Bolehkah Membuka Hape Suami ?

Sahabat RSQ,

Seorang istri diperbolehkan untuk membuka-buka hape suami. Namun, ada syaratnya? Suami mengizinkannya! Karena, hape dengan segala konten yang ada di dalamnya termasuk ranah pribadi suami. Tidak layak bagi seorang istri untuk membuka-bukanya tanpa seizin pemiliknya.

Jangan sampai kita termasuk orang yang berburuk sangka dan senang mencari-cari kesalahan orang lain, terlebih lagi kepada pasangan sendiri. Allah Ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain.” (QS Al-Hujurât, 49:12)

Rasulullah saw. pun bersabda, “Jauhilah oleh kalian prasangka, sebab perasangka itu adalah ungkapan yang paling dusta. Dan janganlah kalian mencari-cari aib orang lain.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Bagaimana solusinya? Di sinilah pentingnya hadir saling percaya di antara pasutri (pasangan suami istri). Buatlah pasangan nyaman dan tidak mudah berpaling. Istri harus berusaha untuk melayani suami seoptimal mungkin.

Demikian pula suami, hendaknya mampu memegang amanah dan tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Jangan lupakan pula untuk saling mengingatkan dan berwasiat dalam kebaikan.

Ketika Rezeki Mengejar Kita Setiap Hari

Sahabat TASQ,

Kita kerap mengeluh karena masalah yang seakan tak kenal lelah mengejar kita. Namun, tidak banyak yang sadar kalau masalah yang mengejar kita jauh lebih sedikit daripada rezeki yang mengejar kita.

Mengapa demikian? Sesungguhnya, setiap manusia sudah ditetapkan jatah rezekinya. Seseorang tidak akan mati sebelum jatah rezekinya sempurna diberikan.

Rasulullah saw. bersabda, “Wahai manusia bertakwalah kepada Allah dan pilihlah cara yang baik dalam mencari rezeki, karena tidaklah suatu jiwa akan mati sehingga terpenuhi rezekinya, walau lambat rezeki tersebut sampai kepadanya …” (HR Ibnu Majah)

Maka, kalau sudah ada jatahnya, rezeki akan mendatangi kita walau jauh. Rezeki akan menghampiri kita walau dihalang-halangi. Dan, hal ini terjadi setiap harinya.

Mengapa kita tidak menyadarinya? Karena makna rezeki kita hanya sebatas materi: uang, barang, harta kekayaan. Manakala semua ini tidak berhasil didapatkan, kita pun berkesimpulan kalau rezeki kita seret. Padahal, uang dan barang hanya sebagian kecil saja dari rezeki.

Kesehatan adalah rezeki, ilmu, persahabatan, anak keturunan, orang yang menyayangi, udara, air, adalah bagian dari rezeki.

Jangan Suka Bikin Baper Orang Lain!

Sahabat RSQ,

Kita dilarang berburuk sangka kepada saudara seiman. Namun, pada saat yang sama kita pun dilarang melakukan hal yang bisa membuat orang lain syak (ragu), curiga atau berburuk sangka kepada kita.

Ada satu pesan dari Nabi saw., “Jika kalian bertiga, janganlah dua orang berbisik-bisik tanpa yang ketiga sampai kalian berbaur dengan orang banyak. Yang demikian itu agar tidak membuatnya sedih.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Inilah akhlak Nabi saw. yang beliau ajarkan kepada kita, umatnya. Jika dua orang berbisik tanpa melibatkan orang ketiga, boleh jadi setan akan merasuki orang ketiga dengan mengatakan kepadanya, “Jangan-jangan mereka berdua membicarakanmu atau ingin mencelakakanmu dengan ini atau itu!”

Hal ini berlaku bagi empat orang, di mana tiga orang tidak boleh ngobrol atau berbisik-bisik dengan meninggalkan yang satu orang; demikian pula dengan lima, enam, atau jumlah orang yang lebih banyak. Hal ini dilakukan untuk menjaga perasaan orang lain agar dia tidak sedih atau merasa dikucilkan. (Fikih Akhlak, Syaikh Musthafa Al-‘Adawy)

Kunci Pembuka Rezeki : Jagalah Persaudaraan!

Sahabat TASQ,

Sahabat seribu terlalu sedikit. Musuh satu terlalu banyak. Maka, siapa yang ingin bahagia hatinya, lapang dadanya, mudah rezekinya, dan tenang hidupnya, layak baginya untuk memperbanyak jalinan persahabatan dan menjauhi permusuhan, apalagi dengan saudara seiman.

Al-Asma’i menuturkan, “Aku pernah mengunjungi Imam Khalil bin Ahmad. Saat itu, beliau tengah duduk di atas tikar yang sempit. Beliau berkata, ‘Duduklah di sini bersamaku’.”

“(Kalau aku duduk bersamamu), aku akan semakin mempersempit dirimu,” ujar Al-Asma’i.

Khalil bin Ahmad berkata kembali, “Dunia yang seluas ini tidak akan cukup (akan terasa sempit) bagi dua orang yang bermusuhan. Namun, sejengkal kali sejengkal jarak akan cukup bagi dua orang yang saling mencintai.” (Abu Hayyan Al-Tauhidi, Al-Bashair wa Adz-Dzakhair).

Bawalah Istrimu ke Surga, Wahai Para Suami!

Sahabat RSQ,

Apa tugas terbesar seorang suami? Hanya satu, mengusahakan agar istri dan anak-anaknya bisa masuk surga bersamanya! Adapun memberinya makan, minum, pakaian, tempat tinggal, dan aneka kebutuhan hidup lainnya, itu adalah sebagian saja dari upaya untuk menggapai misi besar tersebut.

Maka, cukuplah firman Allah Ta’ala sebagai pemantik motivasi dan membakar semangat bagi kita untuk menggapai surga, “Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). Mereka dan istri-istri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan.” (QS Yâsîn, 36:55-56)

Tragedi Terbesar Seorang Manusia : Mati Tanpa Membawa Iman

Sahabat TASQ,

Tiada hal paling menyedihkan dalam hidup seorang manusia, kecuali dia hidup dalam naungan Islam. Namun, di ujung usianya Allah mencabut nikmat hidayah darinya. Dia pun keluar dari dunia bukan sebagai seorang Muslim. Dia pergi ke akhirat tanpa membawa sedikit pun bekal.

Maka, Mahabenar Allah dengan segala firman-Nya. “Siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya …” (QS Al-Baqarah, 2:217)

Durhaka Tanpa Terasa

Sahabat RSQ,

Berhati-hatilah apabila orangtua tidak pernah lagi menegur, menyuruh atau meminta bantuan kepada kita. Mereka bukannya tidak ingin, tapi boleh jadi mereka “takut” atau bahkan “trauma” dengan “kedurhakaan” kita, anaknya!

Mereka takut meminta karena kita lebih sering menolak daripada mengabulkan permintaannya.

Mereka takut menegur karena setiap kali ditegur kita malah berbalik marah dan berucap sumpah serapah.

Mereka pun takut menyuruh karena setiap disuruh kita menampakan wajah tak ramah kepadanya.

Jika demikian, segeralah bertobat kepada Allah, mintalah permohonan maaf kepada orangtua, lalu berjuanglah untuk membahagian hati mereka sebagai bentuk penebusan dosa kita.