan hal yang serupa?”

“Tidak,” jawabnya.

Maka, Nabi saw. bersabda, “Jika demikian, ambillah kembali pemberianmu!”

Dalam riwayat lain, Nabi saw. bersabda, “Bertakwalah kepada Allah dan berlaku adillah kepada anak-anakmu.”

Kemudian ayahku pulang lantas mengambil kembali pemberian itu. (HR Muttafaqun ‘Alaih)