Bangunlah 30 Menit Lebih Awal

Sahabat RSQ

Dalam tiga puluh menit pada pagi atau subuh hari, apa banyak hal yang bisa kita lakukan. Kita bisa shalat Tahajud, baca Al-Quran, zikir, atau setidaknya bisa lebih tenang dalam bersuci dan mempersiapkan diri untuk pergi ke masjid. Dalam waktu 30 menit pula, kita bisa beres-beres rumah atau melakukan hal bermanfaat lainnya.

Maka, jangan remehkan waktu 30 menit. Andaikan kita bisa 30 menit bangun lebih awal, ada banyak keberkahan yang kita dapat. Ada banyak kebaikan yang bisa kita raih. Dan, tentu saja, ada banyak pahala yang bisa kita bawa pulang.

Ini pula yang bisa orangtua tanamkan dan biasakan kepada anak-anaknya. Kalau anka biasa bangun jam 6 pagi, cobalah dia beri tantangan untuk bisa bangun jam 05.30. Kalau sudah bisa bangun jam 05.30, tantang dia untuk bisa bangun jam 05.00, dan seterusnya. Sampai, dia bisa bangun pada sepertiga malam terakhir. Dan, itu bisa menjadi kebiasaan hariannya.

#INFORMASI TAUSIYAH HARIAN

📲HUBUNGI CHAT WA : 0812.2367.9144

Semoga informasi ini bermanfaat ya.

Saat Fisik dan Hati Tidak Sejalan

Sahabat RSQ,

Suami istri, bisa jalan bareng itu biasa. Bisa makan bareng itu tak istimewa. Tapi, bisa khatam Al-Quran bareng, itu baru luar biasa.

Kalau belum bisa sebulan sekali, cukuplah setahun sekali, pas Ramadhan. Kalau tetap belum bisa, minimal sekali dalam seumur hidup.

Jangan sampai keberkahan khataman Al-Quran tidak pernah kita cicipi bersama pasangan dan keluarga.

Ada satu teladan dari sahabat Anas bin Malik ra. Jika sudah mendekati dalam mengkhatamkan Al-Quran pada malam hari, beliau menyisakan sedikit dari Al-Quran, sehingga ketika subuh hari beliau mengumpulkan keluarganya dan mengkhatamkannya bersama mereka. (HR Ad-Darimi dari Tsabit Al-Banani)


#INFORMASI TAUSIYAH HARIAN

📲HUBUNGI CHAT WA : 0812.2367.9144

Semoga informasi ini bermanfaat ya.

Cukup Satu Istri, Jika…

Sahabat RSQ,

Kalau sanggupnya hanya satu istri, mengapa harus dua?

Kalau dengan satu istri, seorang laki-laki sudah terjaga kesucian dirinya, sudah bahagia hidupnya, mengapa pula dia harus mencari yang kedua?

Asy-Syaikh Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili, dalam Fikih Islam wa Adillatuhu, menuliskan:

“(Seorang laki-laki) hendaknya tidak menikahi lebih dari satu perempuan, apabila dengan hal itu kesucian dirinya sudah dapat terjaga. Karena, menikahi dua perempuan (apabila tidak bisa berbuat adil) bisa menyebabkan seseorang terjerumus pada keharaman (QS An-Nisâ’, 4:129).”

Saat seorang lelaki tidak bisa adil kepada istri-istrinya, berlaku kepadanya sabda Nabi saw. “Siapa mempunyai dua istri, kemudian dia lebih condong kepada salah satu dari keduanya (tidak berbuat adil), kelak pada hari Kiamat dia akan datang dalam keadaan miring sebelah.” (HR Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan lainnya)

#INFORMASI TAUSIYAH HARIAN

📲HUBUNGI CHAT WA : 0812.2367.9144

Semoga informasi ini bermanfaat ya.

Jaga Niat, Pahala Kan Kau Dapat

Sahabat TASQ,

Dari mana datangnya kapal? Dari laut masuk ke pelabuhan. Dari mana datangnya amal? Dari niat masuk ke perbuatan.

Tidak sah ibadah kita apabila tidak disertai niat karena Allah. Maka, niat menjadi bagian pembuka dari sebuah amal. Lurus niatnya, lurus pula amalnya, sempurna pula pahalanya. Bengkok niatnya, bengkok pula amalnya dan hilang pula pahalanya.

Maka, jangan biarkan kita beramal, kecuali diniatkan karena mengharap ridha Allah. Sesungguhnya, Rasulullah saw. telah bersabda, “Sesungguhnya seluruh amal itu tergantung kepada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai niatnya … ” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

#Ingin berlangganan Tausiyah Harian dari Team Tasdiqul Quran,

#INFORMASI TAUSIYAH HARIAN

📲HUBUNGI CHAT WA : 0812.2367.9144

Semoga informasi ini bermanfaat ya.

Akankah Orangtua Kita Bertanya Demikian?

Sahabat RSQ,

Dalam sebuah tayangan televisi, seorang penghapal Al-Quran yang lumpuh kedua kakinya ditanya, “Apa yang memotivasi Anda untuk menghapal Al-Quran?”

Dia menjawab, “Kedua orangtua saya sudah lama meninggal dan saya belum sempat memuliakannya. Maka, saya amat merindukan kalau kelak dapat memberikan hadiah terindah untuk mereka, yaitu mahkota dari cahaya.”

“Apa maksudnya? ” ujar si penanya.

“Saya teringat akan janji Rasulullah saw. bahwa siapa orang yang menghapal Al-Quran, yang mempelajari, dan mengamalkan isinya, pada hari Kiamat kelak, dia akan diperkenankan untuk memakaikan kedua orangtuanya mahkota dari cahaya. Sinarnya laksana cahaya matahari.

Apa yang dikatakan pemuda penghapal Al-Quran ini adalah hadits Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim.

“Siapa yang menghapal Al-Quran, mengkajinya dan mengamalkannya, niscaya Allah akan memberikan mahkota bagi kedua orangtuanya dari cahaya yang terangnya seperti matahari. Dan, kedua orangtuanya akan diberi dua pakaian yang tidak bisa dinilai dengan dunia seisinya.

Kemudian, kedua orangtuanya bertanya, ‘Mengapa saya sampai diberi pakaian semacam ini?’ Lalu disampaikan kepadanya, ‘Disebabkan anakmu telah mengamalkan Al-Quran’.” (HR Al-Hakim 1/756)

Akankah orangtua kita atau bahkan diri kita akan bertanya demikian kepada Allah Ta’ala di akhirat kelak? Semoga Saja. Syaratnya kita menjadi ahli Al-Quran dan anak keturunan kita pun menjadi pecinta Al-Quran.

Bagikan tulisan ini jika bermanfaat,

#Ingin berlangganan Tausiyah Harian dari Team Tasdiqul Quran

📲HUBUNGI CHAT WA : 0812.2367.9144

Semoga informasi ini bermanfaat ya.

Jaga Matamu agar Selamat Hatimu

Sahabat TASQ,

Mata yang tidak terjaga adalah sumber masalah dalam hidup. Akibat pandangannya, hati menjadi keras, ibadah tidak khusyuk, resah gelisah, tidak lagi peka, dan susah diajak taat kepada Allah.

Maka, siapa yang ingin bersih hatinya, tenang qalbunya, dan khusyuk ibadahnya, wajib bagi dia untuk menjaga pandangan dari hal-hal yang diharamkan. Bagaimana tidak, hati adalah gerbang hati. Kalau gerbang itu rusak, rusaklah apa yang ada dalam diri.

Itulah mengapa, Al-Quran menasihatkan, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka … ” (QS An-Nûr, 24:30)

Bagikan tulisan ini jika bermanfaat,

#Ingin berlangganan Tausiyah Harian dari Team Tasdiqul Quran

📲HUBUNGI CHAT WA : 0812.2367.9144

Semoga informasi ini bermanfaat ya.

Ajari Anak Etika Mengucapkan Salam

Sahabat RSQ,

Salam adalah bagian penting dalam menjalin pergaulan dengan sesama. Siapa terampil menggunakannya, dia akan mendapati banyak kebaikan dalam hidupnya. Namun, siapa pelit menggunakannya, tidak ada yang dia dapatkan selain kerugian.

Maka, orangtua layak mengajari anak-anaknya etika mengucapkan salam dan bagaimana menjawabnya karena di dalamnya ada sunnah Rasulullah saw. yang mulia.

Dikisahkan bahwa satu ketika, Anas bin Malik ra. melewati sekelompok anak kecil. Dia kemudian mengucapkan salam kepada mereka dan berkata, “Rasulullah saw. pernah melakukan hal itu.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Orangtua pun dapat mengajar mereka untuk mengucapkan salam kepada orang yang lebuh tua ketika berjumpa!

Ini sebagaimana sabda Nabi saw. bahwa, “Anak kecil mengucapkan salam kepada orang yang lebih tua. Orang yang berjalan memberi salam kepada orang yang duduk. Dan, orang yang sedikit mengucapkan salam kepada orang yang banyak.” (HR Al-Bukhari)

Bagikan tulisan ini jika bermanfaat,

#Ingin berlangganan Tausiyah Harian dari Team Tasdiqul Quran

📲HUBUNGI CHAT WA : 0812.2367.9144

Semoga informasi ini bermanfaat ya.