Tuntaskan Hajatmu dengan Mendoakan Saudaramu

Sahabat RSQ,

Tak kunjung menikah? Perbanyaklah mendoakan teman yang masih jomblo agar segera menikah.

Tak kunjung punya anak? Perbanyaklah mendoakan orang yang senasib agar segera punya anak.

Apa pun masalah kita, dan masalah itu ada pada saudara kita, doakan agar Allah memudahkan dan menyelesaikan masalahnya.

Mengapa demikian?

Sesungguhnya, Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada seorang Muslim pun yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata: Dan bagimu juga kebaikan yang sama.” (HR Muslim, No. 2731)

Dalam hadits lain disebutkan pula, “Doa seorang Muslim untuk saudaranya yang tidak ada di hadapannya pasti dikabulkan (Allah). Di dekat kepala orang tersebut ada malaikat yang diberi tugas untuk itu. Setiap kali seorang Muslim berdoa kebaikan untuk saudaranya, maka malaikat yang diberi tugas itu berkata: Âmîn, dan untukmu seperti doa itu.” (HR Muslim, No. 2733)

#Ingin berlangganan Tausiyah Harian dari Team Tasdiqul Quran,

#INFORMASI TAUSIYAH HARIAN

📲HUBUNGI CHAT WA : 0812.2367.9144

Semoga informasi ini bermanfaat ya.

Tiga Orang yang Diperbolehkan untuk Meninta-minta

Sahabat TASQ,

Meminta-minta termasuk perbuatan tercela dalam Islam. Rasulullah saw. memberi peringatan, “Barang siapa membukakan bagi dirinya pintu meminta-minta tanpa kebutuhan yang mendesak, atau bukan karena kemiskinan yang (disebabkan) ketidakmampuannya untuk bekerja, niscaya Allah akan membukakan baginya pintu kemiskinan dari jalan yang tidak disangka-sangka.” (HR Al-Baihaqi dalam Shahih Targhib wat Tarhib, 1:195)

Namun demikian, seseorang dibolehkan meminta dalam keadaan darurat. Hal ini sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Qabishah bin Mukhariq Al-Hilali ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda kepadanya:

“Wahai Qabishah, sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal, kecuali bagi salah satu dari tiga orang: (1) Seseorang yang menanggung hutang orang lain, dia boleh meminta-minta sampai dia melunasinya, kemudian berhenti, (2) Seseorang yang ditimpa musibah yang menghabiskan hartanya, dia boleh meminta-minta sampai dia mendapatkan sandaran hidup.

Dan, (3) seseorang yang ditimpa kesusahan hidup sehingga ada tiga orang berakal dari kaumnya mengatakan, ‘Si Fulan telah ditimpa kesengsaraan hidup,’ maka dia boleh meminta-minta sampai mendapatkan sandaran hidup.

Meminta-minta selain untuk ketiga hal itu, wahai Qabishah, adalah haram. Dan, orang yang memakannya dia dianggap memakan yang haram.” (HR Muslim, Abu Dawud, Ahmad, An-Nasa’i, dan selainnya)

#Ingin berlangganan Tausiyah Harian dari Team Tasdiqul Quran,

📲HUBUNGI CHAT WA : 0812.2367.9144

📌 Informasi Link Program dan Media Sosial
📲 tasdiqulquran.or.id/social-media

Semoga informasi ini bermanfaat ya.

Ciri Anak Saleh, Istiqomah Mendoakan Orang Tuanya

Sahabat RSQ,

Orangtua mana yang tidak ingin anak keturunannya menjadi orang-orang saleh? Pasti semuanya ingin! Namun, untuk memiliki anak-anak semacam ini, tidak bisa menggunakan cara instant. Ada proses panjang yang harus dijalani. Ada syarat dan ketentuan yang berlaku.

Satu yang utama adalah sebelum menuntut anak untuk menjadi orang saleh, salehkanlah diri kita terlebih dahulu. Salah satunya dengan istiqamah dalam mendoakan kedua orangtua kita. Bukankah status kita adalah anak di hadapan mereka? “… dan anak saleh yang mendoakan kedua orangtuanya.” (HR Muslim)

Kesungguhan kita dalam mendoakan kedua orangtua boleh jadi menjadi sebab hadirnya kesalehan bagi anak keturunan kita. Sehingga, mereka pun senang mendoakan kebaikan kita sebagai orangtuanya.

Dan, cukuplah perkataan sabahat Ibnu Abbas ra. sebagai pemotivasi. “Sungguh aku tidak mengetahui satu amalan pun, yang bisa lebih mendekatkan diri pada Allah Ta’ala, dari berbakti pada kedua orangtua.”

#Ingin berlangganan Tausiyah Harian dari Team Tasdiqul Quran,


📲HUBUNGI CHAT WA : 0812.2367.9144

📌 Informasi Link Program dan Media Sosial
📲 tasdiqulquran.or.id/social-media

Semoga informasi ini bermanfaat ya.

Jangan Biarkan Orang Lain Menutut Kita di Akhirat

Sahabat TasQ,

Tas ada yang mencuri saja kita sudah sedih. Motor ada yang mengambil saja hati kita remuk. Lalu, bagaimana pula saat amal-amal kebaikan kita diambil dan diserahkan kepada orang lain pada hari Kiamat? Sedihnya tak terbayangkan!

Kabar baiknya, hal ini bisa dihindari sedari sekarang. Bagaimana caranya? Jangan berbuat zalim. Hindari berlaku aniaya. Jangan menyakiti orang lain. Hanya dengan cara inilah kita bisa selamat dari tuntutan orang-orang yang terzalimi saat di akhirat kelak.

Maka, ada nasihat yang sangat berarti dari Rasulullah saw. Beliau bersabda, “Orang yang berbuat zalim kepada saudaranya baik dalam urusan harta atau lainnya, hendaknya dia minta agar saudaranya menghalalkannya hari itu juga, sebelum tidak berguna lagi dinar dan dirham (pada hari pengadilan Allah Ta’ala). Yaitu, ketika amal salehnya diambil sesuai kadar kezalimannya. Jika dia tak memiliki kebaikan, maka keburukan orang yang dizalimi itu diambil lalu ditimpakan padanya.” (HR Al-Bukhari

#Ingin berlangganan Tausiyah Harian dari Team Tasdiqul Quran,

HUBUNGI CHAT WA: 0812.2367.9144

Informasi Link Program dan Media Sosial

tasdiqulquran.or.id/social-media

Semoga informasi ini bermanfaat ya.

Bersabarlah..

Sahabat RSQ,

Ujian hidup, termasuk dalam kehidupan rumahtangga, adalah tangga utama bagi seorang hamba untuk menggapai keridhaan dan surga-Nya. Siapa bersabar menjalaninya, ada surga di penghujungnya.

“Salâmun ‘alaikum bimâ shabartum (keselamatan atasmu berkat kesabaranmu). Maka, alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS Ar-Ra’d, 13:24)

Adapun makna bersabar di sini adalah menahan diri untuk tidak berkeluh kesah, tidak berburuk sangka dan berputus asa dari rahmat-Nya, termasuk pula bersabar untuk terus mendekat kepada-Nya dan berikhtiar mencari solusi di jalan yang diridhai-Nya.

#Ingin berlangganan Tausiyah Harian dari Team Tasdiqul Quran,


📲HUBUNGI CHAT WA : 0812.2367.9144

📌 Informasi Link Program dan Media Sosial
📲 tasdiqulquran.or.id/social-media

Semoga informasi ini bermanfaat ya.

Jangan Lupa, Allah Maha Melihat Lagi Maha Mengawasi!

Sahabat TasQ,

Allah Maha Melihat, Maha Mendengar lagi Maha Mengawasi semua yang kita lakukan. Maka, jangan sampai kita sangat yakin bahwa Allah Maha Mendengar saat kita berdoa. Namun, mendadak lupa kalau Allah Maha Melihat lagi Maha Mengawasi saat kita bermaksiat kepada-Nya.

Terungkap dalam Al-Quran, “Tidakkah engkau sadari bahwa sesungguhnya Allah Mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidaklah ada pembicaraan (rahasia) antara tiga orang, melainkan Dia yang keempat, dan tidak lima orang melainkan Dia yang keenam, tidak kurang dan tidak lebih daripada itu, melainkan Dia beserta mereka, di mana pun mereka berada.” (QS Al-Mujadalah, 58:7)

#Ingin berlangganan Tausiyah Harian dari Team Tasdiqul Quran,

HUBUNGI CHAT WA: 0812.2367.9144

Informasi Link Program dan Media Sosial

tasdiqulquran.or.id/social-media

Semoga informasi ini bermanfaat ya.

Seperti Apakah Candaan Anak-Anak Palestina?

Sahabat RSQ,

Ada banyak orang berkata saat melihat “penderitaan” orang Palestina, terkhusus anak-anaknya, yang terus dizalimi Zionis Israel, “Kasihan anak-anak Palestina ya! Mereka tidak bisa sekolah, bermain dan hidup secara layak sebagaimana kita di Indonesia.”

Secara duniawi atau dalam sudut pandang kemanusiaan memang demikian. Namun, dari sudut pandang keimanan, sejatinya mereka telah dimuliakan Allah. Dan, kita yang seharusnya mengevaluasi diri. Jangan-jangan kitalah yang patut untuk dikasihani. Mengapa?

Inilah anak-anak Palestina. Mereka makan roti yang kadang harus dibagi 16 potong. Mereka yang kesusahan air dan kadang airnya diracuni Israel. Ternyata, mereka adalah produk penghafal Al-Quran nomor satu di dunia.

Sejak kecil mereka sudah menghapal Al-Quran, didekatkan oleh orangtuanya dengan Al-Quran. Dan, perhatikanlah candaan mereka saat berkumpul dengan teman-temannya. Kalau ada yang sudah hafal 30 Juz, mereka akan berkata kepada anak yang baru hafal 10, 15, 20, 25 Juz atau yang ada di bawahnya, “Kalau aku sudah di atas (di level surga yang paling atas), kamu saya dadahin ya di bawah.”

Karena, mereka amat yakin dengan apa yang disabdakan Rasulullah saw. bahwa tingkatan di surga ditentukan oleh seberapa banyak hafalan Al-Quran yang mereka miliki.

“Akan dikatakan kepada shahibul Quran (di akhirat), ‘Bacalah dan naiklah, bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membaca dengan tartil di dunia. karena kedudukanmu tergantung pada ayat terakhir yang engkau baca’.” (HR Abu Dawud 2240, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abi Daud)

Lalu, kita dan anak-anak kita sudah sampai dimana hafalan dan pengamalan Al-Qurannya?

#Ingin berlangganan Tausiyah Harian dari Team Tasdiqul Quran,


📲HUBUNGI CHAT WA : 0812.2367.9144

📌 Informasi Link Program dan Media Sosial
📲 tasdiqulquran.or.id/social-media

Semoga informasi ini bermanfaat ya.